Sabtu, 19 Agustus 2023

Jangan habiskan waktu untuk hiburan semata

Nggak kerasa waktu sudah menunjukan pukul 16:26. Begitu cepat waktu berjalan. Sementara, saya hanya duduk menonton video. 

Untungnya, saya sudah meninggalkan kebiasaaan dulu yang hanya sekedar nonton. Nonton hanya sekedar nyari hiburan untuk mengusir rasa penat. Saya menyaksikan video-video yang membangun, seperti bagaimana bisa meningkatkan keterampilkan menulis, bagaimana mendapatkan video yang bagus, bagaimana menyusus cerita yang menarik dan lain sebagainya. Intinya, jangan melewatkan waktu begitu saja tanpa melakukan hal-hal yang bermanfaat.

Menonton video mencari ide blog
Photo by Karolina Grabowska

Saat ini, saya senang dengan kegiatan menulis. Nggak tau kenapa alasannya bila ada yang menakannya. Sepertinya, seru bila mendokumentasikan  pengalaman-pengalaman yang telah dilewati.

Menulis bukan hanya menceritakan tentang pengalaman-pengalaman pribadi, tapi bisa digunakan untuk mengajar. Anak saya suka matemateka. Padahal, kebanyak anak-anak seusianya alergi dengan pelajaran itu. Lalu, bagaimana anak saya bisa suka dengan pelajaran itu? Saya pikir, saya mengajarinya melalui cerita. Bukan cerita yang ngawang-ngawang, tapi yang mendekati kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, dia menjadi tertarik.

Ya, cerita bisa digunakan untuk media belajar. Dari dulu sampai sekarang, teknis bercerita ini dinilai lebih efektif. Bahkan, kitab suci pun mengandung banyak cerita-cerita dalam mengajarkan umatnya.

Tidak ada orang yang tidak suka dengan cerita. Terlepas dari apa yang diceritakan, saya yakin semua orang mendengarkan cerita. Dari dulu sampai sekarang kesukaan orang terhadap cerita tidak berubah.

Dahulu, cerita hanya disampaikan melalui lisan. Namun, saat ini bisa melalui teks, teks dan tulisan, bahkan bisa melalui video. Atau, umumnya cerita dalam bentuk video disebutnya film.

Keahlian bercerita itu bisa digunakan dibidang apapun. Bukan hanya dalam bidang kesenian seperti kepenulisan atau perfilman. Saat ini, cerita digunakan juga dalam marketing. Itu lebih bisa menarik perhatian dibanding menjual sesuatu secara langsung. Bahkan, bila ceritanya menarik, orang rela untuk membayar lebih mahal untuk barang yang sama dengan harga yang relatif murah.

Jadi, akhir-akhir ini, saya terus meningkatkan keahlian menulis. Saya membaca buku, mendengarkan podcast, atau menonton video dari youtube. Sehingga, saya merasakan peningkatan yang signifikan.

Menulis itu butuh sesuatu atau bahan tulisan. Bahan itu bergantung apa yang akan kita tulis. Misal, saya ingin menulis tentang "programing", maka bahan-bahan yang saya perlukan adalah materi-materi tentang programing itu. Yang saya lakukan bisa baca melalui blog atau menonton video. Tanpa bahan-bahan itu, saya kesulitan.

Seperti itulah. Saya menonton video bukan hanya sekedar untuk hiburan, tapi untuk mendapatkan bahan-bahan tulisan.

Saya sangat senang kemanjuan ini. Dengan skill menulis yang semakin meningkat, kemanapun saya pergi, atau apapun yang saya lakukan, bisa saya jadikan sebagai tulisan. Terlepas itu menarik atau tidak bagi orang lain, banyak mencari atau tidak di mesin pencari, yang utama adalah bahan-bahan tulisan itu yang akan saya gunakan untuk latihan.

Sebelum saya bisa menulis, hari-hari saya dilewatkan begitu saja. Padahal, ada banyak hal yang menuruk saya menarik untuk diceritakan. Atau, bisa saja pengalaman-pengalaman itu bukan hanya diceritakan, tapi sebagai sesuatu yang diperlukan oleh orang lain. Sehingga, bisa lebih bermanfaat.

Sekarang, walaupun kemampuan menulis mungkin belum mencapai kondisi ideal, tapi saya sangat puas dengan pencapaian ini. Indikator keberhasilannya adalah saya mampu menulis artikel ini dengan mudah. Nggak perlu banyak mikir.

Alhamdulillah.

Nyari duit itu, nggak ada yang enak

"Ih, jijik. Banyak lalat" sambil melihat tumpukan kotoran ayam yang berserakan di halaman depan rumah saya.

Saya pun tidak menyangkal. Memang nampak kotor. Bila dibiarkan, tentu saja itu akan mengundang banyak lalat. Jangan heran juga bila menimbulkan bau tak sedap.

Saya pikir, untuk menjaga ketahanan pangan, mau gimana lagi. Walaupun sebenarnya banyak cara untuk melakukan itu. Namun, untuk saat ini, yang saya mampu saya pikirkan baru hanya sebatas memelihara ayam, bercocok tanam  dan budidaya ikan lele dalam ember.

Malu sekali rasanya bila orang seperti saya, lulusan sekolah tinggi yang punya gelar sarjana, untuk makan pun masih susah. Dengan membangun ketahan pangan, setidaknya saya masih bisa makan. Dibandingkan saya harus cari pinjaman ke sana dan kemari hanya untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Saya cukup heran yang memandang saya aneh ketika saya memelihara ayam. "Mending kucing, lucu" begitu ucap mereka yang memandang remeh. Saya tidak tahu apa yang mereka pikirkan ketika memelihara kucing. Sementara, untuk makan mereka sehari-hari saja masih terseok-seok. Ini menambah lagi anggota baru di dalam rumah. Tentu, akan membebani biaya bulanan.

Saya juga heran, mereka itu lebih mengutakan hobi dibanding dengan kebutuhan hidupnya. Pelihara kucing, menanam tanaman hias, membeli perabotan pajangan dan lain-lain yang hanya untuk memuaskan keinginannya saja. Tidak ada tujuan lain selain itu. Misalnya, memelihara untuk keperluan menyambung hidup seperti menjual tanaman hias, atau jual beli kucing. Sementara, hidupnya sendiri masih susah. Seperti yang saya bilang sebelumnya, untuk makan saja mereka terseok-seok.

Sungguh, saya tidak memahami pikiran orang-orang seperti ini.

Memelihara ayam atau ternak lele itu mungkin memang tidak menyenangkan. Bau, kotor. Setiap hari harus membersihkan kotoran ayam agar tidak mengudang banyak lalat dan menimbulkan bau yang tak sedap di lingkungan rumah.

Begitu juga dengan beternak lele. Air yang saya tampung dalam ember memang nampak tak sedap dipandang. Kadang bisa menimbulkan bau. Dengan warna air yang seperti itu, hijau, merah, coklat muda,  terkesan air itu sengaja dibiarkan begitu saja. Jorok. Mungkin beberapa orang yang tidak paham akan berkata "Ini air diember uda ijo begitu kenapa nggak dibuang, jorok sekali penghuni rumah ini." atau "ko penghuni rumah ini betah ya, di halaman rumahnya banyak air sudah ijo, sumber penyakit, sarang nyamuk."

Saya memaklumi bila ada orang yang berpikiran seperti itu karena mereka belum tahu. Tapi, yang kadang bikin gemes adalah mereka yang sok bersih, tak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Bahkan kebutuhan dasarnya seperti makan.

Saya kadang berpikir:

"Kenapa mereka tidak mau belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya yang membuat mereka seperti keadaan sekarang, dimana untuk makan saja sulit?"

"Apakah meraka ini terkendala modal, tidak ada keahlian, atau memang mentalnya seperti itu (pemalas)?"

Saya pernah menanyakan langsung. "Kenapa tidak berkebun saja? atau ternak. Bisa ayam atau ikan. Mana saja yang paling mudah. Yang penting bisa memenuhi kebutuhan dasar. Makan.

Apa respon mereka?

"Saya kurang suka seperti itu"

"Nggak tau kenapa, saya suka gagal bila ternak atau nanam"

"Ah, sudah tua. Pengen istirahat"

"Bukan waktunya lagi untuk belajar, yang penting gimana caranya bisa nyari uang"  

Ya, sudah. Saya juga tidak memaksakan pendapat kepada orang lain. Mereka juga tahu resiko setiap keputusan yang mereka ambil.

Saya hanya mengingatkan, bahwa cari uang itu butuh ilmu. Setiap keputusan yang diambil pasti mengandung resiko. Besar atau kecilnya resiko itu relatif. Yang pasti, nyari uang itu nggak enak. Cape, dan kadang-kadang makan hati. Sudah berupaya-upaya kuat-kuat, namun kadang hasilnya tidak sesuai harapan.

Memang begitulah alurnya.

Senin, 14 Agustus 2023

Beberapa alasan kenapa saya membeli sepeda listrik daripada motor bensin bekas


Sepeda Motor Listrik Uwinfly RF8

Membeli sepeda listrik bagi sebagian orang mungkin seperti sebuah tindakan membuang-buang uang saja. "mending beli motor sekalian, bisa dipake kemana-mana" begitu salah satu alasannya.

Saya tidak anti dengan pernyataan pertentangan seperti itu. Saya tetap mendengarkan alasan-alasannya. Ini merupakan bahan-bahan untuk kegiatan menulis. Termasuk untuk menulis tulisan ini.

Saya punya alasan kenapa saya memutuskan untuk membeli sepeda listrik daripada membeli sepeda motor bensin bekas


Pertama, sepeda listrik itu relatif murah dibanding dengan motor bensin bekas. Banyak sepeda listrik dengan harga 3-4 jutaan. Dengan harga segitu, kita dapat sepeda baru. Disertai dengan garansi. 

Berbeda dengan sepeda motor bekas bensin. Saya harus mempersiapkan biaya untuk ke bengkel. Belum tentu kita dapat motor bekas dengan harga segitu mulus. Pasti ada saja yang perlu diperbaiki. Entah itu kaki-kaki, oli, ban dan lain sebagainya.

Untuk dapat motor bekas dengan kondisi yang relatif bagus, itu sulit dengan harga segitu. Umunya, di atas 7 juta. Di bawah itu, untung-untungan.

Sepeda listrik, dengan harga segitu sudah siap pakai. Tidak perlu mikirn biaya lagi.

Kedua, saya tidak punya keperluan banyak. Saya hanya menggunakan sepeda listrik untuk keperluan belanja ke warung, nganterin anak main, berkunjung ke saudara. Dengan kata lain, untuk kebutuhan jarak dekat dan hanya sekitar rumah. Jika ingin bepergian jauh, saya punya kendaraan roda empat. Tidak perlu motor.

Saya menggunakan sepeda listrik hanya untuk berkeliling sekitar rumah. Seperti belanja, mengantar anak main, pergi ke rumah saudara.

Ketiga, sepeda listrik punya baterai yang di-support selama 6 bulan. Dengan kata lain, ada garansi baterai. Saya tidak perlu khawatir soal baterai seperti yang dikhawatirkan oleh orang-orang yang lebih memilih motor bekas bensi. Kalaupun ada masalah, saya hanya perlu ke dealer atau tempat tokonya. Lalu, ajukan komplain. Tidak perlu ada biaya yang perlu saya keluarkan. Hanya perlu ongkos menuju ke sana.

Mengisi bensin sedikit, itu lebih mahal dibanding mengisi banyak. Sementara kebutuhan saya hanya sedikit. Di pertamini, harga pertalite, bensi subsidi, itu lebih mahal dibanding mengisi di pom bensin.

Pom bensin cukup jauh, jadi jika mengisi hanya 1 atau 2 liter, adalah tindakan membuang-buang waktu. Kita tahu, antrian pertalite itu saat ini sudah mengular. Berbeda dengan waktu dulu.

Menggunakan sepeda listrik, saya hanya perlu mengisinya di rumah. Itupun saya lakukan di malam hari. Di siang hari, hanya tinggal memakainya. Satu kali cas, itu cukup lebih dari satu hari. Tidak perlu antri dan panas-panasan. Hanya perlu kesabaran.

Mungkin itu beberapa alasan saya memberli sepeda listrik.

Ada pernyatan menari.

"Sepeda listrik itu aneh, nggak ada suaranya" 

Ini pernyataan yang cukup menggelitik. Ya jelaslah. Namanya juga sepeda. Jangankan sepeda listrik, motor listrik juga nggak ada suaranya. Hening. 

Justru saya lebih suka mengendarai dengan hening. Tidak ada getaran mesin, panas dan suara bising. Itu terasa banget ketika di lampu merah.

Sementara saya cukup dulu tulisan ini.

Minggu, 13 Agustus 2023

Kegiatan di Pagi Hari, Minggu, 12 Agustus 2023

Hari ini saya bangun kesiangan. Saya tahu, itu kebiasaan buruk. Saya pun tidak menginginkannya. Tapi, entah kenapa, walaupun saya memasang weker, tetap saja saya tertidur pulas hingga hampir jam 7.

Memang, saya tidur terlalu larut. Sekitar pukul 00.30. Saya menghabiskan waktu untuk membaca buku, menulis, dan nonton TV.

Tapi, ya sudahlah. Itu bukan sesuatu yang disengaja. Kadang, saya juga sadar tidak sadar sudah bangun kemudian mematikan jam weker.

Ya, itu bisa jadi kesalahan saya. Mungkin sudah jadi kebiasaan sehingga agak sulit untuk merubahnya. Tapi, yang penting saya sudah bangun. Dan, ya menurut saya tidak terlalu siang. Masih bisa merasakan sinar matahari dan sejuknya pagi.

Ini sabut, hari libur. Apa kegiatan saya? masih sama seperti hari-hari biasa. 

Saya membersihkan halaman rumah. Bukan hanya disapu, tapi juga dipel. Ada banyak kotoran ayam. Kering maupun basah. Karena saya suka jemur pakaian di halaman rumah, khawatir kotor-kotoran itu menjadi debu kemudian nempek di jemuran. Saya pikir itu akan menimbulkan penyakit seperti gatal-gatal, jamur, dan penyakit kulit lainnya. Sehingga kegiatan membersihkan halaman rumah dengan cara di pel, disikat lantainya hingga bersih merupakan kewajiban. Demi menjaga kesehatan.

Selain itu, bila dibiarkan akan mengundang lalat. Itu menimbulkan kesan jorok. Bukan hanya di halaman rumah, lalat-lalat itu akan masuk ke rumah.

Bau kotoran juga akan menyengat bila tidak dibersihkan. Masuk ke ruangan rumah, ke dapur, ruang tengah, hingga kamar. Tentu itu akan membuat tidak nyaman penghuni rumah.

Halaman sudah selesai dibersihkan, lalu apa selanjutnya?

Saya menyiram tanaman. Mungkin kesannya tanaman saya banyak, tapi sebenarnya tidak, Hanya tanaman kangkung yang saya tanam sekitar seminggu yang lalu. Entah kenapa saya ingin mulai bercocok tanam kembali seperti tahun lalu, 2022. 

Sebenarnya, saya punya beberapa bibit tanaman. Bukan hanya kangkung. Ada tomat, cabe rawit, sawi, dan causin. Namun, untuk tomat dan cabe itu perlu media tanam yang lain. Saya hanya punya sekam bakar dan cocopit. Sementara untuk causin dan sawi, bibitnya sudah kadaluarsa. Sehingga setelah tiga hari saya semai, nggak ada tumbuh. Saya tergelitih dalam hati "Ya, pastilah nggak bakalan tumbuh."

Untuk cabe rewit, itu nggak bisa bisa ditanam di sekam bakar atau cocobit. Ia merupakan tumbuhan akar kuat. Itu harus menggunakan media tanah. Jadi, untuk sementara saya belum bisa menanam itu.

Menulis

Setiap hari saya tidak akan meninggalkan kegiatan menulis. Itu merupakan kegiatan wajib yang harus saya lakukan setiap hari. Soal menulis apa, saya akan menulis apapun dan topik apapun. Hanya untuk membiasakan diri.

Termasuk tulisan ini. Jika ditanya "ini tulisan masuk ke topic apa?" saya tidah tahu. Yang penting bagi saya adalah menulis. Belum saya pikirkan soal menulis apa.

Bukan hanya tulisan ini, semua tulisan di blog ini merupakan catatan harian saya. Apa yang sedang saya rasakan, pikirkan, renungkan, kekesalan dan lain-lain, saya tuliskan di blog ini.

Saya menulis ini menggunakan kerangka. Sesuatu yang jarang saya gunakan. Saya pikri itu nggak akan berguna. Ternyata, duggan saya salah.

Baru kali ini saya menggunakan itu. Ternyata cukup memudahkan. Saya bisa memetakan apa yang akan saya sampaikan ke pembaca. Sehingga, tulisan saya lebih terarah. 

Di dalam kerangka tulisan, saya bisa menyusun poin-poin yang akan saya sampaikan. Ini memudahkan saya ketika akan mengembangkan kalimat atau paragraf.

"Hm, ternyata lebih mudah menggunakan kerangka karangan, ya" pikirku.

Kerangkan tulisan ini akan saya gunakan lagi ketika memulai tulisan yang lain. Karena benar-benar membantu dalam proses penulisan.

Menguras Aquarium

Kegiatan selanjutnya adalah menguras aquarium. Kegiatan ini memang sudah saya rencanakan sebelumnya. Jadi, bukan kegiatan dadakan.

Saya sudah mencium aroma tidak sedap. Saya buka filter, di sana terdapat banyak cacing. Saya tidak tahu itu cacing berasal dari mana. Apakah dari kotoran ikan, atau berasal dari bekas penyedotan ikan lele. Saya jijik melihatnya. Oleh karena itu, saya segera menggantinya dan menguras airnya.

Saya kira, cacing-cacing itu akan mati ketika dijemur. Saya pikir panas matahari akan melenyapkannya. Ternyata tidak. Mereka tetap hidup. "Cukup aneh" pikir saya. 

Sayang, saya tidak memotretnya. Saya langsung buang saja ke tong sampah karena khawati bisa terbang terbawa angin.

Mungkin, jika saya memotretnya, saya bisa tahu jenis cacing apa.

Mungkin sekian dulu tulisan ini.


Jumat, 11 Agustus 2023

Suara adzan magrib..

Tak terasa sudah magrib lagi. Rasa ngantuk sudah menyerang sebelum solat di laksanakan.

Ingat waktu dikampung, jika waktu adzan tiba, saya dan teman-teman berebut giliran untuk mengumandangkan adzan. Bangga rasanya jika sudah bisa mengumandangkan adzan.

Bisa adzan menjadi kebanggan pada saat itu. Banyak di mesjid-mesjid lain pun yang mengundangkan adzan itu adalah anak kecil.

Sekarang saya tinggal di Bandung. Sudah jarang sekali saya mengumandangkan adzan. Jangankan untuk mengumandangkan, kadang ketika adzan berkumandang, saya abai. Tidak di dengar adzan itu. Lebih sibuk ke layar komputer, smartphone atau TV.

Kebetulan tempat tinggal saya deket masjid. Namun, saya jarang ke sana. Untuk ini saya punya alasan. Namun, sebenarnya alasan itu bisa dikompromikan.

Kembali lagi soal adzan magrib.

Saya dan teman-teman biasanya sudah ada di masjid satu jam sebelum adazan magrib tiba. Mungkin sekitar jam lima. 

Sambil menununggu waktunya tiba, saya dan teman-teman senang bermain "gegelutan". Merasa laki banget.

Sekarang sudah hampir 20 tahun saya di bandung. Kangen sekali suasana itu. Serasa ingin balik lagi ke masa lalu.

Musin hujan adalah waktu yang di nanti-nanti. Lantai bagian mesjid biasanya basah terkena air hujan itu dan kotor. Banyak pasir. Sehingga, jika terinjak akan menimbulkan kesan kotor pada lantai. 

Saya dan teman-teman memanfaatkan momen itu untuk main perosotan. Dengan alasan "membersihkan masjid", kami diijinkan untuk mengepel sambil prosotan. Gampang sekali untuk bahagia saat itu. Hanya bekal air dan lap pel, kami sudah bahagia.

Ah, ko saya ngomongnya kemana-mana ya. Balik lagi ah ke adzan magrib.

Saya tidak ingat dari mana saya belajar adzan. Yang saya ingat, saya di paksa adzan.
Sungguh, saya tidak tahu bagaimana caranya adzan, tapi waktu itu langsung di suru berdiri, sambil di temani teman sambil dibisik-bisik lafad-lafadnya. Mungkin karena sering, sehingga lafadz-lafadz itu tidak sudah perlu dihafal. Sudah secara tidak sadar tersimpan dalam kepala.

Mungkin itu cerita pengalaman saya tentang adzan. 

Bagaimana dengan kamu? kapan kamu terakhir kali mengumandangkan adzan? 

Kamis, 10 Agustus 2023

Mengapa selalu cemas?

Tidak tahu kenapa, akhir-akhir ini selalu diliputi rasa cemas. Biasanya, ketika saya membaca, saya sanget menikmati bacaan itu. Namun, akhir-akhir ini, tidak begitu. Selalu, ada rasa cemas.

Mungkinkah mental saya sedang terganggu? bisa saja. Namanya manusia, dan semua manusia pasti terkena serangan mental. Siapapun itu.

Cemas, sedih, bahagia, dan lain sebagainya pasti pernah hingga di setiap manusia. 

Saya baru tahu bahwa cemas itu merupakan salah satu gangguan psikologi. Itu wajar. Namun, yang tidak wajar adalah cemas yang berlebihan.

Setiap orang pasti mengalami hal itu, siapapun itu. baik yang punya jabatan, tidak punya jabatan, tentara atau rakyat sipil, pasti pernah mengalaminya.

Ingat, ketika menulis itu harus sudah sesuatu yang sudah selesai. Jangan membahas yang kamu sendiri belum tahu. Sehingga, dapat dipastikan kamu akan macet ketika menulisnya. Jadi, jangan siksa dirimu dengan hal-hal yang belum jelas. Simpan saja dulu catatan kecil. Ada waktunya untuk menyatukan itu semua.

Dulu kan sudah belajar bagaimana membuat repository ilmu. Setelah kamu baca, buatlah catatan kecil. Masukin ke dalam kategori-kategori yang menurutmu cocok.Biasanya, bila kamu sudah banyak catatan, proses menulis itu akan lebih mudah.

Walaupun kamu mengalami cemas, tapi kamu tidak mudah bukan menuangkan itu semua? boleh saja kamu membahas tentang perasaan kamu, namun jangalah kamu membahas yang diluar kemampuan kamu. Misalnya membahas persoalan psikolgi. Saat ini, kamu belum menguasai hal itu. Curahkan saja apa yang kamu rasakan saat ini. Dan apa yang kamu inginkan, atau harapan kamu ke depan. Jangan membahas yang aneh-aneh. Di luar jangkauan kamu.

Terbukti, bukan? kamu tidak bisa menulis apapun. Kamu macet baru sampai dua paragraf.

Tulis bebas saja. Bila kamu tidak mengetahui sesuatu, tulis saja tidak tahu. Lalu, apa rencana kamu ke depan. Apakah akan membiarkan masalah itu? atau kamu akan mencari tahu bagaimana menyelesaikan masalah itu?

Jika masalah itu dibiarkan, maka kamu tidak akan mendapatkan apapun kecuali perasaan bertanya-tanya dalam hati atau pikiran kamu. 

Namun, jika kamu melakukan sebaliknya, ada banyak hal yang bisa kamu gali. Itu membuat kamu punya sudut pandang luas. Kamu tidak hanya menguasai suatu bidang, misalnya programing, tapi kamu punya pengetahuan di bidang lain, misalnya psikologi.

Tulisan ini saya buat hampir menuju tengah malam. Tidak tahu kenapa, saya merasa tidak enak hati. Saya tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan hati ini. Sebelum saya buka komputer dan menulis ini, saya sudah menonton youtube lebih dari satu jam. Sama sekali tidak merubah perasaan saya. Tetap, saya merasa tidak enak hati. Saya mencoba untuk memejamkan mata pun, tidak bisa.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan saya? 

Mungkinkah saya terkena penyakit mental?

Atau, apakah saya terserang gangguan psikologi?

Ada yang bikin resah? Tentu ada. yaitu keadaan ekonomi yang belum kunjung membaik. Ekonomi keluarga saya belum membaik sejak tahu lalu. Selalu kekurangan. Saya mencoba untuk mencari peluang usaha lain selain di bidang programing. Saat ini, saya sedang mencoba untuk usaha budidaya ikan lele. Oleh karena itu, saya harus belajar lagi dari awal tentang ikan lele.

Apakah pekerjaan programing akan ditinggalkan? belum untuk saat ini. Saya masih membutuhkannya untuk menunjang usaha lele saya. Untuk menunjang belajar hal lain.

Selain usaha lele, saya akan mencoba usaha-usaha online lain. Misalnya bloging. Ini sudah saya usahakan sejak tahun lalu. Namun, belum maksimal. Sampai-sampai hosting saya tidak maksimal. Akhirnya, saya menyesal. Saya banyak membuang waktu. Itu yang membuat saya resah.

Kamu tahu, usia semakin tua. Dan tenaga juga tentu tidak prima seperti dulu. Sementara, saya belum melihat tanda-tanda ada kemajuan dalam ekonomi. Seperti jalan di tempat. Hutang masih numpuk. Rumah masih ngontrak. Sial.

Sungguh. Tahun ini saya harus berjuang sekuat tenaga untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Saya tidak akan menyianyiakan waktu lagi. Saya akan meninggalkan kebiasaaan lama. Yaitu menjadi seorang peragu.

Lumayan. Saya sedikit agak enakan. Tidak seperti sebelum saya menulis ini.

Saya belum bisa tidur. Saya masih ingin menulis, membaca buku, atau menonton video tutorial. 

Jumat, 04 Agustus 2023

Satu Ekor Lele Mati Setelah Dua Hari Tebar

 Saya sudah mengira bahwat itu akan mati. Hari kemarin, mungkin tidak kelihatan karena masih tersimpan di dasar ember. Pagi ini, ia sudah mengambang.

Kemarin itu, ketika saya memindahkan ember, karena takut kena air hujan, mungkin ada satu lele yang loncat. Saya tidak tahu sampai tiga jam kemudian anak saya memberi tahu. Satu meter dari ember ada satu ekor lele yang tergeletak. Segera saya ambil, dan simpan lagi ke ember.

Karena air diember keruh, saya tidak tahu kondisi lele itu setelah dari darat selama 3 jam itu. Bila embernya transparan, akan terlihat lele itu lemas atau masih ada tenaga.

Pagi ini, lele itu sudah mengambang. Memang, saya sudah mengira itu dari kemarin. Ya, sudahlah. Dari total 20 ekor, ada satu yang mati. Semoga yang lainnya tidak. Saya berharap seperti itu.

Ukuran lele yang mati itu agak kecil dibanding lainnya. Mungkin sekitara 10-11cm.

Melihat 1 ekor saja yang mati, itu cukup membuat saya sedikit resah. Khawatir yang lain mengikutinya.

Kenapa? 

Karena modal saya sangat terbatas saat ini. Saya mulai membudidaya ikan lele bulan ini, Agustus 2023. 

Memang harus masih banyak belajar. Dan, tentunya belajar itu perlu waktu dan biaya. Jangankan yang masih belajar, orang yang sudah berpengalaman bertahun-tahun pun kadang masih mengalami sial. Biasanya, orang yang pintar akan belajar dari kesialannya itu.

Saya sadar akan hal itu. Dalam memulai belajar usaha itu pasti banyak tantangannya. Jangan dulu dalam hal bisnis, dalam hal teknis pun pasti banyak menghadapi masalah. Namun, tidak tahu kondisi mental saya ini mungkin lagi lemah. Modal yang saya punya saat ini sangat-sangat terbatas. Mungkin berbeda jika saya punya banyak modal. Ketika saya gagal, saya tidak ragu untuk memulai lagi. Ketika mau mengeluarkan modal, saya masih banyak pertimbangan. Ada banyak pertanyaan di kepala saya. Seperti:

"Dari pada beli aerator, mending beli bibit" muncul di kepala saya ketika hendak membeli aerator.

Berbeda lagi ketika akan melakukan hal lain, misal mau beli bibit.

"Beli bibit itu memang bagus, tapi kamu harus memikirkan bagaimana ngasi pakannya. Bukankah modal kamu terbatas? bagaimana dengan pakan untuk lele yang sudah ada?"

Ya, sudah. Saya memutuskan untuk menyimpan modal itu untuk keperluan pakan. 

Kemarin, 3 Agustus 2023, saya membeli satu bungkus pakan lele. Beratnya setengah kilogram. Harganya tidak terlalu mahal. Hanya Rp.8000. Jadi, saya masih banyak sisa uang modal.

Lah, ko cerita yang melebar ke mana-mana ya? 

Ya, sudah. Untuk cerita ini, saya akhiri dulu.

Perasaan Khawatir Muncul ketika Mulai Usaha Lele

Perasaan was-was itu selalu ada. Kemarin mungkin lebih dari 20 ikan lele saya pada mati. Dan, saya beli lagi 20 ekor dengan ukuran yang lebih besar. Saya khawatir mereka akan mengalami hal yang sama.

Memang, begitulah usaha. Selalu dihantui rasa takut. Namun, bila tidak bertindak juga akan dihantui rasa penyesalan pada akhirnya. Jadi, saya akan ambil keputusan, dan sudah mempertimbangkan resiko gagalnya.

Ketika mulai usaha, tidak harus semuanya kita tahu. Yang penting belajar sepanjang perjalanan. Tidak ada yang menjadi usaha apapun tanpa resiko kegagalan. Yang penting, pertimbangkan terlebih dahulu kegagalan itu.

Saya mulai ternak lele untuk belajar sebelum produk lebih banyak. Dari belajar ini tentu ada banyak biaya yang perlu dikeluarkan. Sama seperti kita sekolah dulu. Namun, yang namanya belajar tidak terbatas pada pelajaran yang ada di sekolah. Keahlian apapun perlu waktu untuk bisa menguasainya.

Beternak lele merupakan sebuah keahlian. Tidak bisa asal. Perlu banyak pengetahuan yang perlu kita serap. Seperti bagaimana kita mengeloal air, pemberian pakan, pembibitan dan lain sebagainya. Semuan perlu waktu untuk belajar. 

Saya biasanya punya kebiasaan selalu menunggu sempurna untuk memulai sesuatu. Harus belajar ini. Harus belajar itu. Kadang, ide saya tidak terwujud atau tidak terlaksana karena ada banyak pertanyaan-pertanyaan, kritikan-kritikan dalam pikiran saya. Atau mengharuskan menunggu sampai keadaan benar-benar sempurna. Namun, saya menyadari sekarang, bahwa keadaan itu tidak akan pernah datang. Kebiasaan menunda hanya membuang-buang waktu.

Memang, dalam usaha itu perlu kesabaran. Tapi, bukan berarti sabar sampai situasi sempurna. Sabar yang diperlukan dalam usaha adalah ketika hasil tidak sesuai harapan. Adanya banyak masalah ketika dalam perjalan. Misal masalah modal atau masalah teknis-teknis lainnya.

Kita tidak dapat menghilangkan semua masalah itu. Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana menghadapi dan menangani masalah-masalah tersebut. Caranya, yaitu dengan belajar tanpa henti. Terbuka dengan ide-ide dari luar. Atau, terbuka atas masukan-masukan dari luar.

Saat saat menulis ini, saya tidak sedang dalam suasana hati yang baik. Tidak tahu kenapa hati saya tidak enak. Seperti ada perasaan menggebu-gebu disertaik perasaan was-was.

Walaupun saat ini saya sedang mempelajari bagaimana berternak lele, tapi saya tidak akan mengabaikan kegiatan menulis. Saya sudah lama belajar mengulis. Mulai dari latihan sampai membeli buku-buku agar saya bisa terampil dalam membuat tulisan. Sekarang, saya sudah mulia terbiasa membuat tulisan. Dengan begitu, saya tidak akan menyia-nyiakan keterampilan ini. Harus saya rawat sampai bisa menghasilkan uang. Memberi manfaat minimal bagi sendiri.

Saya ingin usaha lele karena minimal bisa menjaga ketahanan pangan keluarga. Jika saya tidak bisa menjual hasil usaha lele itu, minimal saya bisa memakannya untuk keluarga. Jadi, masih ada manfaat walaupun sedikit. Harapan besarnya tentu untuk meningkatkan perekonimian keluarga. Harapannya saya mampu mengelola minimal 1000 ekor lele. 

Nampak kecil 1000 lele. Namun, itu bukan perkara mudah. Terutama modal. 

Saya tidak akan menyerah. Saya akan membeli semampunya terlebih dahulu. Tidak akan mikir terlalu jauh. Minimal saya bisa merawat lele-lele itu sampai besar, standar yang berada di pasaran yang siap di konsumsi.

Oh iya, saya belum menceritakan bagaimana saya bisa mendapat bibit lele.

Saya mencari bibit lele melalui tokopedia. Di tempat tinggal baru dan disekitarnya, saya belum tahu di mana tempat pengembang biakan lele.  Sehingga, cara yang paling mudah adalah dengan mencarinya melalui marketplace.

Ya, ternyata ada. Walaupun tidak banyak. Tapi, yang penting ada yang menyediakan.

Untuk harga bibit bervariasi. Tergantung pada ukurannya. Yang saya beli ukuran 11-14cm. Harganya 1000 per ekor. Di bawah itu lebih murah. Seperti bibit dengan ukuran 7-8cm, itu sekitar 550 per ekor.

Saya membeli dengan ukuran yang agak sedikit besar untuk menghindari resiko. Sebelumnya, saya pernah membeli bibit lele yang kecil, mungkin dibawah 5cm. Dan biasanya itu bukan untuk bibit. Tapi, untuk pakan ikan. Dengan tujuan belajar, saya membelinya. Tapi, pada akhirnya banyak yang mati.

Itulah yang membuat saya khawatir. Saya sudah mengeluarkan modal yang menurut saya relatif besar. Khawatir pembelian kedua ini berahir sama. Mati.

Hm, semoga tidak.

Selasa, 01 Agustus 2023

Hampir lupa menulis hari ini

Hari ini sudah masuk 1 Agustus 2023. Saya belum menunjukan perkembangan apapun dalam membuat konten. Masih terlalu banyak mikir ketika mau melakukan sesuatu. Masih belum berani memproduk konten baik tulisan maupun dalam bentuk lainnya seperti video atau audio.

Tulisan ini saja, saya tulis di blog yang sepi pengunujung.

"Lah, emang kamu punya blog yang ramai pengunjung?"

Belum sih. Tapi, yang ada pengunjungnya ada. Walaupun belum sampai ratusan ribu penonton. 

Saya membuat tulisan di blog ini, tujuannya adalah untuk membiasakan diri untuk menulis. Biasanya, saya menulis di google drive. Namun, saya akan pindah ke blog langsung. Agar rasa percaya diri saya meningkat.

Saya merasa dikejar waktu. Saya tidak bisa membuang-buang waktu lagi. Anak saya sudah besar. Dan, usia saya juga semakin tua. Tentu, tenaga yang saya punya tidak seperti dulu. Sehingga, saya perlu mencari penghasilan lain yang tidak terlalu menguras tenaga.

Untuk saat ini, salah satu bentuk usaha itu adalah menulis. Saya hanya menulis sesuatu yang saya ketahui dan saya alami. Itu tidak terlalu sulit bagi saya dibandingkan dengan menerima job membuat software. Dibutuhkan waktu dan pikiran yang tidak sedikit. Pengetahuan tentang teknologi harus selalu diupdate bila tidak mau jadi artefak. 

Seperti yang kita tahu, teknologi berkembang sangat cepat sekali. Persaingan kerja juga semakin meningkat. Sehingga, bila kita hanya punya skill yang biasa-biasa, kemungkinan akan sullit untuk bersaing.

Dalam dunia pemrograman, bila kita tidak update dengan perkembangan teknologi, maka kita akan sulit menerima proyek. 

Sebenarnya, konsumen tidak terlalu memperdulikan teknologi apa yang kita gunakan. Tapi, dalam bekerja kita tidak sendiri. Ada banyak orang yang terlibat. Dan, tentu saya harus menyesuaikan diri. Tidak bisa tidak. Oleh karena itu, saya harus mengerjar ketertinggalan. Harus selalu update dengan teknologi baru dan solusi-solusi baru.

"Emangnya, di dunia tulis menulis tidak terlalu sulit ya dalam menghadapi persaingan? bukankah sekarang menulis sudah bisa pakai ai?"

Ya, betul. Tapi, tidak sepenuhnya benar. Menulis novel itu tidak bisa dibuat dengan menggunakan AI. Menulis topik yang baru juga tidak bisa menggunakan AI. Menceritakan pengalaman pribadi juga tidak bisa menggunakan AI. Jadi, di sini menurut saya masih banyak peluang.

Menjadi programer itu cukup melelahkan. Berjam-jam di depan komputer. Ketika berhadapan dengan "bug", mata kadang terasa pedih. Oleh karena itu saya ingin ada sampingan agar tetap ada penghasilan.

Tuh, kan. Nggak kerasa saya nullis sudah lebih dari 500 kata. Ya, kurang lebih lah.

Bila disuru menulis bebas, saya masih mampu. Tapi, ketika saya ingin menulis tutorial, nggak tahu kenapa saya jadi banyak mikir. Akhirnya, tulisannya nggak jadi-jadi. Bete, kan?

Ya, bisa jadi apa yang ingin saya tulis itu belum selesai dalam kepala saya. Saya belum begitu menguasasi topik itu. Sehingga, saya agak sulit menulisnya.

Ah, sudahlah. Begitu saja tulisan kali ini. 

Bye.

Beli sepeda listrik

Saya sangat tertarik dengan sepeda listrik. Bukan hanya membuat pengeluaran seperti bensin jadi hemat, tapi karena saya malas untuk mengurus surat-surat seperti STNK.

Awalnya, sebenarnya tidak niat beli. Hanya penasaran. Pengen melihat langsung. Biasanya saya hanya lihat di youtube. 

Pergilah saya keluar jalan-jalan. Memang niat untuk ke toko-toko yang menjual sepeda listrik.

Waktu di jalan, saya di sebuah toko ada yang memajang sepeda listrik. Bentuknya unik. Mirip seperti Vespa. Ketertarikan saya terhadap motor listrik semakin meningkat.

Belakangan saya baru tahu model itu adalah uwinfly rf8.

Ah, kenapa kemampuan menulis saya jadi berkurang begini ya. Biasanya, saya mampu menulis banyak. Namun, kali ini kenapa saya jadi mikir-mikir lagi ketika mau menulis. Ah, payah.

Saya menulis bebas, tidak langsung di blog. Tapi, saya lakukan di google doc. Jadi, tidak saya posting. Namun, itu menjadi kebiasaan. Saya jadi tidak berani memposting tulisan-tulisan saya. Padahal, jika dihitung, jumlahnya sudah banyak, Mungkin sudah lebih dari 50 artikel.

Ini sengaja saya menulis. Tadinya, saya ingin menulis tetang sepeda listrik yang dua hari yang lalu saya beli. Ingin coba-coba untuk menulis review. Ah, ternyata tidak semudah yang dibayangkan mereview sebuah produk.

Saya sering menonton video review produk. Baik untuk otomative, gadget atau kuliner. Yang terakhir ini, jarang-jarang sih. Tapi, saya suka mendengarkan. 

Seharunya, itu membuat saya kaya akan sudut pandang. Belajar dari mereka bagaimana me-review produk.

Ah, men. tatapi saja sulit. Mungkin, saya harus banyak belajar lagi. Banyak mendengar. Namun, jangan sekedar banyak mendengar. Tapi, harus banyak praktik. Kombinasi kedua itu sangat penting.

Ya, memang. Faktanya. Saya tidak jarang belajar. Tapi, karena saya jarang praktek, ilmu saya baru hanya sekedar pengetahaun biasa. Belum ada kontribusi bagi hidup saya. Mulai saat ini, saya harus berubah. Harus banyak-banyak melakukan praktek.

Ya. Salah satunya yaitu membuat tulisan nggak jelas ini. Walaupun tidak jelas, ini merupakan ajang latihan bagi saya. Agar dapat menulis lancar dan mengalir. Tidak kaku.

Mungkin kamu juga pernah merasakan ketika ingin sekali menulis, tapi tidak mampu mengeluarkan sepatah katapu ketika sudah berhadapan dengan komputer. Rasanya, pengen membanting komputernya.

Hmm, untuk saya tidak melakukan itu. Jika saya melakukannya, saya harus praktik pake komputer siapa dong?

Tuh, lumayan, kan? Saya sudah menulis hampir satu halaman lebih. Penting sekali untuk konsistensi. Harus menulis setiap hari. Tidak apa-apa jika tulisannya tidak jelas atau tidak ada tujuannya sama sekali. Yang, jangan pernah berhenti menulis. Ini merupakan ajang latihan. Tidak ada yang akan membaca tulisan ini selain saya sendiri.

Akhir-akhir ini, saya menjadi sangat tertarik dengan motor listrik. Sehingga, kegiatan saya menjadi sering nonton youtube yang membahas tentang motor listrik. Sehingga, jadual menulis hampir diabaikan. 

Gimana caranya agar saya tetap bisa menulis setiap hari? Tiada lain memaksakan diri untuk menulis. Selalu mencari tahu apa yang menarik perhatian saya. Lalu, semua dituliskan. Atau, bisa juga begini. Saya ingin motor listrik. Keuangan saya saat ini belum cukup untuk membeli motor tersebut. Ada banyak ide yang muncul di kepala saya agar dapat membeli motor tersebut. Nah, itu yang bisa saya jadikan sebagai bahan tulisan di blog ini.

Saya ingat pesan bang tere. Ketika malas, tulis saja. Apapun yang ada dalam kepala. Tuangkan semuanya.

Itu saja dulu dah.