Mungkinkah skill menulis menjadi berkurang bila jarang digunakan? mungkinkah ide itu sulit datang bila kita jarang menulis?
Mungkin saja. Setidaknya itu yang saya rasakan. Saya sudah lama nggak pernah menulis. Yang saya rasakan adalah tangan menjadi agak kaku. Kadang sering typo. Kemampuan mengetik saya menjadi berkurang. Menjadi lambat. Tidak secepat seperti sebelumnya ketika sering menulis.
Itu dari sisi kemampuan mengetik. Dari sisi mengalirkan ide dari pikiran ke tulisan pun kurang lebih sama. Saya agak kesulitan untuk mengungkapkan pikiran saya. Mengalirkannya ke dalam tulisan. Jadi banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Saya merasa kembali seperti ketika saya belajar menulis tahun lalu. Kadang bingung apa yang akan ditulis, bagaimana cara mengembangkan ide, kalimat, dan lain sebagainya. Ada banyak pertanyaan sehingga urung untuk menulis karena melayani pertanyaan-pertanyaan itu.
Saya nggak mau seperti itu. Sayang, kan? skill yang sudah diasah selama setahun dibiarkan begitu saja. Jadi, blog ini harus saya aktifkan lagi. Saya harus penuhi blog ini dengan tulisan-tulisan. Saya ngak perduli orang suka atau tidak. Saya nggak perduli blog ini akan banyak orang yang berkunjung atau tidak. Yang penting bagi saya adalah jangan sampai kehilangan motivasi menulis. Urusan uang itu belakangan. Yang penting, terus saja gerakan tangan untuk menulis. Konsisten. Biasanya urang itu akan mengikuti orang yang konsisten.
Ya, itu nasihat untuk diri saya sendiri agar tetap konsisten dalam menulis. Jangan berhenti berkarya meskipun tidak ada orang yang melihatnya. Tidak satu pun orang yang meliriknya. Apalagi memberikan apresiasi.
Untuk saat ini, saya nggak perlu perdulikan itu. Terus saja menulis. Lawan rasa malas itu.
Ya, memang saya sedang malas untuk menulis. Sesuai judul.
"Tapi, ko bisa-bisanya menulis?"
Saya ingat ketika saya mencoba mengenal ide lebih dekat. Ide itu bukan hanya sekedar gagasan atau lintasan pikiran yang ada di kepala kita. Tapi, apa yang kita rasakan, itu juga merupakan sebuah ide. Saya sekarang sedang merasa malas untuk menulis. Dan, saya berpikir "mungkinkah bila saya pelihara rasa malas ini terus-menerus, kemampuan menulis saya akan terkikis?". Jadi, rasa malas yang saya rasakan itu menjadi sebuah ide untuk menulis. Ya, hasilnya tulisan ini.
Sungguh, saya tidak menyangka tulisan ini akan sebanyak ini. Biasanya, dulu ketika awal-awal belajar menulis, jangankan menulis untuk satu atau dua paragraf, kadang untuk menulis satu kalimat pembuka pun saya nggak sanggup. Apalagi berbicara ide, sulit bagi saya untuk mengungkapkannya.
Ternyata, apa yang kita rasakan, itu bisa menjadi sumber ide. Misal, ketika saya merasakan sulitnya mencari penghasilan tambahan. Pasti di dalam pikiran itu ada banyak pertanyaan, atau setidaknya ada satu atau dua pertanyaan. Apa yang perlu saya lakukan agar bisa menanbung untuk membeli rumah? bila saya menjalankan usaha ini, kira-kira berapa modal yang diperlukan? berapa jam yang akan saya sishkan untuk mengerjakan pekerjaan tersebut? dan lain sebagainya.
Atau, misal kamu merasa "ko, teman-teman saya sudah pada sukses, sementara saya masih begini-begini saja, apa yang salah dengan diri saya?". Ya, kurang lebih seperti itu.
Setelah memahami ide, saya tidak terlalu kesulitan untuk mencari ide. Apa yang saya rasakan, atau ada lintasan-lintasan pikiran di kepala saya, itu akan saya catat. Kemudian, ide-ide itu akan saya kembangkan. Tulisan itu jelek atau tidak, itu nggak penting. Yang utama adalah bagaimana bisa menangkap ide dan menjadikannya sebuah karya. Tujuannya adalah melatih kepekaan.
Ya, mungkin itu saja yang saya tulis kali ini. Rasa malas itu nggak selamanya buruk. Jika kita mampu mengelolanya, itu akan menjadi sebuah tulisan. Menjadi sebuah karya. Tulisan ini berangkat dari rasa malas yang saya rasakan. Namun, saya mencoba untuk menangkap perasaan itu, dan mencoba mengungkapkannya melalui tulisan ini. Jadilalah tulisan ini.
0 komentar:
Posting Komentar