Saya ingin mempelajari lagi buku itu. Sebenarnya, sudah saya baca. Namun, mungkin saya jarang praktik, semua yang dibaca itu lupa. Saya nggak ingat lagi nasihat-nasihat yang disampaikan buku itu.
Tentu saya punya tujuan. Saya mencoba mencari buku itu karena saya merasa buntu. Ketika menulis, saya merasa sulit untuk mengembangkan ide. Ketika saya latihan berbicara pun, masalahnya sama. Kesulitan untuk mengembangkan ide.
Ide itu memang gampang-gampang susah. Kita punya perasaan kesal misalnya. Itu juga merupakan ide. Bisa dijadikan topik pembicaraan. Tulisan ini pun berasal dari kekesalan saya karena sulit untuk mengembangkan ide. Tidak jarang ketika menulis, baru beberapa paragraf, saya sudah bingung untuk melanjutkannya. Saya mencoba berbicara di depan kamera, baru beberapa menit, sudah bingung. Selanjutnya saya mau berbicara apa lagi.
Saya sebenarnya sudah bisa menangani permasalahan-permasalah umum yang sering di alami penulis. Saya sudah tidak takut lagi menghadapi kertas kosong. Saya sudah mampu mengisinya. Namun, saya merasa nggak ada perkembangan. Saya hanya mampu menulis beberapa paragraf.
Bisa jadi, yang saya sampaikan itu keterangan atau penjelasannya masih pada tingkat kulit. Masih ringan-ringan. Belum terlalu dalam. Saya ingin lebih dari itu. Mengupas permasalahan secara dalam.
Bukan hanya itu, saya juga ingin topik yang saya sampaikan bisa sampai pada pembaca. Menarik perhatian. Dan, enak untuk dibaca. Begitu juga dengan percakapan. Ketika saya menyampaikan sebuah ide lewat video, saya nggak mau menyampaikannya dengan gaya atau cara yang monoton dan membosankan.
Bagaimana caranya? salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan belajar teknik retorika.
Saya punya buku itu. Tidak banyak. Hanya satu. Namun, menurutku cukup untuk belajar retorika.
Sayangnya, saya jarang memperaktikannya. Sehingga, saya tidak mendapatkan ilmu itu.
Sekarang saya sadar. Buku itu tidak hanya sekedar dibaca. Bukan hanya sekedar penghias akal. Tapi, itu semua perlu dipraktikan. Perlu diamalkan. Saya tidak akan mendapatkan manfaat dari bahan bacaan itu bila hanya sekedar membaca dan tidak mencoba untuk mempraktikannya.
Secara teori, saya sudah tahu bagaimana teknik berpidato, mencari ide yang menarik, kemudian mengembangkan ide itu. Namun, itu semua tidak cukup. Teori itu tersimpan di kepala. Belum meresap di dalam hati. Bila saya analogikan dengan bumbu masakan, saya baru menaruh bumbu itu. Belum menggunakannya sama sekali. Sehingga, bisa saja bumbu itu terlupakan karena jarang digunakan. Oleh karena itu, saya wajib mempraktikan ilmu itu agar meresap ke dalam dada.
Tentu, ada banyak manfaat yang saya dapat. Ketika saya menulis, saya mampu mengarahkan tulisan saya. Bukan hanya sekedar menulis seperti yang saya lakukan salama ini. Menulis hanya sekedar untuk latihan. Menulis hanya sekedar untuk terapi jiwa. Dengan menerapkan teknik retorika, tulisan saya menjari terarah. Misalnya untuk tujuan informatif, persuasif, atau hiburan.
Misalnya, saya mau jualan eCourse. Tentu saja, tulisan saya harus dengan tujuan persuasif. Mengajak orang untuk bergabung. Saya perlu menjelaskan keuntungan-keuntungan yang didapat setelah ikut eCourse. Mungkin juga saya perlu menuliskan kerugian bila tidak mengikuti eCourse. Intinya, bagamana membuat tulisan dengan tujuan membujuk.
Atau, membuat tulisan dengan tujuan hanya sekedar menyampaikan informasi. Misalnya, saya menulis tentang cara kerja web, mengenalkan bahasa pemograman PHP, mengenalkan framework ionic dan lain sebagainya.
Ya, itu beberapa keuntungan mempelajari teknik retorika. Oleh karena itu, saya perlu untuk membaca kembali buku itu. Bukan hanya sekedar membaca, tapi saya perlu sering berlatih.
0 komentar:
Posting Komentar