Senin, 18 Desember 2023

Membaca ulang buku teknik retorika

Setelah saya menulis tadi malam, saya ingat bahwa saya punya buku retorika karya pak Jalaludin Rahmat. Saya cari-cari buku itu, akhirnya ketemu.
Saya ingin mempelajari lagi buku itu. Sebenarnya, sudah saya baca. Namun, mungkin saya jarang praktik, semua yang dibaca itu lupa. Saya nggak ingat lagi nasihat-nasihat yang disampaikan buku itu.

Tentu saya punya tujuan. Saya mencoba mencari buku itu karena saya merasa buntu. Ketika menulis, saya merasa sulit untuk mengembangkan ide. Ketika saya latihan berbicara pun, masalahnya sama. Kesulitan untuk mengembangkan ide. 

Ide itu memang gampang-gampang susah. Kita punya perasaan kesal misalnya. Itu juga merupakan ide. Bisa dijadikan topik pembicaraan. Tulisan ini pun berasal dari kekesalan saya karena sulit untuk mengembangkan ide. Tidak jarang ketika menulis, baru beberapa paragraf, saya sudah bingung untuk melanjutkannya. Saya mencoba berbicara di depan kamera, baru beberapa menit, sudah bingung. Selanjutnya saya mau berbicara apa lagi.

Saya sebenarnya sudah bisa menangani permasalahan-permasalah umum yang sering di alami penulis. Saya sudah tidak takut lagi menghadapi kertas kosong. Saya sudah mampu mengisinya. Namun, saya merasa nggak ada perkembangan. Saya hanya mampu menulis beberapa paragraf.

Bisa jadi, yang saya sampaikan itu keterangan atau penjelasannya masih pada tingkat kulit. Masih ringan-ringan. Belum terlalu dalam. Saya ingin lebih dari itu. Mengupas permasalahan secara dalam.

Bukan hanya itu, saya juga ingin topik yang saya sampaikan bisa sampai pada pembaca. Menarik perhatian. Dan, enak untuk dibaca. Begitu juga dengan percakapan. Ketika saya menyampaikan sebuah ide lewat video, saya nggak mau menyampaikannya dengan gaya atau cara yang monoton dan membosankan.

Bagaimana caranya? salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan belajar teknik retorika. 

Saya punya buku itu. Tidak banyak. Hanya satu. Namun, menurutku cukup untuk belajar retorika. 

Sayangnya, saya jarang memperaktikannya. Sehingga, saya tidak mendapatkan ilmu itu.

Sekarang saya sadar. Buku itu tidak hanya sekedar dibaca. Bukan hanya sekedar penghias akal. Tapi, itu semua perlu dipraktikan. Perlu diamalkan. Saya tidak akan mendapatkan manfaat dari bahan bacaan itu bila hanya sekedar membaca dan tidak mencoba untuk mempraktikannya.

Secara teori, saya sudah tahu bagaimana teknik berpidato, mencari ide yang menarik, kemudian mengembangkan ide itu. Namun, itu semua tidak cukup. Teori itu tersimpan di kepala. Belum meresap di dalam hati. Bila saya analogikan dengan bumbu masakan, saya baru menaruh bumbu itu. Belum menggunakannya sama sekali. Sehingga, bisa saja bumbu itu terlupakan karena jarang digunakan. Oleh karena itu, saya wajib mempraktikan ilmu itu agar meresap ke dalam dada.

Tentu, ada banyak manfaat yang saya dapat. Ketika saya menulis, saya mampu mengarahkan tulisan saya. Bukan hanya sekedar menulis seperti yang saya lakukan salama ini. Menulis hanya sekedar untuk latihan. Menulis hanya sekedar untuk terapi jiwa. Dengan menerapkan teknik retorika, tulisan saya menjari terarah. Misalnya untuk tujuan informatif, persuasif, atau hiburan.

Misalnya, saya mau jualan eCourse. Tentu saja, tulisan saya harus dengan tujuan persuasif. Mengajak orang untuk bergabung. Saya perlu menjelaskan keuntungan-keuntungan yang didapat setelah ikut eCourse. Mungkin juga saya perlu menuliskan kerugian bila tidak mengikuti eCourse. Intinya, bagamana membuat tulisan dengan tujuan membujuk.

Atau, membuat tulisan dengan tujuan hanya sekedar menyampaikan informasi. Misalnya, saya menulis tentang cara kerja web, mengenalkan bahasa pemograman PHP, mengenalkan framework ionic dan lain sebagainya.

Ya, itu beberapa keuntungan mempelajari teknik retorika. Oleh karena itu, saya perlu untuk membaca kembali buku itu. Bukan hanya sekedar membaca, tapi saya perlu sering berlatih.

Jumat, 15 Desember 2023

Bahasa Indonesia: Mulai belajar mengarang

Saya bingung bagaimana cara mengajarkan anak saya bahasa indonesia. Mulai dari mana, dan apa yang akan diajarkan. Tepatnya, materi apa yang akan saya sampaikan.

Setiap hari kita menggunakan bahasa indonesia. Jadi, persoalan menggunakan bahasa sepertinya nggak terlalu masalah. Dalam percakapan, bahasa indonesia sudah bisa dimengerti oleh anak saya. Walaupun, masih banyak kosa kata yang belum dimengerti. Saya pikir, bukan hanya anak saya. Orang dewasa pun tidak sedikit yang seperti itu. Menggunakan bahasa indonesia dengan menggunakan kata-kata yang umum. Dan itu bisa dikembangkan sambil bejalan.

Saya punya buku pelajaran bahasa indonesia. Tapi, rasa pikir itu sudah nggak relevan bagi anak saya. Ya, memang nggak semua. Ada beberapa yang masih bisa dimanfaatkan. Misalnya, soal pembendaharaan kata dan tanda baca. Itu sangat berguna sekali ketika mau menyampaikan gagasan, ide atau perasaan. Itu yang saya dapat dari buku itu. 

Namun, apa yang bisa dikembangkan dari materi itu? saya beripikir keras. Akhirnya, saya dapat ide itu. 

Ya, saya akan mengajarkan anak saya untuk menulis. Menuangkan segala pikiran dan perasaan dia ke dalam tulisan. Kosa kata yang dia dapatkan dari membaca, akan saya uji. Tanda baca yang sudah saya sampaikan, itu juga akan saya uji.

Latihan ini bukan untuk bertujuan agar anak saya menjadi penulis. Saya ingin anak saya mahir dalam menyampaikan pikiran dan perasaannya. Setidaknya, walaupun nggak sampai hingga level mahir, saya ingin anak saya bisa berkomunikasi. Minimal orang bisa mengerti pikirannya atau perasaannya. 

Tidak sedikit orang dewasa yang merasa kesulitan untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya melalui bahasa. Khususnya bahasa indonesia. Jangankan yang tidak terbiasa ngomong dengan bahasa Indonesia, yang sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia pun kadang masih kesulitan.

Banyak faktor yang menyebabkan itu terjadi. Salah satunya adalah kurangnya latihan untuk mengemukakan pendapat. Tidak dilatih untuk menyampaikan gagasan dan perasaannya. Selain itu, ada faktor lain, yaitu kurangnya pembendaharaan kata. Sehingga kesulitan kata apa yang bisa mewakili pikiran dan perasannya.

Menulis merupakan salah satu cara yang bisa ditempuh untuk membiasakan diri menyalurkan pikiran dan perasaan melalui kata-kata. Selain itu, bisa juga berlatih berbicara di depan cermin. Biasanya itu dilakukan untuk presentasi atau public speaking.

Dengan menulis, kita dipaksa untuk mengungkapkan pikiran-pikiran, kilatan-kilatan pikiran, atau perasaan, menggunakan kata-kata. Karena tulisan nggak punya bahasa tubuh, maka tulisan akan selalu mengandalkan kata-kata agar pesan yang dikirim oleh penulis bisa diterima oleh pembacanya.

Berbicara secara langsung, walaupun kata-kata yang diproduksi nggak terlalu banyak, itu bisa dibantu dengan bahasa tubuh. Namun, ketika menulis, nggak ada cara lain selain menggunakan kata-kata. Mungkin, yang bisa dilakukan adalah menggunakan ilustrasi seperti gambar.

Ke depan, saya akan mengajarkan ke anak saya menulis. Temanya nggak akan saya tetapkan. Bebas. 

Mungkin, untuk tahap awal, saya akan malatih menulis bebas. Materi selanjutnya, sebelum menulis saya akan memberi tugas membaca. Hasil dari membaca itu, akan menjadi bahas tulisan.

Sementara, tulisan hari ini cukup. Walaupun, tulisannya ini masih bisa saya kembangkan. Masih banyak yang perlu saya terangkan. Misalnya tentang menulis bebas. Lalu, kegiatan membaca sebelum menulis. Namun, untuk hari ini, saya cukupkan.

Sekian.

Kamis, 14 Desember 2023

Nggak tahu mau menulis apa? coba praktikan menulis bebas

Saya belum tahu hari ini akan menulis tentang apa. Tapi, tidak masalah. Itulah yang akan tulis.

Tidak sedikit yang mengalami hal seperti ini. Mereka biasanya merupkana penulis pemula. Sama seperti Saya. Namun, saya sudah menemukan cara agar tetap menulis.

Apa itu? Ya, menulis bebas.

Meskipun saya nggak tahu tulisan apa yang akan saya buat, tapi di kepala saya masih menyisakan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan. Itu semua bisa saya keluarkan. Itu semua bisa saya salurkan ke dalam tulisan. Dan itulah yang akan saya tulis.

Bila saya merasa nggak tahu apa yang akan saya tulis, saya akan jujur dengan menulis "saya belum tahu hari ini akan menulis tentang apa,". Ya, begitulah. Di kalimat pembuka saya menulis itu, bukan?

Namun, bukan berarti nggak ada apapun di kepala saya. Atau, saya nggak punya perasaan apapun. Ada perasaan ingin menulis, namun belum tahu apa yang dibahas. Ya, sudah. Itu saja yang akan saya bahas.

Perasaan "nggak punya ide", itu juga merupakan sebuah ide. Atau, kita sangat kesal sekali. Padahal, sebelum menulis, ide itu sudah ada di kepala. Tapi, entah kenapa tiba-tiba saja hilang. Itu juga merupakan ide.

Atau, misal kita ingin menulis tentang "bagaimana caranya agar tidak kehabisa ide menulis." itu juga merupakan sebuah ide. Bila kita sudah menemukan jawabannya, maka kita bisa ceritakan itu dalam tulisan kita. Itu akan menjadi tulisan menarik, bukan?

Ya, intinya ide itu bukan hanya pikiran-pikiran yang ada di kepala kita, namun juga bisa perasaan. Oleh karena itu, ketika saya bimbang, nggak tahu mau menulis tentang, ya sudah, saya menulis tentang itu.

Menulis bebas itu memang ampuh ketika menghadapi kebuntuan saat menulis. Namanya juga menulis bebas, pikiran kita nggak dikerangkeng oleh sebuah konsep apapun. Pikiran kita sedang dalam mode bebas. Nggak ada pengkritik. Yang ada hanya si tukang produksi. Itu yang akan saya layani. Sementara, si tukang kritik, akan saya abaikan dulu.

Apapun yang saya rasakan, atau ada sesuatu yang terlintas dalam pikiran, akan segera saya tumpahkan. Saya nggak akan berpikir "ini bagus nggak ya", atau "ah, ini tulisannya nggak jelas. nggak nyambung. jelek." Itu nggak akan saya layani. Pikiran saya benar-benar bebas. Biarkan semua kilatan-kilatan itu keluar. Setelah semua keluar, mungkin nanti akan saring ide-ide itu. Nanti akan saya pilah dan pilih. Mungkin, nanti saya akan kembangkan lagi. Yang penting adalah jaring dulu semua ide itu. Jangan sampai ada yang lepas.

Nggak terasa, ini tulisan sudah lumayan panjang. Padahal, awalnya  saya sema sekali nggak tahu akan menulis tentang apa. Namun, berkat menulis bebas, saya masih mampu menghasilkan tulisan seperti ini. Jelek atau tidak, itu nggak penting. Yang utama adalah tetap berkarya. Tetapi menulis. Satu hari, satu tulisan. 

Satu hari, satu tulisan.

Kenapa begitu? ada pepatah mengatakan "practise make perfect". Semakin banyak berlatih, itu akan membuat kita menjadi lebih baik. Kita mau sebanyak apapun membaca tetang teori-teori menulis, bila tidak disertaik dengan latiha, maka itu akan sia-sia. Itu pernah saya alami. Oleh karena itu, akhir-akhir ini saya menjadi semakin sering berlatih.

Mungkin itu saja tulisan kali ini. Sekian.

 

Selasa, 12 Desember 2023

Satu hari, satu tulisan. Jangan banyak-banyak. Cepat Bosan!

Saya tidak akan menulis lagi terlalu banyak. Itu akan membuat saya menjadi cepat bosan. Cepat lelah. Akhirnya, nggak punya motivasi lagi untuk menulis. Saya akan batasi. Satu hari, hanya untuk satu tulisan. Bila masih ada ide di kepala, saya akan menyimpannya untuk esok hari. Saya mengembangkannya esok hari.

Mungkin selama satu bulan kemarin, saya hampir setiap hari menulis. Menulis apapun. Ada sesuatu di kepala, langsung saya tulis. Saya merasakan apapun, saya tulis juga. Sehari, saya bisa menghasilkan minimal dua tulisan. Bila diukur menggunakan kertas A5, dengan ukuran font 10, saya bisa menghasilkan dua hingga tiga halaman per hari.

Tentu itu menyenangkan. Saya merasa lebih produktif dari biasanya. Namun, itu hanya bertaham beberapa minggu. Setelah itu, saya menjadi merasa bosan. Sulit bagi saya untuk bisa memulihkannya kembali.

Oleh karena itu, saya akan membatasinya. Satu hari, saya hanya akan menulis satu kali. 

Memang, sekali itu  mungkin nggak akan tuntas. Tapi, bisa juga tuntas. Bergantung dengan idenya.

Kalaupun saya harus mengumpulkan bahan, saya akan menulis pertanyaan-pertanyaan yang nanti akan dicari jawabannya. Jadi, yang akan saya tulis hanya pertanyaan-pertanyaan. Esok harinya, saya pelajari jawaban-jawabannya. Lalu, saya esoknya harinya saya akan tulis.

Menulis bukanlah pekerjaan ruti saya. Jadi, saya nggak ada tekanan sama sekali jika saya hanya menulis sekali dalam sehari. Nggak ada tuntutan apapun. Saya hanya ingin menjadi penulis. Dan, tentu ingin menghasilkan karya yang bisa dinikmati banyak orang. Bukan hanya disimpan di komputer.

Namun, saat ini saya belum memutuskan waktu yang akan saya sisihkan setiap harinya. Mungkin, paling sedikit 10 menit. Dan, paling lama 1 jam.

Kapan itu akan dilaksanakan? saya juga belum tahu. Bergantung dengan waktu yang tersedia. Bila siang hari, di waktu kerja, saya sepertinya agak kesulitan. Selain saya punya pekerjaan utama, saya juga harus menyelipkan waktu untuk mengajar anak saya. Mungkin saya akan melakukannya di pagi hari. Setelah sholat subuh. Atau, di waktu malam. Sebelum tidur.

Yang penting bagi saya adalah konsistensi. Setiap hari saya nggak perlu menghasilkan tulisan yang banyak. Nggak apa-apa menghasilkan sedikit tulisan. Tapi, setiap hari melakukannya. Konsisten.

Saya nggak mau terjadi lagi kehilangan motivasi menulis. Juga kehilangan motivasi membaca. Itu akan membuat saya lambat untuk berkembang.

Saya pernah bercerita, di blog ini juga, menulis di blog ini sedikit agat sulit. Jadi, kadang saya merasa malas. Bila dipaksakan, akhirnya saya merasa nggak mampu. Merasa saya nggak berbakat menulis blog. Akhirnya, blognya jarang diisi.

Bahkan, saya pernah beberapa kali membeli hosting dan domain. Namun, sayang. Saya nggak pernah memanfaatkan itu untuk membuat blog dan menulisnya. Pernah membuat blog, tapi nggak dikelola. Jarang diisi. 

Namu, ketika di google doc. saya merasa berbeda. Lebih nyaman. Bisa jadi yang tulis adalah tulisan bebas. Nggak terpaku dengan topik apapun. Apa yang ada di kepala, ditumpahkan. Mungkin jumlahnya bisa puluhan. Tapi, saya merasa bahagia menulis di platform ini. Walaupun nggak ada yang baca.

Menulis blog itu harus dengan topik tertentu. Itu yang ada di dalam pikiran saya. Nggak boleh menulis segala macam. Itu akan membuat pengunjung akan bertanya "Ini blog apa ya, ko isinya macam-macam." Sehingga, saya terkurung oleh mindset itu. 

Nah, saya sudah menulis ke sana kemari, ya? 

Awalnya, saya membahas tentang "satu hari, satu tulisan." Eh, malah cerita tentang blog. 

Ya, sudah. Itu artinya, tulisan ini harus segera di akhiri.

Sekian.  

Senin, 11 Desember 2023

Biasakan menulis di blog ini, bukan ditempat lain

Mungkin mulai hari ini, saya akan membiasakan diri untuk menulis di blog. Bukan di google drive. Alasannya, untuk menambahkan rasa percaya diri.

Biasanya, saya menulis di google drive. Tujuannya sih hanya untuk membiasakan diri menulis. Tidak ada topik apapun selain menulis. Istilanya free writing. Karena saya masih belajar.

Selain itu, saya menulis di google doc lebih nyaman. Nggak tahu alasannya apa.

Bila saya menulis di blog ini, saya kadang nggak merasa nyaman karena ada banyak warna merah. Itu membuat saya sedikit terganggung. Selain itu, nggak ada peringatan bila saya melakukan kesalahan ketik atau typo. Oleh karena itu, untuk belajar mengetik saya lebih suka menggunakan Google Doc.

Namun, mulai hari ini berbeda. Saya kan lebih membiasakan diri menulis di blog. Mungkin rasa nyaman itu akan terasa bila sudah terbiasa. Semoga nanti ke depan, saya bisa merasakan kenyamanan itu.

Menulis di blog ini, saya merasa nggak bisa menulis panjang-panjang. Berbeda yang saya rasakan di Google Doc. Menulis tiga halaman itu membuat saya puas. Tapi, di blog ini, sepertinya sulit untuk merasakan menulis tiga halaman itu.

Ya, bisa jadi format layar kerjanya berbeda. Di Google Doc saya menggunakan ukuran kertas A5. Ukuran font-nya 10. Jadi, mungkin terasa lebih lebar jarak antar spasi dan barisnya. Sehingga terlihat lebih banyak tulisannya.

Berbeda dengan menulis di sini. Saya nggak tahu ukuran font ini. Begitu juga ukuran kanvasnya. Sehingga membuat saya sedikit kurang puas dengan hasilnya. Saya merasa nggak bisa mengembangkan gagasan. Nggak bisa menggali ide lebih dalam lagi. Kadang-kadang, perasaan itu membuat saya kehilangan semangat menulis. Dan, akhirnya kadang berhenti menulis.

Semoga, kali ini nggak seperti itu. Saya harus terbiasa dengan format layar atau kanvas seperti ini. Nggak boleh dijadikan alasan untuk tidak menulis. Saya harus lebih dari sebelumnya. Belajar itu harus ada peningkatan. Bila jalan ditempat, maka nggak ada proses belajar.

Kebiasaan ini harus sudah saya bangung sejak sekarang. Tulisan apapun itu, akan saya tulis di sini. Jelek atau bagus, bukan masalah. Posting saja. Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai membuat orang tersinggung. Jangan sampai menyebutkan nama, sehingga terkesan menyebarkan berita buruk tentang orang lain. Itu saja.

Ah, lumayan. Tulisan ini bisa panjang juga. Saya benar-benar nggak nyangka. Padahal, tadi saya sempat ragu bisa menulis sepanjang ini. Selain itu, saya merasa nggak ada hambatan sema sekali. Mengalir begitu saja.

Ya, sudah. Mungkin itu saja yang bisa saya tulis kali ini. Semoga ke depan lebih konsisten menghasilkan tulisan setiap hari. Bukan ditempat lain, tapi di blog ini.

Sekian.

Minggu, 10 Desember 2023

Hemat uang itu perlu, hemat waktu itu lebih utama.

 Lagi-lagi saya menghabiskan waktu hanya untuk menonton video reels. Video pendek sepreti tiktok. Namun, ini ada di plafform facebook.

Nggak kerasa, mungkin sudah lebih dari satu jam saya habiskan hanya untuk nonton. Sayang, bukan? Saya akhir-akhir ini sering menghemat waktu, kenapa sekarang malah waktu yang saya buang-buang? bukankah waktu itu nggak ternilai dibanding dengan uang? uang itu bisa dicari, tapi waktu akan berlalu begitu saja. Tidak akan kembali.

Ini nasihat untuk diri saya sendiri. Tulisan ini saya buat di sore hari menjelang magrib. Saya nggak tahu apa yang harus saya lakukan. Jadi, saya iseng-iseng buka facebook, ternyata saya nggak mampu berhenti untuk menonton video. Nggak terasa, waktu sudah berlalu selama satu jam.

"Waktu untuk hiburan nggak apa-apa? belajar terus juga membuat bosan."

Betul. Saya juga merasakan itu. Tadi pagi, saya mencoba untuk belajar. Memikirkan peluang-peluang usaha yang akan saya jalankan. Mungkin kurang lebih dua jam, rasa bosan sudah terasa. Akhirnya, saya keluar untuk menyegarkan pikiran saya.

Harusnya, bila pikiran sudah terasa segar, saya harus melanjutkan kegiatan yang sudah direncanakan. Kegiatan-kegiatan yang mendukung kesuksesan. Kegiatan yang ada kaitannya dengan tujuan yang saya tuju. Bukan kegiatan di luar itu. Hiburan itu boleh-boleh saja. Namun, harus ingat waktu. Batasi. Di hari kerja, mungkin saya hanya punya sedikit waktu untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan itu. Jadi, saya harus memaksimalkan waktu liburan ini. Jangan dibuang-buang dengan percuma.

Walaupun saya sudah menghabiskan waktu satu jam, akhirnya punya perasan menyesal. Perasaan itulah yang menghasilkan tulisankan. Perasan itulah yang memunculkan ide untuk menulis ini. Ini merupakan salah satu kegiatan yang mendukung cita-cita saya, yakni menjadi penulis. Kegiatan menulis merupakan kegiatan wajib yang harus saya jalankan setiap hari. Tidak bisa tidak.

Tentu saja, menulis itu perlu ide. Tanpa ide, sulit untuk menulis. Apa yang akan ditulis, bukan?

Sebelum menulis, harus ada sesuatu yang kita rasakan. Atau sesuatu gagasan atau lintasan di dalam pikiran kita. Di dalam otak kita. Jadi, ide itu mutlak adanya. 

Bila kita tidak mengenal ide, seperti yang saya rasakan dulu ketika belajar menulis, kegiatan menulis itu menjadi lebih sulit. Seperti yang saya tadi katakan, apa yang akan kita tulis? idenya nggak ada.

Ide itu bisa berasal dari perasaan atau pikiran. Saat ini, saya sedang mengalami perasaa menyesal membuang-buang waktu. Maka, itu merupakan ide. Sehingga tulisan ini, mudah bagi saya untuk menciptakannya. Tidak ada hambatan ketika menulis. Tangan saya tidak berhenti untuk menulis. Tidak ada istilah writer block. Nggak ada sama sekali.

Jadi, walalupun saya tadi membuang-buang waktu selama satu jam, tapi akhirnya saya mendapatkan ide, yakni: "Hemat uang itu memang perlu, hemat waktu itu lebih penting lagi."

Pikiran itu tiba-tiba saja muncul. Namun, awalnya dari perasaan menyesal telah membuang waktu. Lahirlah ide itu.

Tidak masalah ide itu bagus atau tidak. Yang penting bagi saya adalah mengasah kepekaan dalam menangkap ide. Melatih jari jemari saya agar selaras dengan pikiran saya. Membiasakan diri untuk mengalirkan gagasan-gagasan, perasaan, kilatan pikiran yang ada di kepala saya. Meminimalisir kesalahan ketik. Yang penting itu dulu. 

Sekarang waktu sudah menujukan pukul 18:14. Waktunya untuk sholat magrib. Jadi, kegiatan menulis ini saya harus hentikan.

Sekian. 

Malas itu adalah ide, tuliskan saja

Mungkinkah skill menulis menjadi berkurang bila jarang digunakan? mungkinkah ide itu sulit datang bila kita jarang menulis?

Mungkin saja. Setidaknya itu yang saya rasakan. Saya sudah lama nggak pernah menulis. Yang saya rasakan adalah tangan menjadi agak kaku. Kadang sering typo. Kemampuan mengetik saya menjadi berkurang. Menjadi lambat. Tidak secepat seperti sebelumnya ketika sering menulis. 

Itu dari sisi kemampuan mengetik. Dari sisi mengalirkan ide dari pikiran ke tulisan pun kurang lebih sama. Saya agak kesulitan untuk mengungkapkan pikiran saya. Mengalirkannya ke dalam tulisan. Jadi banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Saya merasa kembali seperti ketika saya belajar menulis tahun lalu. Kadang bingung apa yang akan ditulis, bagaimana cara mengembangkan ide, kalimat, dan lain sebagainya. Ada banyak pertanyaan sehingga urung untuk menulis karena melayani pertanyaan-pertanyaan itu.

Saya nggak mau seperti itu. Sayang, kan? skill yang sudah diasah selama setahun dibiarkan begitu saja. Jadi, blog ini harus saya aktifkan lagi. Saya harus penuhi blog ini dengan tulisan-tulisan. Saya ngak perduli orang suka atau tidak. Saya nggak perduli blog ini akan banyak orang yang berkunjung atau tidak. Yang penting bagi saya adalah jangan sampai kehilangan motivasi menulis. Urusan uang itu belakangan. Yang penting, terus saja gerakan tangan untuk menulis. Konsisten. Biasanya urang itu akan mengikuti orang yang konsisten.

Ya, itu nasihat untuk diri saya sendiri agar tetap konsisten dalam menulis. Jangan berhenti berkarya meskipun tidak ada orang yang melihatnya. Tidak satu pun orang yang meliriknya. Apalagi memberikan apresiasi.

Untuk saat ini, saya nggak perlu perdulikan itu. Terus saja menulis. Lawan rasa malas itu.

Ya, memang saya sedang malas untuk menulis. Sesuai judul. 

"Tapi, ko bisa-bisanya menulis?"

Saya ingat ketika saya mencoba mengenal ide lebih dekat. Ide itu bukan hanya sekedar gagasan atau lintasan pikiran yang ada di kepala kita. Tapi, apa yang kita rasakan, itu juga merupakan sebuah ide. Saya sekarang sedang merasa malas untuk menulis. Dan, saya berpikir "mungkinkah bila saya pelihara rasa malas ini terus-menerus, kemampuan menulis saya akan terkikis?". Jadi, rasa malas yang saya rasakan itu menjadi sebuah ide untuk menulis. Ya, hasilnya tulisan ini.

Sungguh, saya tidak menyangka tulisan ini akan sebanyak ini. Biasanya, dulu ketika awal-awal belajar menulis, jangankan menulis untuk satu atau dua paragraf, kadang untuk menulis satu kalimat pembuka pun saya nggak sanggup. Apalagi berbicara ide, sulit bagi saya untuk mengungkapkannya.

Ternyata, apa yang kita rasakan, itu bisa menjadi sumber ide. Misal, ketika saya merasakan sulitnya mencari penghasilan tambahan. Pasti di dalam pikiran itu ada banyak pertanyaan, atau setidaknya ada satu atau dua pertanyaan. Apa yang perlu saya lakukan agar bisa menanbung untuk membeli rumah? bila saya menjalankan usaha ini, kira-kira berapa modal yang diperlukan? berapa jam yang akan saya sishkan untuk mengerjakan pekerjaan tersebut? dan lain sebagainya. 

Atau, misal kamu merasa "ko, teman-teman saya sudah pada sukses, sementara saya masih begini-begini saja, apa yang salah dengan diri saya?". Ya, kurang lebih seperti itu. 

Setelah memahami ide, saya tidak terlalu kesulitan untuk mencari ide. Apa yang saya rasakan, atau ada lintasan-lintasan pikiran di kepala saya, itu akan saya catat. Kemudian, ide-ide itu akan saya kembangkan. Tulisan itu jelek atau tidak, itu nggak penting. Yang utama adalah bagaimana bisa menangkap ide dan menjadikannya sebuah karya. Tujuannya adalah melatih kepekaan.

Ya, mungkin itu saja yang saya tulis kali ini. Rasa malas itu nggak selamanya buruk. Jika kita mampu mengelolanya, itu akan menjadi sebuah tulisan. Menjadi sebuah karya. Tulisan ini berangkat dari rasa malas yang saya rasakan. Namun, saya mencoba untuk menangkap perasaan itu, dan mencoba mengungkapkannya melalui tulisan ini. Jadilalah tulisan ini.