Saya pernah menulis ini di halaman facebook. Ada banyak yang berkomentar. Ada yang merasa heran dan menafsirkan sesuai profesinya. Ada juga yang mencoba memberi sedikit pengertian. Namun, yang terakhir ini menurut saya tidak memberikan sedikit pun pengertian.
"Mereka menggunakan bahasa konsumen." Ya, mungkin ini agar lebih familiar dan tidak dipusingkan dengan istilah teknis. "Tidak tahu teknik marketing" komentar ini juga kurang lebih sama menurut saya tujuannya. Yaitu agar lebih familiar ditelinga konsumen.
"Kamu tu lagi ngomongin apa, sih?"
Oh iya, saya belum ceritakan awal mulanya.
Sewaktu saya bersepada, saya tidak sengaja tulisan "service software" di depan sebuah konter. Tulisan itu ada di sebuah banner. Ukurannya mungkin sekitar dua meter. Diletakan di bagian depan atas konter itu. Tempat banner iklan rokok di warung pada umumnya.
Karena saya seorang programer, yang biasa dengan menulis software sehari-sehari, tentu punya pandangan lain setelah melihat tulisan itu. Yang muncul di kepala saya adalah "Mereka menerima bug fixing, kah?" Pertanyaan muncul itu otomatis. Tidak sengaja dipikirkan. Istilahnya "Blink*". Tiba-tiba saja.
Mungkin berbeda di kepala orang lain. Misal di kepala teknisi HP, istilah service software itu gunakan untuk kegiatan seperti flash hp, custom rom, reset ulang dan lain sebagainya.
"Lah, itu kamu tahu. Kenapa masih bertanya?"
Saya tahu dari mereka yang berkomentar. Yang saya tahu, istilahnya lebih spesifik. Jarang saya dengar konsumen bilang "mau service software". Tapi, umumnya mereka bilang "Ini hp saya rusak, tolong dibantu, ya.". Yang menentukan mau diapakan hp itu adalah teknisi.
Teknisi pun sepertinya jarang ada yang bilang "mau service software". Biasanya mereka akan bilang langsung "tolong hpnya di flash ya." atau "tolong ini roomnya di custom ya.". Setidaknya itu pengalaman saya bersama dua kakak ipar yang kebetulan keduanya adalah teknisi hp.
0 komentar:
Posting Komentar