Saya pun tidak menyangkal. Memang nampak kotor. Bila dibiarkan, tentu saja itu akan mengundang banyak lalat. Jangan heran juga bila menimbulkan bau tak sedap.
Saya pikir, untuk menjaga ketahanan pangan, mau gimana lagi. Walaupun sebenarnya banyak cara untuk melakukan itu. Namun, untuk saat ini, yang saya mampu saya pikirkan baru hanya sebatas memelihara ayam, bercocok tanam dan budidaya ikan lele dalam ember.
Malu sekali rasanya bila orang seperti saya, lulusan sekolah tinggi yang punya gelar sarjana, untuk makan pun masih susah. Dengan membangun ketahan pangan, setidaknya saya masih bisa makan. Dibandingkan saya harus cari pinjaman ke sana dan kemari hanya untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Saya cukup heran yang memandang saya aneh ketika saya memelihara ayam. "Mending kucing, lucu" begitu ucap mereka yang memandang remeh. Saya tidak tahu apa yang mereka pikirkan ketika memelihara kucing. Sementara, untuk makan mereka sehari-hari saja masih terseok-seok. Ini menambah lagi anggota baru di dalam rumah. Tentu, akan membebani biaya bulanan.
Saya juga heran, mereka itu lebih mengutakan hobi dibanding dengan kebutuhan hidupnya. Pelihara kucing, menanam tanaman hias, membeli perabotan pajangan dan lain-lain yang hanya untuk memuaskan keinginannya saja. Tidak ada tujuan lain selain itu. Misalnya, memelihara untuk keperluan menyambung hidup seperti menjual tanaman hias, atau jual beli kucing. Sementara, hidupnya sendiri masih susah. Seperti yang saya bilang sebelumnya, untuk makan saja mereka terseok-seok.
Sungguh, saya tidak memahami pikiran orang-orang seperti ini.
Memelihara ayam atau ternak lele itu mungkin memang tidak menyenangkan. Bau, kotor. Setiap hari harus membersihkan kotoran ayam agar tidak mengudang banyak lalat dan menimbulkan bau yang tak sedap di lingkungan rumah.
Begitu juga dengan beternak lele. Air yang saya tampung dalam ember memang nampak tak sedap dipandang. Kadang bisa menimbulkan bau. Dengan warna air yang seperti itu, hijau, merah, coklat muda, terkesan air itu sengaja dibiarkan begitu saja. Jorok. Mungkin beberapa orang yang tidak paham akan berkata "Ini air diember uda ijo begitu kenapa nggak dibuang, jorok sekali penghuni rumah ini." atau "ko penghuni rumah ini betah ya, di halaman rumahnya banyak air sudah ijo, sumber penyakit, sarang nyamuk."
Saya memaklumi bila ada orang yang berpikiran seperti itu karena mereka belum tahu. Tapi, yang kadang bikin gemes adalah mereka yang sok bersih, tak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Bahkan kebutuhan dasarnya seperti makan.
Saya kadang berpikir:
"Kenapa mereka tidak mau belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya yang membuat mereka seperti keadaan sekarang, dimana untuk makan saja sulit?"
"Apakah meraka ini terkendala modal, tidak ada keahlian, atau memang mentalnya seperti itu (pemalas)?"
Saya pernah menanyakan langsung. "Kenapa tidak berkebun saja? atau ternak. Bisa ayam atau ikan. Mana saja yang paling mudah. Yang penting bisa memenuhi kebutuhan dasar. Makan.
Apa respon mereka?
"Saya kurang suka seperti itu"
"Nggak tau kenapa, saya suka gagal bila ternak atau nanam"
"Ah, sudah tua. Pengen istirahat"
"Bukan waktunya lagi untuk belajar, yang penting gimana caranya bisa nyari uang"
Ya, sudah. Saya juga tidak memaksakan pendapat kepada orang lain. Mereka juga tahu resiko setiap keputusan yang mereka ambil.
Saya hanya mengingatkan, bahwa cari uang itu butuh ilmu. Setiap keputusan yang diambil pasti mengandung resiko. Besar atau kecilnya resiko itu relatif. Yang pasti, nyari uang itu nggak enak. Cape, dan kadang-kadang makan hati. Sudah berupaya-upaya kuat-kuat, namun kadang hasilnya tidak sesuai harapan.
Memang begitulah alurnya.
0 komentar:
Posting Komentar