Senin, 18 Desember 2023

Membaca ulang buku teknik retorika

Setelah saya menulis tadi malam, saya ingat bahwa saya punya buku retorika karya pak Jalaludin Rahmat. Saya cari-cari buku itu, akhirnya ketemu.
Saya ingin mempelajari lagi buku itu. Sebenarnya, sudah saya baca. Namun, mungkin saya jarang praktik, semua yang dibaca itu lupa. Saya nggak ingat lagi nasihat-nasihat yang disampaikan buku itu.

Tentu saya punya tujuan. Saya mencoba mencari buku itu karena saya merasa buntu. Ketika menulis, saya merasa sulit untuk mengembangkan ide. Ketika saya latihan berbicara pun, masalahnya sama. Kesulitan untuk mengembangkan ide. 

Ide itu memang gampang-gampang susah. Kita punya perasaan kesal misalnya. Itu juga merupakan ide. Bisa dijadikan topik pembicaraan. Tulisan ini pun berasal dari kekesalan saya karena sulit untuk mengembangkan ide. Tidak jarang ketika menulis, baru beberapa paragraf, saya sudah bingung untuk melanjutkannya. Saya mencoba berbicara di depan kamera, baru beberapa menit, sudah bingung. Selanjutnya saya mau berbicara apa lagi.

Saya sebenarnya sudah bisa menangani permasalahan-permasalah umum yang sering di alami penulis. Saya sudah tidak takut lagi menghadapi kertas kosong. Saya sudah mampu mengisinya. Namun, saya merasa nggak ada perkembangan. Saya hanya mampu menulis beberapa paragraf.

Bisa jadi, yang saya sampaikan itu keterangan atau penjelasannya masih pada tingkat kulit. Masih ringan-ringan. Belum terlalu dalam. Saya ingin lebih dari itu. Mengupas permasalahan secara dalam.

Bukan hanya itu, saya juga ingin topik yang saya sampaikan bisa sampai pada pembaca. Menarik perhatian. Dan, enak untuk dibaca. Begitu juga dengan percakapan. Ketika saya menyampaikan sebuah ide lewat video, saya nggak mau menyampaikannya dengan gaya atau cara yang monoton dan membosankan.

Bagaimana caranya? salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan belajar teknik retorika. 

Saya punya buku itu. Tidak banyak. Hanya satu. Namun, menurutku cukup untuk belajar retorika. 

Sayangnya, saya jarang memperaktikannya. Sehingga, saya tidak mendapatkan ilmu itu.

Sekarang saya sadar. Buku itu tidak hanya sekedar dibaca. Bukan hanya sekedar penghias akal. Tapi, itu semua perlu dipraktikan. Perlu diamalkan. Saya tidak akan mendapatkan manfaat dari bahan bacaan itu bila hanya sekedar membaca dan tidak mencoba untuk mempraktikannya.

Secara teori, saya sudah tahu bagaimana teknik berpidato, mencari ide yang menarik, kemudian mengembangkan ide itu. Namun, itu semua tidak cukup. Teori itu tersimpan di kepala. Belum meresap di dalam hati. Bila saya analogikan dengan bumbu masakan, saya baru menaruh bumbu itu. Belum menggunakannya sama sekali. Sehingga, bisa saja bumbu itu terlupakan karena jarang digunakan. Oleh karena itu, saya wajib mempraktikan ilmu itu agar meresap ke dalam dada.

Tentu, ada banyak manfaat yang saya dapat. Ketika saya menulis, saya mampu mengarahkan tulisan saya. Bukan hanya sekedar menulis seperti yang saya lakukan salama ini. Menulis hanya sekedar untuk latihan. Menulis hanya sekedar untuk terapi jiwa. Dengan menerapkan teknik retorika, tulisan saya menjari terarah. Misalnya untuk tujuan informatif, persuasif, atau hiburan.

Misalnya, saya mau jualan eCourse. Tentu saja, tulisan saya harus dengan tujuan persuasif. Mengajak orang untuk bergabung. Saya perlu menjelaskan keuntungan-keuntungan yang didapat setelah ikut eCourse. Mungkin juga saya perlu menuliskan kerugian bila tidak mengikuti eCourse. Intinya, bagamana membuat tulisan dengan tujuan membujuk.

Atau, membuat tulisan dengan tujuan hanya sekedar menyampaikan informasi. Misalnya, saya menulis tentang cara kerja web, mengenalkan bahasa pemograman PHP, mengenalkan framework ionic dan lain sebagainya.

Ya, itu beberapa keuntungan mempelajari teknik retorika. Oleh karena itu, saya perlu untuk membaca kembali buku itu. Bukan hanya sekedar membaca, tapi saya perlu sering berlatih.

Jumat, 15 Desember 2023

Bahasa Indonesia: Mulai belajar mengarang

Saya bingung bagaimana cara mengajarkan anak saya bahasa indonesia. Mulai dari mana, dan apa yang akan diajarkan. Tepatnya, materi apa yang akan saya sampaikan.

Setiap hari kita menggunakan bahasa indonesia. Jadi, persoalan menggunakan bahasa sepertinya nggak terlalu masalah. Dalam percakapan, bahasa indonesia sudah bisa dimengerti oleh anak saya. Walaupun, masih banyak kosa kata yang belum dimengerti. Saya pikir, bukan hanya anak saya. Orang dewasa pun tidak sedikit yang seperti itu. Menggunakan bahasa indonesia dengan menggunakan kata-kata yang umum. Dan itu bisa dikembangkan sambil bejalan.

Saya punya buku pelajaran bahasa indonesia. Tapi, rasa pikir itu sudah nggak relevan bagi anak saya. Ya, memang nggak semua. Ada beberapa yang masih bisa dimanfaatkan. Misalnya, soal pembendaharaan kata dan tanda baca. Itu sangat berguna sekali ketika mau menyampaikan gagasan, ide atau perasaan. Itu yang saya dapat dari buku itu. 

Namun, apa yang bisa dikembangkan dari materi itu? saya beripikir keras. Akhirnya, saya dapat ide itu. 

Ya, saya akan mengajarkan anak saya untuk menulis. Menuangkan segala pikiran dan perasaan dia ke dalam tulisan. Kosa kata yang dia dapatkan dari membaca, akan saya uji. Tanda baca yang sudah saya sampaikan, itu juga akan saya uji.

Latihan ini bukan untuk bertujuan agar anak saya menjadi penulis. Saya ingin anak saya mahir dalam menyampaikan pikiran dan perasaannya. Setidaknya, walaupun nggak sampai hingga level mahir, saya ingin anak saya bisa berkomunikasi. Minimal orang bisa mengerti pikirannya atau perasaannya. 

Tidak sedikit orang dewasa yang merasa kesulitan untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya melalui bahasa. Khususnya bahasa indonesia. Jangankan yang tidak terbiasa ngomong dengan bahasa Indonesia, yang sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia pun kadang masih kesulitan.

Banyak faktor yang menyebabkan itu terjadi. Salah satunya adalah kurangnya latihan untuk mengemukakan pendapat. Tidak dilatih untuk menyampaikan gagasan dan perasaannya. Selain itu, ada faktor lain, yaitu kurangnya pembendaharaan kata. Sehingga kesulitan kata apa yang bisa mewakili pikiran dan perasannya.

Menulis merupakan salah satu cara yang bisa ditempuh untuk membiasakan diri menyalurkan pikiran dan perasaan melalui kata-kata. Selain itu, bisa juga berlatih berbicara di depan cermin. Biasanya itu dilakukan untuk presentasi atau public speaking.

Dengan menulis, kita dipaksa untuk mengungkapkan pikiran-pikiran, kilatan-kilatan pikiran, atau perasaan, menggunakan kata-kata. Karena tulisan nggak punya bahasa tubuh, maka tulisan akan selalu mengandalkan kata-kata agar pesan yang dikirim oleh penulis bisa diterima oleh pembacanya.

Berbicara secara langsung, walaupun kata-kata yang diproduksi nggak terlalu banyak, itu bisa dibantu dengan bahasa tubuh. Namun, ketika menulis, nggak ada cara lain selain menggunakan kata-kata. Mungkin, yang bisa dilakukan adalah menggunakan ilustrasi seperti gambar.

Ke depan, saya akan mengajarkan ke anak saya menulis. Temanya nggak akan saya tetapkan. Bebas. 

Mungkin, untuk tahap awal, saya akan malatih menulis bebas. Materi selanjutnya, sebelum menulis saya akan memberi tugas membaca. Hasil dari membaca itu, akan menjadi bahas tulisan.

Sementara, tulisan hari ini cukup. Walaupun, tulisannya ini masih bisa saya kembangkan. Masih banyak yang perlu saya terangkan. Misalnya tentang menulis bebas. Lalu, kegiatan membaca sebelum menulis. Namun, untuk hari ini, saya cukupkan.

Sekian.

Kamis, 14 Desember 2023

Nggak tahu mau menulis apa? coba praktikan menulis bebas

Saya belum tahu hari ini akan menulis tentang apa. Tapi, tidak masalah. Itulah yang akan tulis.

Tidak sedikit yang mengalami hal seperti ini. Mereka biasanya merupkana penulis pemula. Sama seperti Saya. Namun, saya sudah menemukan cara agar tetap menulis.

Apa itu? Ya, menulis bebas.

Meskipun saya nggak tahu tulisan apa yang akan saya buat, tapi di kepala saya masih menyisakan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan. Itu semua bisa saya keluarkan. Itu semua bisa saya salurkan ke dalam tulisan. Dan itulah yang akan saya tulis.

Bila saya merasa nggak tahu apa yang akan saya tulis, saya akan jujur dengan menulis "saya belum tahu hari ini akan menulis tentang apa,". Ya, begitulah. Di kalimat pembuka saya menulis itu, bukan?

Namun, bukan berarti nggak ada apapun di kepala saya. Atau, saya nggak punya perasaan apapun. Ada perasaan ingin menulis, namun belum tahu apa yang dibahas. Ya, sudah. Itu saja yang akan saya bahas.

Perasaan "nggak punya ide", itu juga merupakan sebuah ide. Atau, kita sangat kesal sekali. Padahal, sebelum menulis, ide itu sudah ada di kepala. Tapi, entah kenapa tiba-tiba saja hilang. Itu juga merupakan ide.

Atau, misal kita ingin menulis tentang "bagaimana caranya agar tidak kehabisa ide menulis." itu juga merupakan sebuah ide. Bila kita sudah menemukan jawabannya, maka kita bisa ceritakan itu dalam tulisan kita. Itu akan menjadi tulisan menarik, bukan?

Ya, intinya ide itu bukan hanya pikiran-pikiran yang ada di kepala kita, namun juga bisa perasaan. Oleh karena itu, ketika saya bimbang, nggak tahu mau menulis tentang, ya sudah, saya menulis tentang itu.

Menulis bebas itu memang ampuh ketika menghadapi kebuntuan saat menulis. Namanya juga menulis bebas, pikiran kita nggak dikerangkeng oleh sebuah konsep apapun. Pikiran kita sedang dalam mode bebas. Nggak ada pengkritik. Yang ada hanya si tukang produksi. Itu yang akan saya layani. Sementara, si tukang kritik, akan saya abaikan dulu.

Apapun yang saya rasakan, atau ada sesuatu yang terlintas dalam pikiran, akan segera saya tumpahkan. Saya nggak akan berpikir "ini bagus nggak ya", atau "ah, ini tulisannya nggak jelas. nggak nyambung. jelek." Itu nggak akan saya layani. Pikiran saya benar-benar bebas. Biarkan semua kilatan-kilatan itu keluar. Setelah semua keluar, mungkin nanti akan saring ide-ide itu. Nanti akan saya pilah dan pilih. Mungkin, nanti saya akan kembangkan lagi. Yang penting adalah jaring dulu semua ide itu. Jangan sampai ada yang lepas.

Nggak terasa, ini tulisan sudah lumayan panjang. Padahal, awalnya  saya sema sekali nggak tahu akan menulis tentang apa. Namun, berkat menulis bebas, saya masih mampu menghasilkan tulisan seperti ini. Jelek atau tidak, itu nggak penting. Yang utama adalah tetap berkarya. Tetapi menulis. Satu hari, satu tulisan. 

Satu hari, satu tulisan.

Kenapa begitu? ada pepatah mengatakan "practise make perfect". Semakin banyak berlatih, itu akan membuat kita menjadi lebih baik. Kita mau sebanyak apapun membaca tetang teori-teori menulis, bila tidak disertaik dengan latiha, maka itu akan sia-sia. Itu pernah saya alami. Oleh karena itu, akhir-akhir ini saya menjadi semakin sering berlatih.

Mungkin itu saja tulisan kali ini. Sekian.

 

Selasa, 12 Desember 2023

Satu hari, satu tulisan. Jangan banyak-banyak. Cepat Bosan!

Saya tidak akan menulis lagi terlalu banyak. Itu akan membuat saya menjadi cepat bosan. Cepat lelah. Akhirnya, nggak punya motivasi lagi untuk menulis. Saya akan batasi. Satu hari, hanya untuk satu tulisan. Bila masih ada ide di kepala, saya akan menyimpannya untuk esok hari. Saya mengembangkannya esok hari.

Mungkin selama satu bulan kemarin, saya hampir setiap hari menulis. Menulis apapun. Ada sesuatu di kepala, langsung saya tulis. Saya merasakan apapun, saya tulis juga. Sehari, saya bisa menghasilkan minimal dua tulisan. Bila diukur menggunakan kertas A5, dengan ukuran font 10, saya bisa menghasilkan dua hingga tiga halaman per hari.

Tentu itu menyenangkan. Saya merasa lebih produktif dari biasanya. Namun, itu hanya bertaham beberapa minggu. Setelah itu, saya menjadi merasa bosan. Sulit bagi saya untuk bisa memulihkannya kembali.

Oleh karena itu, saya akan membatasinya. Satu hari, saya hanya akan menulis satu kali. 

Memang, sekali itu  mungkin nggak akan tuntas. Tapi, bisa juga tuntas. Bergantung dengan idenya.

Kalaupun saya harus mengumpulkan bahan, saya akan menulis pertanyaan-pertanyaan yang nanti akan dicari jawabannya. Jadi, yang akan saya tulis hanya pertanyaan-pertanyaan. Esok harinya, saya pelajari jawaban-jawabannya. Lalu, saya esoknya harinya saya akan tulis.

Menulis bukanlah pekerjaan ruti saya. Jadi, saya nggak ada tekanan sama sekali jika saya hanya menulis sekali dalam sehari. Nggak ada tuntutan apapun. Saya hanya ingin menjadi penulis. Dan, tentu ingin menghasilkan karya yang bisa dinikmati banyak orang. Bukan hanya disimpan di komputer.

Namun, saat ini saya belum memutuskan waktu yang akan saya sisihkan setiap harinya. Mungkin, paling sedikit 10 menit. Dan, paling lama 1 jam.

Kapan itu akan dilaksanakan? saya juga belum tahu. Bergantung dengan waktu yang tersedia. Bila siang hari, di waktu kerja, saya sepertinya agak kesulitan. Selain saya punya pekerjaan utama, saya juga harus menyelipkan waktu untuk mengajar anak saya. Mungkin saya akan melakukannya di pagi hari. Setelah sholat subuh. Atau, di waktu malam. Sebelum tidur.

Yang penting bagi saya adalah konsistensi. Setiap hari saya nggak perlu menghasilkan tulisan yang banyak. Nggak apa-apa menghasilkan sedikit tulisan. Tapi, setiap hari melakukannya. Konsisten.

Saya nggak mau terjadi lagi kehilangan motivasi menulis. Juga kehilangan motivasi membaca. Itu akan membuat saya lambat untuk berkembang.

Saya pernah bercerita, di blog ini juga, menulis di blog ini sedikit agat sulit. Jadi, kadang saya merasa malas. Bila dipaksakan, akhirnya saya merasa nggak mampu. Merasa saya nggak berbakat menulis blog. Akhirnya, blognya jarang diisi.

Bahkan, saya pernah beberapa kali membeli hosting dan domain. Namun, sayang. Saya nggak pernah memanfaatkan itu untuk membuat blog dan menulisnya. Pernah membuat blog, tapi nggak dikelola. Jarang diisi. 

Namu, ketika di google doc. saya merasa berbeda. Lebih nyaman. Bisa jadi yang tulis adalah tulisan bebas. Nggak terpaku dengan topik apapun. Apa yang ada di kepala, ditumpahkan. Mungkin jumlahnya bisa puluhan. Tapi, saya merasa bahagia menulis di platform ini. Walaupun nggak ada yang baca.

Menulis blog itu harus dengan topik tertentu. Itu yang ada di dalam pikiran saya. Nggak boleh menulis segala macam. Itu akan membuat pengunjung akan bertanya "Ini blog apa ya, ko isinya macam-macam." Sehingga, saya terkurung oleh mindset itu. 

Nah, saya sudah menulis ke sana kemari, ya? 

Awalnya, saya membahas tentang "satu hari, satu tulisan." Eh, malah cerita tentang blog. 

Ya, sudah. Itu artinya, tulisan ini harus segera di akhiri.

Sekian.  

Senin, 11 Desember 2023

Biasakan menulis di blog ini, bukan ditempat lain

Mungkin mulai hari ini, saya akan membiasakan diri untuk menulis di blog. Bukan di google drive. Alasannya, untuk menambahkan rasa percaya diri.

Biasanya, saya menulis di google drive. Tujuannya sih hanya untuk membiasakan diri menulis. Tidak ada topik apapun selain menulis. Istilanya free writing. Karena saya masih belajar.

Selain itu, saya menulis di google doc lebih nyaman. Nggak tahu alasannya apa.

Bila saya menulis di blog ini, saya kadang nggak merasa nyaman karena ada banyak warna merah. Itu membuat saya sedikit terganggung. Selain itu, nggak ada peringatan bila saya melakukan kesalahan ketik atau typo. Oleh karena itu, untuk belajar mengetik saya lebih suka menggunakan Google Doc.

Namun, mulai hari ini berbeda. Saya kan lebih membiasakan diri menulis di blog. Mungkin rasa nyaman itu akan terasa bila sudah terbiasa. Semoga nanti ke depan, saya bisa merasakan kenyamanan itu.

Menulis di blog ini, saya merasa nggak bisa menulis panjang-panjang. Berbeda yang saya rasakan di Google Doc. Menulis tiga halaman itu membuat saya puas. Tapi, di blog ini, sepertinya sulit untuk merasakan menulis tiga halaman itu.

Ya, bisa jadi format layar kerjanya berbeda. Di Google Doc saya menggunakan ukuran kertas A5. Ukuran font-nya 10. Jadi, mungkin terasa lebih lebar jarak antar spasi dan barisnya. Sehingga terlihat lebih banyak tulisannya.

Berbeda dengan menulis di sini. Saya nggak tahu ukuran font ini. Begitu juga ukuran kanvasnya. Sehingga membuat saya sedikit kurang puas dengan hasilnya. Saya merasa nggak bisa mengembangkan gagasan. Nggak bisa menggali ide lebih dalam lagi. Kadang-kadang, perasaan itu membuat saya kehilangan semangat menulis. Dan, akhirnya kadang berhenti menulis.

Semoga, kali ini nggak seperti itu. Saya harus terbiasa dengan format layar atau kanvas seperti ini. Nggak boleh dijadikan alasan untuk tidak menulis. Saya harus lebih dari sebelumnya. Belajar itu harus ada peningkatan. Bila jalan ditempat, maka nggak ada proses belajar.

Kebiasaan ini harus sudah saya bangung sejak sekarang. Tulisan apapun itu, akan saya tulis di sini. Jelek atau bagus, bukan masalah. Posting saja. Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai membuat orang tersinggung. Jangan sampai menyebutkan nama, sehingga terkesan menyebarkan berita buruk tentang orang lain. Itu saja.

Ah, lumayan. Tulisan ini bisa panjang juga. Saya benar-benar nggak nyangka. Padahal, tadi saya sempat ragu bisa menulis sepanjang ini. Selain itu, saya merasa nggak ada hambatan sema sekali. Mengalir begitu saja.

Ya, sudah. Mungkin itu saja yang bisa saya tulis kali ini. Semoga ke depan lebih konsisten menghasilkan tulisan setiap hari. Bukan ditempat lain, tapi di blog ini.

Sekian.

Minggu, 10 Desember 2023

Hemat uang itu perlu, hemat waktu itu lebih utama.

 Lagi-lagi saya menghabiskan waktu hanya untuk menonton video reels. Video pendek sepreti tiktok. Namun, ini ada di plafform facebook.

Nggak kerasa, mungkin sudah lebih dari satu jam saya habiskan hanya untuk nonton. Sayang, bukan? Saya akhir-akhir ini sering menghemat waktu, kenapa sekarang malah waktu yang saya buang-buang? bukankah waktu itu nggak ternilai dibanding dengan uang? uang itu bisa dicari, tapi waktu akan berlalu begitu saja. Tidak akan kembali.

Ini nasihat untuk diri saya sendiri. Tulisan ini saya buat di sore hari menjelang magrib. Saya nggak tahu apa yang harus saya lakukan. Jadi, saya iseng-iseng buka facebook, ternyata saya nggak mampu berhenti untuk menonton video. Nggak terasa, waktu sudah berlalu selama satu jam.

"Waktu untuk hiburan nggak apa-apa? belajar terus juga membuat bosan."

Betul. Saya juga merasakan itu. Tadi pagi, saya mencoba untuk belajar. Memikirkan peluang-peluang usaha yang akan saya jalankan. Mungkin kurang lebih dua jam, rasa bosan sudah terasa. Akhirnya, saya keluar untuk menyegarkan pikiran saya.

Harusnya, bila pikiran sudah terasa segar, saya harus melanjutkan kegiatan yang sudah direncanakan. Kegiatan-kegiatan yang mendukung kesuksesan. Kegiatan yang ada kaitannya dengan tujuan yang saya tuju. Bukan kegiatan di luar itu. Hiburan itu boleh-boleh saja. Namun, harus ingat waktu. Batasi. Di hari kerja, mungkin saya hanya punya sedikit waktu untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan itu. Jadi, saya harus memaksimalkan waktu liburan ini. Jangan dibuang-buang dengan percuma.

Walaupun saya sudah menghabiskan waktu satu jam, akhirnya punya perasan menyesal. Perasaan itulah yang menghasilkan tulisankan. Perasan itulah yang memunculkan ide untuk menulis ini. Ini merupakan salah satu kegiatan yang mendukung cita-cita saya, yakni menjadi penulis. Kegiatan menulis merupakan kegiatan wajib yang harus saya jalankan setiap hari. Tidak bisa tidak.

Tentu saja, menulis itu perlu ide. Tanpa ide, sulit untuk menulis. Apa yang akan ditulis, bukan?

Sebelum menulis, harus ada sesuatu yang kita rasakan. Atau sesuatu gagasan atau lintasan di dalam pikiran kita. Di dalam otak kita. Jadi, ide itu mutlak adanya. 

Bila kita tidak mengenal ide, seperti yang saya rasakan dulu ketika belajar menulis, kegiatan menulis itu menjadi lebih sulit. Seperti yang saya tadi katakan, apa yang akan kita tulis? idenya nggak ada.

Ide itu bisa berasal dari perasaan atau pikiran. Saat ini, saya sedang mengalami perasaa menyesal membuang-buang waktu. Maka, itu merupakan ide. Sehingga tulisan ini, mudah bagi saya untuk menciptakannya. Tidak ada hambatan ketika menulis. Tangan saya tidak berhenti untuk menulis. Tidak ada istilah writer block. Nggak ada sama sekali.

Jadi, walalupun saya tadi membuang-buang waktu selama satu jam, tapi akhirnya saya mendapatkan ide, yakni: "Hemat uang itu memang perlu, hemat waktu itu lebih penting lagi."

Pikiran itu tiba-tiba saja muncul. Namun, awalnya dari perasaan menyesal telah membuang waktu. Lahirlah ide itu.

Tidak masalah ide itu bagus atau tidak. Yang penting bagi saya adalah mengasah kepekaan dalam menangkap ide. Melatih jari jemari saya agar selaras dengan pikiran saya. Membiasakan diri untuk mengalirkan gagasan-gagasan, perasaan, kilatan pikiran yang ada di kepala saya. Meminimalisir kesalahan ketik. Yang penting itu dulu. 

Sekarang waktu sudah menujukan pukul 18:14. Waktunya untuk sholat magrib. Jadi, kegiatan menulis ini saya harus hentikan.

Sekian. 

Malas itu adalah ide, tuliskan saja

Mungkinkah skill menulis menjadi berkurang bila jarang digunakan? mungkinkah ide itu sulit datang bila kita jarang menulis?

Mungkin saja. Setidaknya itu yang saya rasakan. Saya sudah lama nggak pernah menulis. Yang saya rasakan adalah tangan menjadi agak kaku. Kadang sering typo. Kemampuan mengetik saya menjadi berkurang. Menjadi lambat. Tidak secepat seperti sebelumnya ketika sering menulis. 

Itu dari sisi kemampuan mengetik. Dari sisi mengalirkan ide dari pikiran ke tulisan pun kurang lebih sama. Saya agak kesulitan untuk mengungkapkan pikiran saya. Mengalirkannya ke dalam tulisan. Jadi banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Saya merasa kembali seperti ketika saya belajar menulis tahun lalu. Kadang bingung apa yang akan ditulis, bagaimana cara mengembangkan ide, kalimat, dan lain sebagainya. Ada banyak pertanyaan sehingga urung untuk menulis karena melayani pertanyaan-pertanyaan itu.

Saya nggak mau seperti itu. Sayang, kan? skill yang sudah diasah selama setahun dibiarkan begitu saja. Jadi, blog ini harus saya aktifkan lagi. Saya harus penuhi blog ini dengan tulisan-tulisan. Saya ngak perduli orang suka atau tidak. Saya nggak perduli blog ini akan banyak orang yang berkunjung atau tidak. Yang penting bagi saya adalah jangan sampai kehilangan motivasi menulis. Urusan uang itu belakangan. Yang penting, terus saja gerakan tangan untuk menulis. Konsisten. Biasanya urang itu akan mengikuti orang yang konsisten.

Ya, itu nasihat untuk diri saya sendiri agar tetap konsisten dalam menulis. Jangan berhenti berkarya meskipun tidak ada orang yang melihatnya. Tidak satu pun orang yang meliriknya. Apalagi memberikan apresiasi.

Untuk saat ini, saya nggak perlu perdulikan itu. Terus saja menulis. Lawan rasa malas itu.

Ya, memang saya sedang malas untuk menulis. Sesuai judul. 

"Tapi, ko bisa-bisanya menulis?"

Saya ingat ketika saya mencoba mengenal ide lebih dekat. Ide itu bukan hanya sekedar gagasan atau lintasan pikiran yang ada di kepala kita. Tapi, apa yang kita rasakan, itu juga merupakan sebuah ide. Saya sekarang sedang merasa malas untuk menulis. Dan, saya berpikir "mungkinkah bila saya pelihara rasa malas ini terus-menerus, kemampuan menulis saya akan terkikis?". Jadi, rasa malas yang saya rasakan itu menjadi sebuah ide untuk menulis. Ya, hasilnya tulisan ini.

Sungguh, saya tidak menyangka tulisan ini akan sebanyak ini. Biasanya, dulu ketika awal-awal belajar menulis, jangankan menulis untuk satu atau dua paragraf, kadang untuk menulis satu kalimat pembuka pun saya nggak sanggup. Apalagi berbicara ide, sulit bagi saya untuk mengungkapkannya.

Ternyata, apa yang kita rasakan, itu bisa menjadi sumber ide. Misal, ketika saya merasakan sulitnya mencari penghasilan tambahan. Pasti di dalam pikiran itu ada banyak pertanyaan, atau setidaknya ada satu atau dua pertanyaan. Apa yang perlu saya lakukan agar bisa menanbung untuk membeli rumah? bila saya menjalankan usaha ini, kira-kira berapa modal yang diperlukan? berapa jam yang akan saya sishkan untuk mengerjakan pekerjaan tersebut? dan lain sebagainya. 

Atau, misal kamu merasa "ko, teman-teman saya sudah pada sukses, sementara saya masih begini-begini saja, apa yang salah dengan diri saya?". Ya, kurang lebih seperti itu. 

Setelah memahami ide, saya tidak terlalu kesulitan untuk mencari ide. Apa yang saya rasakan, atau ada lintasan-lintasan pikiran di kepala saya, itu akan saya catat. Kemudian, ide-ide itu akan saya kembangkan. Tulisan itu jelek atau tidak, itu nggak penting. Yang utama adalah bagaimana bisa menangkap ide dan menjadikannya sebuah karya. Tujuannya adalah melatih kepekaan.

Ya, mungkin itu saja yang saya tulis kali ini. Rasa malas itu nggak selamanya buruk. Jika kita mampu mengelolanya, itu akan menjadi sebuah tulisan. Menjadi sebuah karya. Tulisan ini berangkat dari rasa malas yang saya rasakan. Namun, saya mencoba untuk menangkap perasaan itu, dan mencoba mengungkapkannya melalui tulisan ini. Jadilalah tulisan ini. 

Minggu, 15 Oktober 2023

Dianggap Menghina

 Sudah saja tulis di sini. Mungkin saja di sini aman di banding tempat lain. Misal di note hp atau google drive. Rawan dibaca orang. Dan mungkin nanti akan tersinggung.

Harusnya sih itu bukan urusan saya. Siapa suru baca tulisan saya? Siapa suru kepo-kepo tulisan saya? Bila ada yang tersinggung, harusnya sih saya tidak perlu memberikan klarifikasi. Toh itu tulisan hanya untuk diri saya sendiri. Bukan tujuan untuk disebar.

Bila tulisan saya dirasa menghina, seharusnya perlu dilihat dulu makna kata "menghina" itu seperti apa. Jangan asal tuduh.

Setahu saya menghina itu minimal harus ada dua orang atau lebih. Tidak mungkin ada penghinaan hanya untuk diri sendiri. Selalu ada orang lain yang menjadi objek hinaan.

Bentuk hinaan itu bisa bermacam-macam. Bentuk simbol, ucapan, gerakan atau raut wajah. Mungkin saja ada bentuk-bentuk yang lain. Mungkin itu menurut saya yang paling umum.

Saya menulis untuk diri sendiri. Untuk mengeluarkan segala yang ada dalam pikiran saya. Sama sekali bukan untuk disebar atau dipublikasikan. Saya ingin jiwa saya sehat. Tulisan saya anggap sebagai tempat curhat paling aman. Tulisan itu tidak akan bilang ke siapapun kecuali ada yang mencuri dan menyebarkannya. Jadi, saya percaya curhat dalam bentuk tulisan itu membantu menenangkan atau mengurangi gejola batin saya.

Saya punya pertanyaan bila ada orang yang tersinggung setelah mencuri dan membaca tulisan saya.

Bila saya punya unek-unek, umpatan, sekotor apapun itu, tapi saya sama sekali tidak saya ucapkan. Hanya disimpan di kepala saya.

"Anjing lu"

"Goblok banget ini orang"

"duh, kaya gini aja nggak becus. Tolol banget ini orang"

Misal ada umpatan-umpatan seperti itu di di kepala saya. 

Apakah saya menghina?

Saya sangat yakin bahwa saya tidak menghina sama sekali. Menghina itu harus diucapkan, diungkap, dituliskan dan disebarkan. Bila hanya ada dalam pikiran, itu tidak menghina. Bila hanya dalam tulisan dan tidak disebarkan, hanya untuk konsumi pribadi, sama sekali tidak menghina.

Sabtu, 19 Agustus 2023

Jangan habiskan waktu untuk hiburan semata

Nggak kerasa waktu sudah menunjukan pukul 16:26. Begitu cepat waktu berjalan. Sementara, saya hanya duduk menonton video. 

Untungnya, saya sudah meninggalkan kebiasaaan dulu yang hanya sekedar nonton. Nonton hanya sekedar nyari hiburan untuk mengusir rasa penat. Saya menyaksikan video-video yang membangun, seperti bagaimana bisa meningkatkan keterampilkan menulis, bagaimana mendapatkan video yang bagus, bagaimana menyusus cerita yang menarik dan lain sebagainya. Intinya, jangan melewatkan waktu begitu saja tanpa melakukan hal-hal yang bermanfaat.

Menonton video mencari ide blog
Photo by Karolina Grabowska

Saat ini, saya senang dengan kegiatan menulis. Nggak tau kenapa alasannya bila ada yang menakannya. Sepertinya, seru bila mendokumentasikan  pengalaman-pengalaman yang telah dilewati.

Menulis bukan hanya menceritakan tentang pengalaman-pengalaman pribadi, tapi bisa digunakan untuk mengajar. Anak saya suka matemateka. Padahal, kebanyak anak-anak seusianya alergi dengan pelajaran itu. Lalu, bagaimana anak saya bisa suka dengan pelajaran itu? Saya pikir, saya mengajarinya melalui cerita. Bukan cerita yang ngawang-ngawang, tapi yang mendekati kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, dia menjadi tertarik.

Ya, cerita bisa digunakan untuk media belajar. Dari dulu sampai sekarang, teknis bercerita ini dinilai lebih efektif. Bahkan, kitab suci pun mengandung banyak cerita-cerita dalam mengajarkan umatnya.

Tidak ada orang yang tidak suka dengan cerita. Terlepas dari apa yang diceritakan, saya yakin semua orang mendengarkan cerita. Dari dulu sampai sekarang kesukaan orang terhadap cerita tidak berubah.

Dahulu, cerita hanya disampaikan melalui lisan. Namun, saat ini bisa melalui teks, teks dan tulisan, bahkan bisa melalui video. Atau, umumnya cerita dalam bentuk video disebutnya film.

Keahlian bercerita itu bisa digunakan dibidang apapun. Bukan hanya dalam bidang kesenian seperti kepenulisan atau perfilman. Saat ini, cerita digunakan juga dalam marketing. Itu lebih bisa menarik perhatian dibanding menjual sesuatu secara langsung. Bahkan, bila ceritanya menarik, orang rela untuk membayar lebih mahal untuk barang yang sama dengan harga yang relatif murah.

Jadi, akhir-akhir ini, saya terus meningkatkan keahlian menulis. Saya membaca buku, mendengarkan podcast, atau menonton video dari youtube. Sehingga, saya merasakan peningkatan yang signifikan.

Menulis itu butuh sesuatu atau bahan tulisan. Bahan itu bergantung apa yang akan kita tulis. Misal, saya ingin menulis tentang "programing", maka bahan-bahan yang saya perlukan adalah materi-materi tentang programing itu. Yang saya lakukan bisa baca melalui blog atau menonton video. Tanpa bahan-bahan itu, saya kesulitan.

Seperti itulah. Saya menonton video bukan hanya sekedar untuk hiburan, tapi untuk mendapatkan bahan-bahan tulisan.

Saya sangat senang kemanjuan ini. Dengan skill menulis yang semakin meningkat, kemanapun saya pergi, atau apapun yang saya lakukan, bisa saya jadikan sebagai tulisan. Terlepas itu menarik atau tidak bagi orang lain, banyak mencari atau tidak di mesin pencari, yang utama adalah bahan-bahan tulisan itu yang akan saya gunakan untuk latihan.

Sebelum saya bisa menulis, hari-hari saya dilewatkan begitu saja. Padahal, ada banyak hal yang menuruk saya menarik untuk diceritakan. Atau, bisa saja pengalaman-pengalaman itu bukan hanya diceritakan, tapi sebagai sesuatu yang diperlukan oleh orang lain. Sehingga, bisa lebih bermanfaat.

Sekarang, walaupun kemampuan menulis mungkin belum mencapai kondisi ideal, tapi saya sangat puas dengan pencapaian ini. Indikator keberhasilannya adalah saya mampu menulis artikel ini dengan mudah. Nggak perlu banyak mikir.

Alhamdulillah.

Nyari duit itu, nggak ada yang enak

"Ih, jijik. Banyak lalat" sambil melihat tumpukan kotoran ayam yang berserakan di halaman depan rumah saya.

Saya pun tidak menyangkal. Memang nampak kotor. Bila dibiarkan, tentu saja itu akan mengundang banyak lalat. Jangan heran juga bila menimbulkan bau tak sedap.

Saya pikir, untuk menjaga ketahanan pangan, mau gimana lagi. Walaupun sebenarnya banyak cara untuk melakukan itu. Namun, untuk saat ini, yang saya mampu saya pikirkan baru hanya sebatas memelihara ayam, bercocok tanam  dan budidaya ikan lele dalam ember.

Malu sekali rasanya bila orang seperti saya, lulusan sekolah tinggi yang punya gelar sarjana, untuk makan pun masih susah. Dengan membangun ketahan pangan, setidaknya saya masih bisa makan. Dibandingkan saya harus cari pinjaman ke sana dan kemari hanya untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Saya cukup heran yang memandang saya aneh ketika saya memelihara ayam. "Mending kucing, lucu" begitu ucap mereka yang memandang remeh. Saya tidak tahu apa yang mereka pikirkan ketika memelihara kucing. Sementara, untuk makan mereka sehari-hari saja masih terseok-seok. Ini menambah lagi anggota baru di dalam rumah. Tentu, akan membebani biaya bulanan.

Saya juga heran, mereka itu lebih mengutakan hobi dibanding dengan kebutuhan hidupnya. Pelihara kucing, menanam tanaman hias, membeli perabotan pajangan dan lain-lain yang hanya untuk memuaskan keinginannya saja. Tidak ada tujuan lain selain itu. Misalnya, memelihara untuk keperluan menyambung hidup seperti menjual tanaman hias, atau jual beli kucing. Sementara, hidupnya sendiri masih susah. Seperti yang saya bilang sebelumnya, untuk makan saja mereka terseok-seok.

Sungguh, saya tidak memahami pikiran orang-orang seperti ini.

Memelihara ayam atau ternak lele itu mungkin memang tidak menyenangkan. Bau, kotor. Setiap hari harus membersihkan kotoran ayam agar tidak mengudang banyak lalat dan menimbulkan bau yang tak sedap di lingkungan rumah.

Begitu juga dengan beternak lele. Air yang saya tampung dalam ember memang nampak tak sedap dipandang. Kadang bisa menimbulkan bau. Dengan warna air yang seperti itu, hijau, merah, coklat muda,  terkesan air itu sengaja dibiarkan begitu saja. Jorok. Mungkin beberapa orang yang tidak paham akan berkata "Ini air diember uda ijo begitu kenapa nggak dibuang, jorok sekali penghuni rumah ini." atau "ko penghuni rumah ini betah ya, di halaman rumahnya banyak air sudah ijo, sumber penyakit, sarang nyamuk."

Saya memaklumi bila ada orang yang berpikiran seperti itu karena mereka belum tahu. Tapi, yang kadang bikin gemes adalah mereka yang sok bersih, tak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Bahkan kebutuhan dasarnya seperti makan.

Saya kadang berpikir:

"Kenapa mereka tidak mau belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya yang membuat mereka seperti keadaan sekarang, dimana untuk makan saja sulit?"

"Apakah meraka ini terkendala modal, tidak ada keahlian, atau memang mentalnya seperti itu (pemalas)?"

Saya pernah menanyakan langsung. "Kenapa tidak berkebun saja? atau ternak. Bisa ayam atau ikan. Mana saja yang paling mudah. Yang penting bisa memenuhi kebutuhan dasar. Makan.

Apa respon mereka?

"Saya kurang suka seperti itu"

"Nggak tau kenapa, saya suka gagal bila ternak atau nanam"

"Ah, sudah tua. Pengen istirahat"

"Bukan waktunya lagi untuk belajar, yang penting gimana caranya bisa nyari uang"  

Ya, sudah. Saya juga tidak memaksakan pendapat kepada orang lain. Mereka juga tahu resiko setiap keputusan yang mereka ambil.

Saya hanya mengingatkan, bahwa cari uang itu butuh ilmu. Setiap keputusan yang diambil pasti mengandung resiko. Besar atau kecilnya resiko itu relatif. Yang pasti, nyari uang itu nggak enak. Cape, dan kadang-kadang makan hati. Sudah berupaya-upaya kuat-kuat, namun kadang hasilnya tidak sesuai harapan.

Memang begitulah alurnya.

Senin, 14 Agustus 2023

Beberapa alasan kenapa saya membeli sepeda listrik daripada motor bensin bekas


Sepeda Motor Listrik Uwinfly RF8

Membeli sepeda listrik bagi sebagian orang mungkin seperti sebuah tindakan membuang-buang uang saja. "mending beli motor sekalian, bisa dipake kemana-mana" begitu salah satu alasannya.

Saya tidak anti dengan pernyataan pertentangan seperti itu. Saya tetap mendengarkan alasan-alasannya. Ini merupakan bahan-bahan untuk kegiatan menulis. Termasuk untuk menulis tulisan ini.

Saya punya alasan kenapa saya memutuskan untuk membeli sepeda listrik daripada membeli sepeda motor bensin bekas


Pertama, sepeda listrik itu relatif murah dibanding dengan motor bensin bekas. Banyak sepeda listrik dengan harga 3-4 jutaan. Dengan harga segitu, kita dapat sepeda baru. Disertai dengan garansi. 

Berbeda dengan sepeda motor bekas bensin. Saya harus mempersiapkan biaya untuk ke bengkel. Belum tentu kita dapat motor bekas dengan harga segitu mulus. Pasti ada saja yang perlu diperbaiki. Entah itu kaki-kaki, oli, ban dan lain sebagainya.

Untuk dapat motor bekas dengan kondisi yang relatif bagus, itu sulit dengan harga segitu. Umunya, di atas 7 juta. Di bawah itu, untung-untungan.

Sepeda listrik, dengan harga segitu sudah siap pakai. Tidak perlu mikirn biaya lagi.

Kedua, saya tidak punya keperluan banyak. Saya hanya menggunakan sepeda listrik untuk keperluan belanja ke warung, nganterin anak main, berkunjung ke saudara. Dengan kata lain, untuk kebutuhan jarak dekat dan hanya sekitar rumah. Jika ingin bepergian jauh, saya punya kendaraan roda empat. Tidak perlu motor.

Saya menggunakan sepeda listrik hanya untuk berkeliling sekitar rumah. Seperti belanja, mengantar anak main, pergi ke rumah saudara.

Ketiga, sepeda listrik punya baterai yang di-support selama 6 bulan. Dengan kata lain, ada garansi baterai. Saya tidak perlu khawatir soal baterai seperti yang dikhawatirkan oleh orang-orang yang lebih memilih motor bekas bensi. Kalaupun ada masalah, saya hanya perlu ke dealer atau tempat tokonya. Lalu, ajukan komplain. Tidak perlu ada biaya yang perlu saya keluarkan. Hanya perlu ongkos menuju ke sana.

Mengisi bensin sedikit, itu lebih mahal dibanding mengisi banyak. Sementara kebutuhan saya hanya sedikit. Di pertamini, harga pertalite, bensi subsidi, itu lebih mahal dibanding mengisi di pom bensin.

Pom bensin cukup jauh, jadi jika mengisi hanya 1 atau 2 liter, adalah tindakan membuang-buang waktu. Kita tahu, antrian pertalite itu saat ini sudah mengular. Berbeda dengan waktu dulu.

Menggunakan sepeda listrik, saya hanya perlu mengisinya di rumah. Itupun saya lakukan di malam hari. Di siang hari, hanya tinggal memakainya. Satu kali cas, itu cukup lebih dari satu hari. Tidak perlu antri dan panas-panasan. Hanya perlu kesabaran.

Mungkin itu beberapa alasan saya memberli sepeda listrik.

Ada pernyatan menari.

"Sepeda listrik itu aneh, nggak ada suaranya" 

Ini pernyataan yang cukup menggelitik. Ya jelaslah. Namanya juga sepeda. Jangankan sepeda listrik, motor listrik juga nggak ada suaranya. Hening. 

Justru saya lebih suka mengendarai dengan hening. Tidak ada getaran mesin, panas dan suara bising. Itu terasa banget ketika di lampu merah.

Sementara saya cukup dulu tulisan ini.

Minggu, 13 Agustus 2023

Kegiatan di Pagi Hari, Minggu, 12 Agustus 2023

Hari ini saya bangun kesiangan. Saya tahu, itu kebiasaan buruk. Saya pun tidak menginginkannya. Tapi, entah kenapa, walaupun saya memasang weker, tetap saja saya tertidur pulas hingga hampir jam 7.

Memang, saya tidur terlalu larut. Sekitar pukul 00.30. Saya menghabiskan waktu untuk membaca buku, menulis, dan nonton TV.

Tapi, ya sudahlah. Itu bukan sesuatu yang disengaja. Kadang, saya juga sadar tidak sadar sudah bangun kemudian mematikan jam weker.

Ya, itu bisa jadi kesalahan saya. Mungkin sudah jadi kebiasaan sehingga agak sulit untuk merubahnya. Tapi, yang penting saya sudah bangun. Dan, ya menurut saya tidak terlalu siang. Masih bisa merasakan sinar matahari dan sejuknya pagi.

Ini sabut, hari libur. Apa kegiatan saya? masih sama seperti hari-hari biasa. 

Saya membersihkan halaman rumah. Bukan hanya disapu, tapi juga dipel. Ada banyak kotoran ayam. Kering maupun basah. Karena saya suka jemur pakaian di halaman rumah, khawatir kotor-kotoran itu menjadi debu kemudian nempek di jemuran. Saya pikir itu akan menimbulkan penyakit seperti gatal-gatal, jamur, dan penyakit kulit lainnya. Sehingga kegiatan membersihkan halaman rumah dengan cara di pel, disikat lantainya hingga bersih merupakan kewajiban. Demi menjaga kesehatan.

Selain itu, bila dibiarkan akan mengundang lalat. Itu menimbulkan kesan jorok. Bukan hanya di halaman rumah, lalat-lalat itu akan masuk ke rumah.

Bau kotoran juga akan menyengat bila tidak dibersihkan. Masuk ke ruangan rumah, ke dapur, ruang tengah, hingga kamar. Tentu itu akan membuat tidak nyaman penghuni rumah.

Halaman sudah selesai dibersihkan, lalu apa selanjutnya?

Saya menyiram tanaman. Mungkin kesannya tanaman saya banyak, tapi sebenarnya tidak, Hanya tanaman kangkung yang saya tanam sekitar seminggu yang lalu. Entah kenapa saya ingin mulai bercocok tanam kembali seperti tahun lalu, 2022. 

Sebenarnya, saya punya beberapa bibit tanaman. Bukan hanya kangkung. Ada tomat, cabe rawit, sawi, dan causin. Namun, untuk tomat dan cabe itu perlu media tanam yang lain. Saya hanya punya sekam bakar dan cocopit. Sementara untuk causin dan sawi, bibitnya sudah kadaluarsa. Sehingga setelah tiga hari saya semai, nggak ada tumbuh. Saya tergelitih dalam hati "Ya, pastilah nggak bakalan tumbuh."

Untuk cabe rewit, itu nggak bisa bisa ditanam di sekam bakar atau cocobit. Ia merupakan tumbuhan akar kuat. Itu harus menggunakan media tanah. Jadi, untuk sementara saya belum bisa menanam itu.

Menulis

Setiap hari saya tidak akan meninggalkan kegiatan menulis. Itu merupakan kegiatan wajib yang harus saya lakukan setiap hari. Soal menulis apa, saya akan menulis apapun dan topik apapun. Hanya untuk membiasakan diri.

Termasuk tulisan ini. Jika ditanya "ini tulisan masuk ke topic apa?" saya tidah tahu. Yang penting bagi saya adalah menulis. Belum saya pikirkan soal menulis apa.

Bukan hanya tulisan ini, semua tulisan di blog ini merupakan catatan harian saya. Apa yang sedang saya rasakan, pikirkan, renungkan, kekesalan dan lain-lain, saya tuliskan di blog ini.

Saya menulis ini menggunakan kerangka. Sesuatu yang jarang saya gunakan. Saya pikri itu nggak akan berguna. Ternyata, duggan saya salah.

Baru kali ini saya menggunakan itu. Ternyata cukup memudahkan. Saya bisa memetakan apa yang akan saya sampaikan ke pembaca. Sehingga, tulisan saya lebih terarah. 

Di dalam kerangka tulisan, saya bisa menyusun poin-poin yang akan saya sampaikan. Ini memudahkan saya ketika akan mengembangkan kalimat atau paragraf.

"Hm, ternyata lebih mudah menggunakan kerangka karangan, ya" pikirku.

Kerangkan tulisan ini akan saya gunakan lagi ketika memulai tulisan yang lain. Karena benar-benar membantu dalam proses penulisan.

Menguras Aquarium

Kegiatan selanjutnya adalah menguras aquarium. Kegiatan ini memang sudah saya rencanakan sebelumnya. Jadi, bukan kegiatan dadakan.

Saya sudah mencium aroma tidak sedap. Saya buka filter, di sana terdapat banyak cacing. Saya tidak tahu itu cacing berasal dari mana. Apakah dari kotoran ikan, atau berasal dari bekas penyedotan ikan lele. Saya jijik melihatnya. Oleh karena itu, saya segera menggantinya dan menguras airnya.

Saya kira, cacing-cacing itu akan mati ketika dijemur. Saya pikir panas matahari akan melenyapkannya. Ternyata tidak. Mereka tetap hidup. "Cukup aneh" pikir saya. 

Sayang, saya tidak memotretnya. Saya langsung buang saja ke tong sampah karena khawati bisa terbang terbawa angin.

Mungkin, jika saya memotretnya, saya bisa tahu jenis cacing apa.

Mungkin sekian dulu tulisan ini.


Jumat, 11 Agustus 2023

Suara adzan magrib..

Tak terasa sudah magrib lagi. Rasa ngantuk sudah menyerang sebelum solat di laksanakan.

Ingat waktu dikampung, jika waktu adzan tiba, saya dan teman-teman berebut giliran untuk mengumandangkan adzan. Bangga rasanya jika sudah bisa mengumandangkan adzan.

Bisa adzan menjadi kebanggan pada saat itu. Banyak di mesjid-mesjid lain pun yang mengundangkan adzan itu adalah anak kecil.

Sekarang saya tinggal di Bandung. Sudah jarang sekali saya mengumandangkan adzan. Jangankan untuk mengumandangkan, kadang ketika adzan berkumandang, saya abai. Tidak di dengar adzan itu. Lebih sibuk ke layar komputer, smartphone atau TV.

Kebetulan tempat tinggal saya deket masjid. Namun, saya jarang ke sana. Untuk ini saya punya alasan. Namun, sebenarnya alasan itu bisa dikompromikan.

Kembali lagi soal adzan magrib.

Saya dan teman-teman biasanya sudah ada di masjid satu jam sebelum adazan magrib tiba. Mungkin sekitar jam lima. 

Sambil menununggu waktunya tiba, saya dan teman-teman senang bermain "gegelutan". Merasa laki banget.

Sekarang sudah hampir 20 tahun saya di bandung. Kangen sekali suasana itu. Serasa ingin balik lagi ke masa lalu.

Musin hujan adalah waktu yang di nanti-nanti. Lantai bagian mesjid biasanya basah terkena air hujan itu dan kotor. Banyak pasir. Sehingga, jika terinjak akan menimbulkan kesan kotor pada lantai. 

Saya dan teman-teman memanfaatkan momen itu untuk main perosotan. Dengan alasan "membersihkan masjid", kami diijinkan untuk mengepel sambil prosotan. Gampang sekali untuk bahagia saat itu. Hanya bekal air dan lap pel, kami sudah bahagia.

Ah, ko saya ngomongnya kemana-mana ya. Balik lagi ah ke adzan magrib.

Saya tidak ingat dari mana saya belajar adzan. Yang saya ingat, saya di paksa adzan.
Sungguh, saya tidak tahu bagaimana caranya adzan, tapi waktu itu langsung di suru berdiri, sambil di temani teman sambil dibisik-bisik lafad-lafadnya. Mungkin karena sering, sehingga lafadz-lafadz itu tidak sudah perlu dihafal. Sudah secara tidak sadar tersimpan dalam kepala.

Mungkin itu cerita pengalaman saya tentang adzan. 

Bagaimana dengan kamu? kapan kamu terakhir kali mengumandangkan adzan? 

Kamis, 10 Agustus 2023

Mengapa selalu cemas?

Tidak tahu kenapa, akhir-akhir ini selalu diliputi rasa cemas. Biasanya, ketika saya membaca, saya sanget menikmati bacaan itu. Namun, akhir-akhir ini, tidak begitu. Selalu, ada rasa cemas.

Mungkinkah mental saya sedang terganggu? bisa saja. Namanya manusia, dan semua manusia pasti terkena serangan mental. Siapapun itu.

Cemas, sedih, bahagia, dan lain sebagainya pasti pernah hingga di setiap manusia. 

Saya baru tahu bahwa cemas itu merupakan salah satu gangguan psikologi. Itu wajar. Namun, yang tidak wajar adalah cemas yang berlebihan.

Setiap orang pasti mengalami hal itu, siapapun itu. baik yang punya jabatan, tidak punya jabatan, tentara atau rakyat sipil, pasti pernah mengalaminya.

Ingat, ketika menulis itu harus sudah sesuatu yang sudah selesai. Jangan membahas yang kamu sendiri belum tahu. Sehingga, dapat dipastikan kamu akan macet ketika menulisnya. Jadi, jangan siksa dirimu dengan hal-hal yang belum jelas. Simpan saja dulu catatan kecil. Ada waktunya untuk menyatukan itu semua.

Dulu kan sudah belajar bagaimana membuat repository ilmu. Setelah kamu baca, buatlah catatan kecil. Masukin ke dalam kategori-kategori yang menurutmu cocok.Biasanya, bila kamu sudah banyak catatan, proses menulis itu akan lebih mudah.

Walaupun kamu mengalami cemas, tapi kamu tidak mudah bukan menuangkan itu semua? boleh saja kamu membahas tentang perasaan kamu, namun jangalah kamu membahas yang diluar kemampuan kamu. Misalnya membahas persoalan psikolgi. Saat ini, kamu belum menguasai hal itu. Curahkan saja apa yang kamu rasakan saat ini. Dan apa yang kamu inginkan, atau harapan kamu ke depan. Jangan membahas yang aneh-aneh. Di luar jangkauan kamu.

Terbukti, bukan? kamu tidak bisa menulis apapun. Kamu macet baru sampai dua paragraf.

Tulis bebas saja. Bila kamu tidak mengetahui sesuatu, tulis saja tidak tahu. Lalu, apa rencana kamu ke depan. Apakah akan membiarkan masalah itu? atau kamu akan mencari tahu bagaimana menyelesaikan masalah itu?

Jika masalah itu dibiarkan, maka kamu tidak akan mendapatkan apapun kecuali perasaan bertanya-tanya dalam hati atau pikiran kamu. 

Namun, jika kamu melakukan sebaliknya, ada banyak hal yang bisa kamu gali. Itu membuat kamu punya sudut pandang luas. Kamu tidak hanya menguasai suatu bidang, misalnya programing, tapi kamu punya pengetahuan di bidang lain, misalnya psikologi.

Tulisan ini saya buat hampir menuju tengah malam. Tidak tahu kenapa, saya merasa tidak enak hati. Saya tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan hati ini. Sebelum saya buka komputer dan menulis ini, saya sudah menonton youtube lebih dari satu jam. Sama sekali tidak merubah perasaan saya. Tetap, saya merasa tidak enak hati. Saya mencoba untuk memejamkan mata pun, tidak bisa.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan saya? 

Mungkinkah saya terkena penyakit mental?

Atau, apakah saya terserang gangguan psikologi?

Ada yang bikin resah? Tentu ada. yaitu keadaan ekonomi yang belum kunjung membaik. Ekonomi keluarga saya belum membaik sejak tahu lalu. Selalu kekurangan. Saya mencoba untuk mencari peluang usaha lain selain di bidang programing. Saat ini, saya sedang mencoba untuk usaha budidaya ikan lele. Oleh karena itu, saya harus belajar lagi dari awal tentang ikan lele.

Apakah pekerjaan programing akan ditinggalkan? belum untuk saat ini. Saya masih membutuhkannya untuk menunjang usaha lele saya. Untuk menunjang belajar hal lain.

Selain usaha lele, saya akan mencoba usaha-usaha online lain. Misalnya bloging. Ini sudah saya usahakan sejak tahun lalu. Namun, belum maksimal. Sampai-sampai hosting saya tidak maksimal. Akhirnya, saya menyesal. Saya banyak membuang waktu. Itu yang membuat saya resah.

Kamu tahu, usia semakin tua. Dan tenaga juga tentu tidak prima seperti dulu. Sementara, saya belum melihat tanda-tanda ada kemajuan dalam ekonomi. Seperti jalan di tempat. Hutang masih numpuk. Rumah masih ngontrak. Sial.

Sungguh. Tahun ini saya harus berjuang sekuat tenaga untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Saya tidak akan menyianyiakan waktu lagi. Saya akan meninggalkan kebiasaaan lama. Yaitu menjadi seorang peragu.

Lumayan. Saya sedikit agak enakan. Tidak seperti sebelum saya menulis ini.

Saya belum bisa tidur. Saya masih ingin menulis, membaca buku, atau menonton video tutorial. 

Jumat, 04 Agustus 2023

Satu Ekor Lele Mati Setelah Dua Hari Tebar

 Saya sudah mengira bahwat itu akan mati. Hari kemarin, mungkin tidak kelihatan karena masih tersimpan di dasar ember. Pagi ini, ia sudah mengambang.

Kemarin itu, ketika saya memindahkan ember, karena takut kena air hujan, mungkin ada satu lele yang loncat. Saya tidak tahu sampai tiga jam kemudian anak saya memberi tahu. Satu meter dari ember ada satu ekor lele yang tergeletak. Segera saya ambil, dan simpan lagi ke ember.

Karena air diember keruh, saya tidak tahu kondisi lele itu setelah dari darat selama 3 jam itu. Bila embernya transparan, akan terlihat lele itu lemas atau masih ada tenaga.

Pagi ini, lele itu sudah mengambang. Memang, saya sudah mengira itu dari kemarin. Ya, sudahlah. Dari total 20 ekor, ada satu yang mati. Semoga yang lainnya tidak. Saya berharap seperti itu.

Ukuran lele yang mati itu agak kecil dibanding lainnya. Mungkin sekitara 10-11cm.

Melihat 1 ekor saja yang mati, itu cukup membuat saya sedikit resah. Khawatir yang lain mengikutinya.

Kenapa? 

Karena modal saya sangat terbatas saat ini. Saya mulai membudidaya ikan lele bulan ini, Agustus 2023. 

Memang harus masih banyak belajar. Dan, tentunya belajar itu perlu waktu dan biaya. Jangankan yang masih belajar, orang yang sudah berpengalaman bertahun-tahun pun kadang masih mengalami sial. Biasanya, orang yang pintar akan belajar dari kesialannya itu.

Saya sadar akan hal itu. Dalam memulai belajar usaha itu pasti banyak tantangannya. Jangan dulu dalam hal bisnis, dalam hal teknis pun pasti banyak menghadapi masalah. Namun, tidak tahu kondisi mental saya ini mungkin lagi lemah. Modal yang saya punya saat ini sangat-sangat terbatas. Mungkin berbeda jika saya punya banyak modal. Ketika saya gagal, saya tidak ragu untuk memulai lagi. Ketika mau mengeluarkan modal, saya masih banyak pertimbangan. Ada banyak pertanyaan di kepala saya. Seperti:

"Dari pada beli aerator, mending beli bibit" muncul di kepala saya ketika hendak membeli aerator.

Berbeda lagi ketika akan melakukan hal lain, misal mau beli bibit.

"Beli bibit itu memang bagus, tapi kamu harus memikirkan bagaimana ngasi pakannya. Bukankah modal kamu terbatas? bagaimana dengan pakan untuk lele yang sudah ada?"

Ya, sudah. Saya memutuskan untuk menyimpan modal itu untuk keperluan pakan. 

Kemarin, 3 Agustus 2023, saya membeli satu bungkus pakan lele. Beratnya setengah kilogram. Harganya tidak terlalu mahal. Hanya Rp.8000. Jadi, saya masih banyak sisa uang modal.

Lah, ko cerita yang melebar ke mana-mana ya? 

Ya, sudah. Untuk cerita ini, saya akhiri dulu.

Perasaan Khawatir Muncul ketika Mulai Usaha Lele

Perasaan was-was itu selalu ada. Kemarin mungkin lebih dari 20 ikan lele saya pada mati. Dan, saya beli lagi 20 ekor dengan ukuran yang lebih besar. Saya khawatir mereka akan mengalami hal yang sama.

Memang, begitulah usaha. Selalu dihantui rasa takut. Namun, bila tidak bertindak juga akan dihantui rasa penyesalan pada akhirnya. Jadi, saya akan ambil keputusan, dan sudah mempertimbangkan resiko gagalnya.

Ketika mulai usaha, tidak harus semuanya kita tahu. Yang penting belajar sepanjang perjalanan. Tidak ada yang menjadi usaha apapun tanpa resiko kegagalan. Yang penting, pertimbangkan terlebih dahulu kegagalan itu.

Saya mulai ternak lele untuk belajar sebelum produk lebih banyak. Dari belajar ini tentu ada banyak biaya yang perlu dikeluarkan. Sama seperti kita sekolah dulu. Namun, yang namanya belajar tidak terbatas pada pelajaran yang ada di sekolah. Keahlian apapun perlu waktu untuk bisa menguasainya.

Beternak lele merupakan sebuah keahlian. Tidak bisa asal. Perlu banyak pengetahuan yang perlu kita serap. Seperti bagaimana kita mengeloal air, pemberian pakan, pembibitan dan lain sebagainya. Semuan perlu waktu untuk belajar. 

Saya biasanya punya kebiasaan selalu menunggu sempurna untuk memulai sesuatu. Harus belajar ini. Harus belajar itu. Kadang, ide saya tidak terwujud atau tidak terlaksana karena ada banyak pertanyaan-pertanyaan, kritikan-kritikan dalam pikiran saya. Atau mengharuskan menunggu sampai keadaan benar-benar sempurna. Namun, saya menyadari sekarang, bahwa keadaan itu tidak akan pernah datang. Kebiasaan menunda hanya membuang-buang waktu.

Memang, dalam usaha itu perlu kesabaran. Tapi, bukan berarti sabar sampai situasi sempurna. Sabar yang diperlukan dalam usaha adalah ketika hasil tidak sesuai harapan. Adanya banyak masalah ketika dalam perjalan. Misal masalah modal atau masalah teknis-teknis lainnya.

Kita tidak dapat menghilangkan semua masalah itu. Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana menghadapi dan menangani masalah-masalah tersebut. Caranya, yaitu dengan belajar tanpa henti. Terbuka dengan ide-ide dari luar. Atau, terbuka atas masukan-masukan dari luar.

Saat saat menulis ini, saya tidak sedang dalam suasana hati yang baik. Tidak tahu kenapa hati saya tidak enak. Seperti ada perasaan menggebu-gebu disertaik perasaan was-was.

Walaupun saat ini saya sedang mempelajari bagaimana berternak lele, tapi saya tidak akan mengabaikan kegiatan menulis. Saya sudah lama belajar mengulis. Mulai dari latihan sampai membeli buku-buku agar saya bisa terampil dalam membuat tulisan. Sekarang, saya sudah mulia terbiasa membuat tulisan. Dengan begitu, saya tidak akan menyia-nyiakan keterampilan ini. Harus saya rawat sampai bisa menghasilkan uang. Memberi manfaat minimal bagi sendiri.

Saya ingin usaha lele karena minimal bisa menjaga ketahanan pangan keluarga. Jika saya tidak bisa menjual hasil usaha lele itu, minimal saya bisa memakannya untuk keluarga. Jadi, masih ada manfaat walaupun sedikit. Harapan besarnya tentu untuk meningkatkan perekonimian keluarga. Harapannya saya mampu mengelola minimal 1000 ekor lele. 

Nampak kecil 1000 lele. Namun, itu bukan perkara mudah. Terutama modal. 

Saya tidak akan menyerah. Saya akan membeli semampunya terlebih dahulu. Tidak akan mikir terlalu jauh. Minimal saya bisa merawat lele-lele itu sampai besar, standar yang berada di pasaran yang siap di konsumsi.

Oh iya, saya belum menceritakan bagaimana saya bisa mendapat bibit lele.

Saya mencari bibit lele melalui tokopedia. Di tempat tinggal baru dan disekitarnya, saya belum tahu di mana tempat pengembang biakan lele.  Sehingga, cara yang paling mudah adalah dengan mencarinya melalui marketplace.

Ya, ternyata ada. Walaupun tidak banyak. Tapi, yang penting ada yang menyediakan.

Untuk harga bibit bervariasi. Tergantung pada ukurannya. Yang saya beli ukuran 11-14cm. Harganya 1000 per ekor. Di bawah itu lebih murah. Seperti bibit dengan ukuran 7-8cm, itu sekitar 550 per ekor.

Saya membeli dengan ukuran yang agak sedikit besar untuk menghindari resiko. Sebelumnya, saya pernah membeli bibit lele yang kecil, mungkin dibawah 5cm. Dan biasanya itu bukan untuk bibit. Tapi, untuk pakan ikan. Dengan tujuan belajar, saya membelinya. Tapi, pada akhirnya banyak yang mati.

Itulah yang membuat saya khawatir. Saya sudah mengeluarkan modal yang menurut saya relatif besar. Khawatir pembelian kedua ini berahir sama. Mati.

Hm, semoga tidak.

Selasa, 01 Agustus 2023

Hampir lupa menulis hari ini

Hari ini sudah masuk 1 Agustus 2023. Saya belum menunjukan perkembangan apapun dalam membuat konten. Masih terlalu banyak mikir ketika mau melakukan sesuatu. Masih belum berani memproduk konten baik tulisan maupun dalam bentuk lainnya seperti video atau audio.

Tulisan ini saja, saya tulis di blog yang sepi pengunujung.

"Lah, emang kamu punya blog yang ramai pengunjung?"

Belum sih. Tapi, yang ada pengunjungnya ada. Walaupun belum sampai ratusan ribu penonton. 

Saya membuat tulisan di blog ini, tujuannya adalah untuk membiasakan diri untuk menulis. Biasanya, saya menulis di google drive. Namun, saya akan pindah ke blog langsung. Agar rasa percaya diri saya meningkat.

Saya merasa dikejar waktu. Saya tidak bisa membuang-buang waktu lagi. Anak saya sudah besar. Dan, usia saya juga semakin tua. Tentu, tenaga yang saya punya tidak seperti dulu. Sehingga, saya perlu mencari penghasilan lain yang tidak terlalu menguras tenaga.

Untuk saat ini, salah satu bentuk usaha itu adalah menulis. Saya hanya menulis sesuatu yang saya ketahui dan saya alami. Itu tidak terlalu sulit bagi saya dibandingkan dengan menerima job membuat software. Dibutuhkan waktu dan pikiran yang tidak sedikit. Pengetahuan tentang teknologi harus selalu diupdate bila tidak mau jadi artefak. 

Seperti yang kita tahu, teknologi berkembang sangat cepat sekali. Persaingan kerja juga semakin meningkat. Sehingga, bila kita hanya punya skill yang biasa-biasa, kemungkinan akan sullit untuk bersaing.

Dalam dunia pemrograman, bila kita tidak update dengan perkembangan teknologi, maka kita akan sulit menerima proyek. 

Sebenarnya, konsumen tidak terlalu memperdulikan teknologi apa yang kita gunakan. Tapi, dalam bekerja kita tidak sendiri. Ada banyak orang yang terlibat. Dan, tentu saya harus menyesuaikan diri. Tidak bisa tidak. Oleh karena itu, saya harus mengerjar ketertinggalan. Harus selalu update dengan teknologi baru dan solusi-solusi baru.

"Emangnya, di dunia tulis menulis tidak terlalu sulit ya dalam menghadapi persaingan? bukankah sekarang menulis sudah bisa pakai ai?"

Ya, betul. Tapi, tidak sepenuhnya benar. Menulis novel itu tidak bisa dibuat dengan menggunakan AI. Menulis topik yang baru juga tidak bisa menggunakan AI. Menceritakan pengalaman pribadi juga tidak bisa menggunakan AI. Jadi, di sini menurut saya masih banyak peluang.

Menjadi programer itu cukup melelahkan. Berjam-jam di depan komputer. Ketika berhadapan dengan "bug", mata kadang terasa pedih. Oleh karena itu saya ingin ada sampingan agar tetap ada penghasilan.

Tuh, kan. Nggak kerasa saya nullis sudah lebih dari 500 kata. Ya, kurang lebih lah.

Bila disuru menulis bebas, saya masih mampu. Tapi, ketika saya ingin menulis tutorial, nggak tahu kenapa saya jadi banyak mikir. Akhirnya, tulisannya nggak jadi-jadi. Bete, kan?

Ya, bisa jadi apa yang ingin saya tulis itu belum selesai dalam kepala saya. Saya belum begitu menguasasi topik itu. Sehingga, saya agak sulit menulisnya.

Ah, sudahlah. Begitu saja tulisan kali ini. 

Bye.

Beli sepeda listrik

Saya sangat tertarik dengan sepeda listrik. Bukan hanya membuat pengeluaran seperti bensin jadi hemat, tapi karena saya malas untuk mengurus surat-surat seperti STNK.

Awalnya, sebenarnya tidak niat beli. Hanya penasaran. Pengen melihat langsung. Biasanya saya hanya lihat di youtube. 

Pergilah saya keluar jalan-jalan. Memang niat untuk ke toko-toko yang menjual sepeda listrik.

Waktu di jalan, saya di sebuah toko ada yang memajang sepeda listrik. Bentuknya unik. Mirip seperti Vespa. Ketertarikan saya terhadap motor listrik semakin meningkat.

Belakangan saya baru tahu model itu adalah uwinfly rf8.

Ah, kenapa kemampuan menulis saya jadi berkurang begini ya. Biasanya, saya mampu menulis banyak. Namun, kali ini kenapa saya jadi mikir-mikir lagi ketika mau menulis. Ah, payah.

Saya menulis bebas, tidak langsung di blog. Tapi, saya lakukan di google doc. Jadi, tidak saya posting. Namun, itu menjadi kebiasaan. Saya jadi tidak berani memposting tulisan-tulisan saya. Padahal, jika dihitung, jumlahnya sudah banyak, Mungkin sudah lebih dari 50 artikel.

Ini sengaja saya menulis. Tadinya, saya ingin menulis tetang sepeda listrik yang dua hari yang lalu saya beli. Ingin coba-coba untuk menulis review. Ah, ternyata tidak semudah yang dibayangkan mereview sebuah produk.

Saya sering menonton video review produk. Baik untuk otomative, gadget atau kuliner. Yang terakhir ini, jarang-jarang sih. Tapi, saya suka mendengarkan. 

Seharunya, itu membuat saya kaya akan sudut pandang. Belajar dari mereka bagaimana me-review produk.

Ah, men. tatapi saja sulit. Mungkin, saya harus banyak belajar lagi. Banyak mendengar. Namun, jangan sekedar banyak mendengar. Tapi, harus banyak praktik. Kombinasi kedua itu sangat penting.

Ya, memang. Faktanya. Saya tidak jarang belajar. Tapi, karena saya jarang praktek, ilmu saya baru hanya sekedar pengetahaun biasa. Belum ada kontribusi bagi hidup saya. Mulai saat ini, saya harus berubah. Harus banyak-banyak melakukan praktek.

Ya. Salah satunya yaitu membuat tulisan nggak jelas ini. Walaupun tidak jelas, ini merupakan ajang latihan bagi saya. Agar dapat menulis lancar dan mengalir. Tidak kaku.

Mungkin kamu juga pernah merasakan ketika ingin sekali menulis, tapi tidak mampu mengeluarkan sepatah katapu ketika sudah berhadapan dengan komputer. Rasanya, pengen membanting komputernya.

Hmm, untuk saya tidak melakukan itu. Jika saya melakukannya, saya harus praktik pake komputer siapa dong?

Tuh, lumayan, kan? Saya sudah menulis hampir satu halaman lebih. Penting sekali untuk konsistensi. Harus menulis setiap hari. Tidak apa-apa jika tulisannya tidak jelas atau tidak ada tujuannya sama sekali. Yang, jangan pernah berhenti menulis. Ini merupakan ajang latihan. Tidak ada yang akan membaca tulisan ini selain saya sendiri.

Akhir-akhir ini, saya menjadi sangat tertarik dengan motor listrik. Sehingga, kegiatan saya menjadi sering nonton youtube yang membahas tentang motor listrik. Sehingga, jadual menulis hampir diabaikan. 

Gimana caranya agar saya tetap bisa menulis setiap hari? Tiada lain memaksakan diri untuk menulis. Selalu mencari tahu apa yang menarik perhatian saya. Lalu, semua dituliskan. Atau, bisa juga begini. Saya ingin motor listrik. Keuangan saya saat ini belum cukup untuk membeli motor tersebut. Ada banyak ide yang muncul di kepala saya agar dapat membeli motor tersebut. Nah, itu yang bisa saya jadikan sebagai bahan tulisan di blog ini.

Saya ingat pesan bang tere. Ketika malas, tulis saja. Apapun yang ada dalam kepala. Tuangkan semuanya.

Itu saja dulu dah.

Senin, 31 Juli 2023

Service Software?

Saya pernah menulis ini di halaman facebook. Ada banyak yang berkomentar. Ada yang merasa heran dan menafsirkan sesuai profesinya. Ada juga yang mencoba memberi sedikit pengertian. Namun, yang terakhir ini menurut saya tidak memberikan sedikit pun pengertian.

"Mereka menggunakan bahasa konsumen." Ya, mungkin ini agar lebih familiar dan tidak dipusingkan dengan istilah teknis. "Tidak tahu teknik marketing" komentar ini juga kurang lebih sama menurut saya tujuannya. Yaitu agar lebih familiar ditelinga konsumen.

"Kamu tu lagi ngomongin apa, sih?"

Oh iya, saya belum ceritakan awal mulanya.

Sewaktu saya bersepada, saya tidak sengaja tulisan "service software" di depan sebuah konter. Tulisan itu ada di sebuah banner. Ukurannya mungkin sekitar dua meter. Diletakan di bagian depan atas konter itu. Tempat banner iklan rokok di warung pada umumnya.

Karena saya seorang programer, yang biasa dengan menulis software sehari-sehari, tentu punya pandangan lain setelah melihat tulisan itu. Yang muncul di kepala saya adalah "Mereka menerima bug fixing, kah?" Pertanyaan muncul itu otomatis. Tidak sengaja dipikirkan. Istilahnya "Blink*". Tiba-tiba saja.

Mungkin berbeda di kepala orang lain. Misal di kepala teknisi HP, istilah service software itu gunakan untuk kegiatan seperti flash hp, custom rom, reset ulang dan lain sebagainya. 

"Lah, itu kamu tahu. Kenapa masih bertanya?"

Saya tahu dari mereka yang berkomentar. Yang saya tahu, istilahnya lebih spesifik. Jarang saya dengar konsumen bilang "mau service software". Tapi, umumnya mereka bilang "Ini hp saya rusak, tolong dibantu, ya.". Yang menentukan mau diapakan hp itu adalah teknisi. 

Teknisi pun sepertinya jarang ada yang bilang "mau service software". Biasanya mereka akan bilang langsung "tolong hpnya di flash ya." atau "tolong ini roomnya di custom ya.". Setidaknya itu pengalaman saya bersama dua kakak ipar yang kebetulan keduanya adalah teknisi hp.

Jumat, 28 Juli 2023

Begini nasib orang nomaden

Di awal tahun ini, saya sudah menempati rumah baru. Tempat tinggal baru maksud saya. 

Tempatnya lebih luas dari tempat tinggal sebelumnya. Halaman bisa masuk mobil dan motor tanpa harus bersusah payah.  Kamar ada dua. Sehingga bila ada tamu, saya tidak bingung lagi. Saya punya tempat untuk bekerja yang sebelumnya masih bersamaan dengan kamar tidur. Ya, lumayan lebih baik dari sebelumnya.

Mungkin hanya beberapa menit dari tempat tinggal sebelumnya. Bila dalam kondisi macet, mungkin hanya butuh waktu sekitar 30 menit dari tempat tinggal asal ke tujuan. 

Saya tinggal di daerah ujung berung. Dan pindah ke daerah cimekar. Tidak jauh dari mesjid al-jabar. Hanya 15 menit dari rumah bila menggunakan motor.

Walaupun tempatnya relatif luas, namun di sini banyak nyamuk. Saya jadi ingat waktu tinggal di mertua, di daerah cibiru. Baik siang atau malam, nyamuk itu selalu ada. Bahkan, saya pernah terkena demam berdarah yang tidak saya sadari. Saya mengira itu hanya masuk angin biasa.

Air juga di sini tidak sejernih di ujung berung. Di sana air masih layak diminum. Di tempat air yang ada hanya pasir-pasir krikil. Di tempat baru, airnya banyak mengandung zat besi. Airnya tampak bersih, namun mengandung banyak zat besi. Sehingga banyak meninggalkan bekas kuning pada bak air, gayung, tembok kamar mandi dan toilet.

Karena tempat tinggal baru ini tidak jauh dari jalan tol cileunyi, udara di sini kadang panas. Udaranya tidak begitu segar bila siang dan sore hari. Kecuali pagi, itu masih terasa segar.

Bila hujan datang, tidak jarang banyak solokan yang mampet. Sehingga menimbulkan genangan air. Jikapun hujan tidak datang, selokan itu tetap ada genangan air pembuangan kamar mandi. Terlihat kotor dan banyak busa di depan rumah. Saya tidak heran bila banyak nyamuk.

Tapi, untungnya itu tidak berada di wilayah rt saya. Itu ada di rt lain yang letaknya tepat dibelakang rumah saya.

Wilaya perumahan ini luas sekali. Sehingga, ada banyak akses untuk bisa masuk ke perumahan ini. Dengan begitu, ada banyak peluang kejahatan. Yang umumnya saya dengar adalah pencurian sepeda motor dan pembobolan rumah kosong. Berbeda dengan tempat tinggal saya sebelumnya. Saya menyimpan motor diluar garasi pun, aman-aman saja. Ya, walaupun pak rt sempat bertanya "ini motor disimpan di luar aman?"

Yang paling terkenal dari daerah tempat tinggal baru ini adalah banjir. Ya, memang. Bila hujan datang, ada sebagian wilayah perumbahan menjadi langganan banjir. Lagi-lagi, di lingkungan rt saya tidak terdampak. Hanyak akses untuk masuk terhalangi banjir. Mesti memutar mencari jalan lain.

Ya, setiap tempat punya plus dan minusnya.  Tinggal memilih mama yang masih bisa ditolerir. Sulit untuk mencari tempat tinggal yang sempurna. Bahkan, mungkin bukan sulit. Tapi, hampir tidak mungkin. Pasti ada kelebihan dan kekurangannya.

Sebenarnya, saya merasa nyaman tinggal di ujung berung. Airnya bersih. Udaranya sejuk dan dingin. Dan, jauh dari kebisingan kendaraan. Namun, karena harga sewa yang semakin tidak masuk akal, saya memutuskan untuk pindah ke tempat yang sesuai dengan budget. Begini nasib orang nomaden.

Kamis, 27 Juli 2023

Saya belum bisa menulis di pagi hari

Kembali lagi. Menulis di malam hari. Rencananya, kemarin itu, sebelum saya menulis ini, saya akan menulis di pagi hari. Tapi, pada akhirnya saya menulis lagi di malam hari. Sudah larut. Saat ini tulisan ini dibuat, waktu sudah menunjukan 23.29.

Saya harus berlatih tanpa henti. Demi mewujudkan cita-cita sebagai penulis. Walaupun pada ahirnya tidak jadi penulis, tidak apa-apa. Setidaknya saya sudah berusaha. Blog ini merupakan bukti pembelajaran saya.

Saya akan menjadikan menulis sebagai kebiasaan setiap hari. 

Kenginan saya adalah menulis buku, atau menghasilkan sesuatu dari tulisan. Misalnya bisa dari blog atau sosial media. 

Kenapa bisa punya keinginan untuk menulis?

Saya senang jalan-jalan. Dari perjalan itu tentu dapat pengalaman. Nah, pengalaman itu yang ingin saya catat. Sebenarnya, bukan hanya sekedar mencatat. Tapi, ingin memanfaatkannya sebagai peluang untuk menghasilkan uang.

Saya ingin punya waktu bebas. Tapi, tentu kenginan tersebut ada harganya. Berbeda dengan kerja di tempat orang lain. Kita tidak perlu memikirkan hal-hal yang rumit di luar pekerjaan kita. Semuanya sudah punya atau ada posisinya masing-masing. Kita hanya fokus pada pekerjaan diri sendiri. Tapi, tetap bekerja sama dengan orang lain.

Ah, hampir saya kehilangan kata-kata lagi. Saya hampir tidak tahu apa lagi yang perlu saya tulis.

Ingat! saya teringat nasihat-nasihat dari guru-guru saya, baik langsung maupun tidak langsung, ketika mengalami hal demikian, tulisa saja apa yang terlintas di dalam pikiran. "Jangan jadikan menulis sebagai bebab. Tulis saja yang ada dalam pikiran." begitu para guru mengingatkan.

Tadi, sebelum saya menulis ini, saya ngobrol banyak dengan anak saya. Ngobrol ngalor-ngidul. Tapi, topiknya mengarah pada bagaimana menghasilkan uang dari yang kita senangi. 

Anak saya itu baru usia delapan tahun. Dia senang memelihara ayam. Bukan hanya sekedar memelihara yang dijadikan mainan. Tapi, dia sudah berpikir jauh. Dia ingin ayam-ayamnya nanti dijual. Hasil dari penjualan itu di tabung.

Wah, saya senang sekali mendengar ini. Dia sepertinya sudah mengerti bagaimana menjalani hidup. Bagaimana cara bertahan hidup.

Namun, keinginannya itu punya tantangan, yaitu ibunya tidak sejalan dengan keinginannya. Merasa risi dengan keadaan ayam-ayam itu. 

Memang sih, kotoran-kotoran ayam itu punya peluang untuk hinggap di pakaian yang dijemur. Sehingga, kandang ayam jangan dekat tempat yang biasa digunakan untuk menjemur pakaian. Mesti ada tempat khusus. Saya juga paham soal itu. 

Saya coba menengahi. Saya biarkan ayam-ayam itu berkeliaran di halaman rumah. Walaupun kotorannya bertebaran di mana-mana. Tapi, saya bersihkan setiap pagi. Khawatir bila kering nanti akan terbawa oleh angin dan hinggap di pakaian yang sedang dijemur. Itu punya peluang akan membawa penyakit ke pamakaiannya.

Ah, sudah dulu dah ceritanya. Saya ngantuk. Bye.

Saya harus lekas tidur, sudah larut malam

Akhir-akir ini saya jadi jarang menulis. Eh, bukan jarang menulis. Tapi, jadual menulis jadi dipindahkan ke malah hari. Biasanya, saya menulis satu artikel di pagi hari. Sekitar pukul 7 sebelum meeting.

Memang, akhir-akhir ini jadi agak sibuk. Sehingga, jadual menulis jadi pindah di malam hari. Saat saya menulis ini, waktu sudah menunjukan pukul 00:00. Dimana hampir semua orang sudah pada tidur. Memamg waktunya istiraha. Sementara, saya masih sibuk di depan layar komputer untuk menulis.

Kenapa tidak tidur saja?

Saya tidak mau latihan yang saya jalankan berhari-hari menjadi tidak berguna. Saya ingin membiasakan menulis setiap hari. Tentu, tujuannya adalah agar kemampuan menulis saya meningkat. 

Walaupun apa yang saya tulis ini mungkin tidak berguna, nggak jelas sedang membahas apa, ngomongnnya ngelantur sana-sini, saya tidak menganggap itu sia-sia. Saya akui, bisa saja tulisan ini jelek banget. 

Tapi, saya sama sekali tidak mengejar itu. Saya ingin mengejar kebiasaan menulis. Setiap hari, harus ada sesuatu yang saya tuliskan. Apapun itu. Dengan kebiasaan menulis, itu akan mempermudah saya ketika saya membuat repository ilmu atau membuat tulisan-tulisan dengan tujuan-tujuan lain. Misalnya, membuat blog untuk di monetize.

Selama ini, saya belajar tentang SEO, menyewa hosting dan membeli domain. Sayangnya, hosting dan domain itu belum saya maksimalkan untuk tujuan awal. Yang saya lakukan adalah belajar dan belajar. Sementara, hosting dan domain tidak terurus. Tidak ada kemajuan yang signikan. 

Saat tulisan ini dibuat, hosting dan domain itu sudah berumur lebih dari enam bulan. Tapi, belum menampakan kemajuan yang berarti. Sayang, bukan? Itu kebiasaan buru. Saya harus berusaha untuk menghentikannya.

Dengan membiasakan diri menulis setiap hari, saya membiasakan diri untuk berpikir kreatif. Proses menulis itu merupakan proses kreatif. Tidak semua orang mampu untuk menyalurkan pikiran atau perasaan-perasaan mereka ke dalam tulisan. Hanya orang-orang yang terbiasa menulis yang mampu melakukann itu. Saya ingin bisa menulis. Oleh karena itu, saya harus membiasakan diri menulis.

Emangnya, nggak cape ya nulis terus?

Awalnya begitu. Kadang, saya kehilangan motivasi. Dengan menulis, saya tidak mendapatkan apa-apa kecuali kemampuan menulis. Agar menulis dapat menghasilkan, maka saya perlu keahlian lain.

Mata sebensarnya uda sepet. Ingin sekali tidur. Tapi, tanggunglah. Saya harus menyelesaikan tulisan ini terlebih dahulu.

Dan, ini merupakan paragraf terkhir dari tulisan ini. Tidak terasa sudah lebih dari 500 kata. Saya merasa ada progress dalam proses latihan menulis. Semoga, kedepannya semakin baik lagi. Amin.  

Selasa, 25 Juli 2023

Terjebak pada teori-teori menulis

Cara menulis lancar mengalir
Ketika menulis, tulislah semua yang ada dalam pikiran. Apapun itu.

Jangan terjebak dengan teori-teori menulis. Semakin banyak teori yang kita dapat, biasanya menghambat kita dalam mengeluarkan ide, gagasan, atau perasaan untuk dapat kita tuangkan ke dalam tulisan. Kecuali, bila sudah terbiasa menulis atau sudah mahir. Teori-teori itu memang diperlukan. Namun, bagi penulis pemula seperti saya, itu biasanya akan menghambat kreativitas kita dalam menuangkan apa yang ada dalam pikiran kita. 

Jika kita masih pemula, fokus saja menulis. Banyak-banyaklah menulis. Jangan dulu mikirin teori ini dan itu. Tulis yang sudah selesai dalam pikiran kita.

Jangan seperti saya. Belajar terus dan terus. Namun, saya selalu ragu ketika hendak menulis. Memikirkan ini dan itu. Hingga akhirnya, saya tidak menulis apapun.

Aneh memang apa yang saya lakukan itu. Menulis itu salah satu kemampuan mekanis. Sesuatu yang harus dipraktikan. bukan hanya dipikirkan. Saya ingin jadi penulis. Namun, yang saya lakukan adalah hanya membaca tentang bagaimana caranya menuangkan gagasan dan aturan-aturan dalam menulis. Sementara, hal yang tidak kalah penting, yaitu menulis itu sendiri,  itu diabaikan. 

Saya jarang melatih atau mempraktikan kegiatan menulis itu. Sehingga, seberapa banyak apapun teori menulis yang saya dapatkan, hanya sebagai hiasan akal belaka. Saya tetap tidak mampu menulis. Walaupun bisa, saya terseok-seok dalam melakukannya. Bahkan hanya untuk menghasilkan satu paragraph atau beberapa kalimat.

Dalam menulis, praktik merupakan hal yang penting. Hal pertama yang wajib dilakukan adalah menulis, menulis dan menulis lagi. 

Apakah teori-teori seperti ketepatan bahasa, struktur penulis, membuat kerangka tulisan dan lain sebagainya itu tidak penting?

Semuanya tidak kalah penting. Namun, iringi dengan praktik. Bukan hanya sekedar membaca dan membaca. Itu tidak akan membuat sedikit pun kita sampai pada tujuan. Itu hanya sekedar rencana. Yang bisa membawa kita sampai pada tujuan menjadi seorang penulis adalah praktik.

Lalu, apa yang saya lakukan hingga dapat menulis sebanyak ini?

Saya tetap melanjutkan kebiasaan membaca. Tulisan apapun saya baca. Tujuannya bukan untuk serba tahu atau menjadi pintar. Hanya untuk memperkaya kata-kata, dan belajar kepada penulis-penulis itu bagaimana mereka menuangkan pikiran-pikiran mereka.

Yang berbeda adalah, saya akan segera menulis ketika selesai membaca. Mencari poin-poin penting, lalu mencatatnya.

Saya tidak memikirkan benar atau salah ketika menulis. Saya mencoba mengeluarkan kembali apa yang sudah saya masukan tadi. Saya jadikan sebagai latihan. Semakin saya banyak membaca, semakin banyak pula kosakota yang saya dapatkan. Karena kosakata saya banyak, saya lebih punya banyak peluang untuk mengungkapkan pikiran-pikiran saya ke dalam bentuk tulisan.

Kadang, kita punya sesuatu yang kita ingin ungkapkan. Tapi, karena kosakata kita terbatas, kita kesulitan dalam mengeluarkan sesuatu itu dalam bentuk kata-kata. 

Sesuatu itu bisa apapun. Lintasan pikiran, ide, gagasan, perasaan, pandangan kita terhada sesuatu dan lain sebagainya.

Ketika menulis, saya abaikan dulu semua aturan-aturan, tata bahasa, struktur tulisan, dan lain sebagainya. Pokonya, apapun yang menghalangi saya menulis, saya abaikan.

Tulisannya nggak jelas? nggak apa-apa. 

Topiknya nggak jelas? nggak apa-apa juga.

Saya abaikan semua kritikan-kritikan itu untuk sementara waktu. Fokus saya yaitu memproduksi kata-kata sebanyak mungkin. Saya tutup dulu keran-keran kritik itu untuk sementara agar aliran ide tidak tersumbat.

Pada awalnya mungkin kita hanya bisa memproduksi beberapa satu halaman. Namun, bila menulis kita jadikan kebiasaan, menulis 500 kata bukanlah sesuatu yang sulit. Itu yang saya rasakan pada saat ini.

Itulah yang saya lakukan hingga dapat menulis sepanjang ini. Sering-seringlah menulis. Apapun yang terlintas dalam pikiran, tulis. Jadikan itu kebiasaan setiap hari. Buatlah jurnal harian. Saya menulis minimal satu halaman sehari. Maksimal tiga halaman.

Ketika menulis, jangan dulu dengar kritikan-kritikan yang muncul dalam pikiran kita. Abaikan dulu semuanya. Entah itu soal tulisannya nyambung atau tidak, penting atau tidak, jelek atau tidak dan lain sebagainya. Semua itu abaikan untuk sementara. Fokuskan pada memproduksi tulisan sebanyak-banyaknya. Urusan merapihkan tulisan, bisa diabaikan untuk sementara.

Mungkin itu yang bisa saya sampaikan untuk kali ini. Terima kasih buat kamu untuk bisa menyempatkan waktu membaca tulisan ini. Semoga, tulisan ini bisa bermanfaat.