Kamis, 27 Juli 2023

Saya belum bisa menulis di pagi hari

Kembali lagi. Menulis di malam hari. Rencananya, kemarin itu, sebelum saya menulis ini, saya akan menulis di pagi hari. Tapi, pada akhirnya saya menulis lagi di malam hari. Sudah larut. Saat ini tulisan ini dibuat, waktu sudah menunjukan 23.29.

Saya harus berlatih tanpa henti. Demi mewujudkan cita-cita sebagai penulis. Walaupun pada ahirnya tidak jadi penulis, tidak apa-apa. Setidaknya saya sudah berusaha. Blog ini merupakan bukti pembelajaran saya.

Saya akan menjadikan menulis sebagai kebiasaan setiap hari. 

Kenginan saya adalah menulis buku, atau menghasilkan sesuatu dari tulisan. Misalnya bisa dari blog atau sosial media. 

Kenapa bisa punya keinginan untuk menulis?

Saya senang jalan-jalan. Dari perjalan itu tentu dapat pengalaman. Nah, pengalaman itu yang ingin saya catat. Sebenarnya, bukan hanya sekedar mencatat. Tapi, ingin memanfaatkannya sebagai peluang untuk menghasilkan uang.

Saya ingin punya waktu bebas. Tapi, tentu kenginan tersebut ada harganya. Berbeda dengan kerja di tempat orang lain. Kita tidak perlu memikirkan hal-hal yang rumit di luar pekerjaan kita. Semuanya sudah punya atau ada posisinya masing-masing. Kita hanya fokus pada pekerjaan diri sendiri. Tapi, tetap bekerja sama dengan orang lain.

Ah, hampir saya kehilangan kata-kata lagi. Saya hampir tidak tahu apa lagi yang perlu saya tulis.

Ingat! saya teringat nasihat-nasihat dari guru-guru saya, baik langsung maupun tidak langsung, ketika mengalami hal demikian, tulisa saja apa yang terlintas di dalam pikiran. "Jangan jadikan menulis sebagai bebab. Tulis saja yang ada dalam pikiran." begitu para guru mengingatkan.

Tadi, sebelum saya menulis ini, saya ngobrol banyak dengan anak saya. Ngobrol ngalor-ngidul. Tapi, topiknya mengarah pada bagaimana menghasilkan uang dari yang kita senangi. 

Anak saya itu baru usia delapan tahun. Dia senang memelihara ayam. Bukan hanya sekedar memelihara yang dijadikan mainan. Tapi, dia sudah berpikir jauh. Dia ingin ayam-ayamnya nanti dijual. Hasil dari penjualan itu di tabung.

Wah, saya senang sekali mendengar ini. Dia sepertinya sudah mengerti bagaimana menjalani hidup. Bagaimana cara bertahan hidup.

Namun, keinginannya itu punya tantangan, yaitu ibunya tidak sejalan dengan keinginannya. Merasa risi dengan keadaan ayam-ayam itu. 

Memang sih, kotoran-kotoran ayam itu punya peluang untuk hinggap di pakaian yang dijemur. Sehingga, kandang ayam jangan dekat tempat yang biasa digunakan untuk menjemur pakaian. Mesti ada tempat khusus. Saya juga paham soal itu. 

Saya coba menengahi. Saya biarkan ayam-ayam itu berkeliaran di halaman rumah. Walaupun kotorannya bertebaran di mana-mana. Tapi, saya bersihkan setiap pagi. Khawatir bila kering nanti akan terbawa oleh angin dan hinggap di pakaian yang sedang dijemur. Itu punya peluang akan membawa penyakit ke pamakaiannya.

Ah, sudah dulu dah ceritanya. Saya ngantuk. Bye.

0 komentar:

Posting Komentar