Senin, 31 Juli 2023

Service Software?

Saya pernah menulis ini di halaman facebook. Ada banyak yang berkomentar. Ada yang merasa heran dan menafsirkan sesuai profesinya. Ada juga yang mencoba memberi sedikit pengertian. Namun, yang terakhir ini menurut saya tidak memberikan sedikit pun pengertian.

"Mereka menggunakan bahasa konsumen." Ya, mungkin ini agar lebih familiar dan tidak dipusingkan dengan istilah teknis. "Tidak tahu teknik marketing" komentar ini juga kurang lebih sama menurut saya tujuannya. Yaitu agar lebih familiar ditelinga konsumen.

"Kamu tu lagi ngomongin apa, sih?"

Oh iya, saya belum ceritakan awal mulanya.

Sewaktu saya bersepada, saya tidak sengaja tulisan "service software" di depan sebuah konter. Tulisan itu ada di sebuah banner. Ukurannya mungkin sekitar dua meter. Diletakan di bagian depan atas konter itu. Tempat banner iklan rokok di warung pada umumnya.

Karena saya seorang programer, yang biasa dengan menulis software sehari-sehari, tentu punya pandangan lain setelah melihat tulisan itu. Yang muncul di kepala saya adalah "Mereka menerima bug fixing, kah?" Pertanyaan muncul itu otomatis. Tidak sengaja dipikirkan. Istilahnya "Blink*". Tiba-tiba saja.

Mungkin berbeda di kepala orang lain. Misal di kepala teknisi HP, istilah service software itu gunakan untuk kegiatan seperti flash hp, custom rom, reset ulang dan lain sebagainya. 

"Lah, itu kamu tahu. Kenapa masih bertanya?"

Saya tahu dari mereka yang berkomentar. Yang saya tahu, istilahnya lebih spesifik. Jarang saya dengar konsumen bilang "mau service software". Tapi, umumnya mereka bilang "Ini hp saya rusak, tolong dibantu, ya.". Yang menentukan mau diapakan hp itu adalah teknisi. 

Teknisi pun sepertinya jarang ada yang bilang "mau service software". Biasanya mereka akan bilang langsung "tolong hpnya di flash ya." atau "tolong ini roomnya di custom ya.". Setidaknya itu pengalaman saya bersama dua kakak ipar yang kebetulan keduanya adalah teknisi hp.

Jumat, 28 Juli 2023

Begini nasib orang nomaden

Di awal tahun ini, saya sudah menempati rumah baru. Tempat tinggal baru maksud saya. 

Tempatnya lebih luas dari tempat tinggal sebelumnya. Halaman bisa masuk mobil dan motor tanpa harus bersusah payah.  Kamar ada dua. Sehingga bila ada tamu, saya tidak bingung lagi. Saya punya tempat untuk bekerja yang sebelumnya masih bersamaan dengan kamar tidur. Ya, lumayan lebih baik dari sebelumnya.

Mungkin hanya beberapa menit dari tempat tinggal sebelumnya. Bila dalam kondisi macet, mungkin hanya butuh waktu sekitar 30 menit dari tempat tinggal asal ke tujuan. 

Saya tinggal di daerah ujung berung. Dan pindah ke daerah cimekar. Tidak jauh dari mesjid al-jabar. Hanya 15 menit dari rumah bila menggunakan motor.

Walaupun tempatnya relatif luas, namun di sini banyak nyamuk. Saya jadi ingat waktu tinggal di mertua, di daerah cibiru. Baik siang atau malam, nyamuk itu selalu ada. Bahkan, saya pernah terkena demam berdarah yang tidak saya sadari. Saya mengira itu hanya masuk angin biasa.

Air juga di sini tidak sejernih di ujung berung. Di sana air masih layak diminum. Di tempat air yang ada hanya pasir-pasir krikil. Di tempat baru, airnya banyak mengandung zat besi. Airnya tampak bersih, namun mengandung banyak zat besi. Sehingga banyak meninggalkan bekas kuning pada bak air, gayung, tembok kamar mandi dan toilet.

Karena tempat tinggal baru ini tidak jauh dari jalan tol cileunyi, udara di sini kadang panas. Udaranya tidak begitu segar bila siang dan sore hari. Kecuali pagi, itu masih terasa segar.

Bila hujan datang, tidak jarang banyak solokan yang mampet. Sehingga menimbulkan genangan air. Jikapun hujan tidak datang, selokan itu tetap ada genangan air pembuangan kamar mandi. Terlihat kotor dan banyak busa di depan rumah. Saya tidak heran bila banyak nyamuk.

Tapi, untungnya itu tidak berada di wilayah rt saya. Itu ada di rt lain yang letaknya tepat dibelakang rumah saya.

Wilaya perumahan ini luas sekali. Sehingga, ada banyak akses untuk bisa masuk ke perumahan ini. Dengan begitu, ada banyak peluang kejahatan. Yang umumnya saya dengar adalah pencurian sepeda motor dan pembobolan rumah kosong. Berbeda dengan tempat tinggal saya sebelumnya. Saya menyimpan motor diluar garasi pun, aman-aman saja. Ya, walaupun pak rt sempat bertanya "ini motor disimpan di luar aman?"

Yang paling terkenal dari daerah tempat tinggal baru ini adalah banjir. Ya, memang. Bila hujan datang, ada sebagian wilayah perumbahan menjadi langganan banjir. Lagi-lagi, di lingkungan rt saya tidak terdampak. Hanyak akses untuk masuk terhalangi banjir. Mesti memutar mencari jalan lain.

Ya, setiap tempat punya plus dan minusnya.  Tinggal memilih mama yang masih bisa ditolerir. Sulit untuk mencari tempat tinggal yang sempurna. Bahkan, mungkin bukan sulit. Tapi, hampir tidak mungkin. Pasti ada kelebihan dan kekurangannya.

Sebenarnya, saya merasa nyaman tinggal di ujung berung. Airnya bersih. Udaranya sejuk dan dingin. Dan, jauh dari kebisingan kendaraan. Namun, karena harga sewa yang semakin tidak masuk akal, saya memutuskan untuk pindah ke tempat yang sesuai dengan budget. Begini nasib orang nomaden.

Kamis, 27 Juli 2023

Saya belum bisa menulis di pagi hari

Kembali lagi. Menulis di malam hari. Rencananya, kemarin itu, sebelum saya menulis ini, saya akan menulis di pagi hari. Tapi, pada akhirnya saya menulis lagi di malam hari. Sudah larut. Saat ini tulisan ini dibuat, waktu sudah menunjukan 23.29.

Saya harus berlatih tanpa henti. Demi mewujudkan cita-cita sebagai penulis. Walaupun pada ahirnya tidak jadi penulis, tidak apa-apa. Setidaknya saya sudah berusaha. Blog ini merupakan bukti pembelajaran saya.

Saya akan menjadikan menulis sebagai kebiasaan setiap hari. 

Kenginan saya adalah menulis buku, atau menghasilkan sesuatu dari tulisan. Misalnya bisa dari blog atau sosial media. 

Kenapa bisa punya keinginan untuk menulis?

Saya senang jalan-jalan. Dari perjalan itu tentu dapat pengalaman. Nah, pengalaman itu yang ingin saya catat. Sebenarnya, bukan hanya sekedar mencatat. Tapi, ingin memanfaatkannya sebagai peluang untuk menghasilkan uang.

Saya ingin punya waktu bebas. Tapi, tentu kenginan tersebut ada harganya. Berbeda dengan kerja di tempat orang lain. Kita tidak perlu memikirkan hal-hal yang rumit di luar pekerjaan kita. Semuanya sudah punya atau ada posisinya masing-masing. Kita hanya fokus pada pekerjaan diri sendiri. Tapi, tetap bekerja sama dengan orang lain.

Ah, hampir saya kehilangan kata-kata lagi. Saya hampir tidak tahu apa lagi yang perlu saya tulis.

Ingat! saya teringat nasihat-nasihat dari guru-guru saya, baik langsung maupun tidak langsung, ketika mengalami hal demikian, tulisa saja apa yang terlintas di dalam pikiran. "Jangan jadikan menulis sebagai bebab. Tulis saja yang ada dalam pikiran." begitu para guru mengingatkan.

Tadi, sebelum saya menulis ini, saya ngobrol banyak dengan anak saya. Ngobrol ngalor-ngidul. Tapi, topiknya mengarah pada bagaimana menghasilkan uang dari yang kita senangi. 

Anak saya itu baru usia delapan tahun. Dia senang memelihara ayam. Bukan hanya sekedar memelihara yang dijadikan mainan. Tapi, dia sudah berpikir jauh. Dia ingin ayam-ayamnya nanti dijual. Hasil dari penjualan itu di tabung.

Wah, saya senang sekali mendengar ini. Dia sepertinya sudah mengerti bagaimana menjalani hidup. Bagaimana cara bertahan hidup.

Namun, keinginannya itu punya tantangan, yaitu ibunya tidak sejalan dengan keinginannya. Merasa risi dengan keadaan ayam-ayam itu. 

Memang sih, kotoran-kotoran ayam itu punya peluang untuk hinggap di pakaian yang dijemur. Sehingga, kandang ayam jangan dekat tempat yang biasa digunakan untuk menjemur pakaian. Mesti ada tempat khusus. Saya juga paham soal itu. 

Saya coba menengahi. Saya biarkan ayam-ayam itu berkeliaran di halaman rumah. Walaupun kotorannya bertebaran di mana-mana. Tapi, saya bersihkan setiap pagi. Khawatir bila kering nanti akan terbawa oleh angin dan hinggap di pakaian yang sedang dijemur. Itu punya peluang akan membawa penyakit ke pamakaiannya.

Ah, sudah dulu dah ceritanya. Saya ngantuk. Bye.

Saya harus lekas tidur, sudah larut malam

Akhir-akir ini saya jadi jarang menulis. Eh, bukan jarang menulis. Tapi, jadual menulis jadi dipindahkan ke malah hari. Biasanya, saya menulis satu artikel di pagi hari. Sekitar pukul 7 sebelum meeting.

Memang, akhir-akhir ini jadi agak sibuk. Sehingga, jadual menulis jadi pindah di malam hari. Saat saya menulis ini, waktu sudah menunjukan pukul 00:00. Dimana hampir semua orang sudah pada tidur. Memamg waktunya istiraha. Sementara, saya masih sibuk di depan layar komputer untuk menulis.

Kenapa tidak tidur saja?

Saya tidak mau latihan yang saya jalankan berhari-hari menjadi tidak berguna. Saya ingin membiasakan menulis setiap hari. Tentu, tujuannya adalah agar kemampuan menulis saya meningkat. 

Walaupun apa yang saya tulis ini mungkin tidak berguna, nggak jelas sedang membahas apa, ngomongnnya ngelantur sana-sini, saya tidak menganggap itu sia-sia. Saya akui, bisa saja tulisan ini jelek banget. 

Tapi, saya sama sekali tidak mengejar itu. Saya ingin mengejar kebiasaan menulis. Setiap hari, harus ada sesuatu yang saya tuliskan. Apapun itu. Dengan kebiasaan menulis, itu akan mempermudah saya ketika saya membuat repository ilmu atau membuat tulisan-tulisan dengan tujuan-tujuan lain. Misalnya, membuat blog untuk di monetize.

Selama ini, saya belajar tentang SEO, menyewa hosting dan membeli domain. Sayangnya, hosting dan domain itu belum saya maksimalkan untuk tujuan awal. Yang saya lakukan adalah belajar dan belajar. Sementara, hosting dan domain tidak terurus. Tidak ada kemajuan yang signikan. 

Saat tulisan ini dibuat, hosting dan domain itu sudah berumur lebih dari enam bulan. Tapi, belum menampakan kemajuan yang berarti. Sayang, bukan? Itu kebiasaan buru. Saya harus berusaha untuk menghentikannya.

Dengan membiasakan diri menulis setiap hari, saya membiasakan diri untuk berpikir kreatif. Proses menulis itu merupakan proses kreatif. Tidak semua orang mampu untuk menyalurkan pikiran atau perasaan-perasaan mereka ke dalam tulisan. Hanya orang-orang yang terbiasa menulis yang mampu melakukann itu. Saya ingin bisa menulis. Oleh karena itu, saya harus membiasakan diri menulis.

Emangnya, nggak cape ya nulis terus?

Awalnya begitu. Kadang, saya kehilangan motivasi. Dengan menulis, saya tidak mendapatkan apa-apa kecuali kemampuan menulis. Agar menulis dapat menghasilkan, maka saya perlu keahlian lain.

Mata sebensarnya uda sepet. Ingin sekali tidur. Tapi, tanggunglah. Saya harus menyelesaikan tulisan ini terlebih dahulu.

Dan, ini merupakan paragraf terkhir dari tulisan ini. Tidak terasa sudah lebih dari 500 kata. Saya merasa ada progress dalam proses latihan menulis. Semoga, kedepannya semakin baik lagi. Amin.  

Selasa, 25 Juli 2023

Terjebak pada teori-teori menulis

Cara menulis lancar mengalir
Ketika menulis, tulislah semua yang ada dalam pikiran. Apapun itu.

Jangan terjebak dengan teori-teori menulis. Semakin banyak teori yang kita dapat, biasanya menghambat kita dalam mengeluarkan ide, gagasan, atau perasaan untuk dapat kita tuangkan ke dalam tulisan. Kecuali, bila sudah terbiasa menulis atau sudah mahir. Teori-teori itu memang diperlukan. Namun, bagi penulis pemula seperti saya, itu biasanya akan menghambat kreativitas kita dalam menuangkan apa yang ada dalam pikiran kita. 

Jika kita masih pemula, fokus saja menulis. Banyak-banyaklah menulis. Jangan dulu mikirin teori ini dan itu. Tulis yang sudah selesai dalam pikiran kita.

Jangan seperti saya. Belajar terus dan terus. Namun, saya selalu ragu ketika hendak menulis. Memikirkan ini dan itu. Hingga akhirnya, saya tidak menulis apapun.

Aneh memang apa yang saya lakukan itu. Menulis itu salah satu kemampuan mekanis. Sesuatu yang harus dipraktikan. bukan hanya dipikirkan. Saya ingin jadi penulis. Namun, yang saya lakukan adalah hanya membaca tentang bagaimana caranya menuangkan gagasan dan aturan-aturan dalam menulis. Sementara, hal yang tidak kalah penting, yaitu menulis itu sendiri,  itu diabaikan. 

Saya jarang melatih atau mempraktikan kegiatan menulis itu. Sehingga, seberapa banyak apapun teori menulis yang saya dapatkan, hanya sebagai hiasan akal belaka. Saya tetap tidak mampu menulis. Walaupun bisa, saya terseok-seok dalam melakukannya. Bahkan hanya untuk menghasilkan satu paragraph atau beberapa kalimat.

Dalam menulis, praktik merupakan hal yang penting. Hal pertama yang wajib dilakukan adalah menulis, menulis dan menulis lagi. 

Apakah teori-teori seperti ketepatan bahasa, struktur penulis, membuat kerangka tulisan dan lain sebagainya itu tidak penting?

Semuanya tidak kalah penting. Namun, iringi dengan praktik. Bukan hanya sekedar membaca dan membaca. Itu tidak akan membuat sedikit pun kita sampai pada tujuan. Itu hanya sekedar rencana. Yang bisa membawa kita sampai pada tujuan menjadi seorang penulis adalah praktik.

Lalu, apa yang saya lakukan hingga dapat menulis sebanyak ini?

Saya tetap melanjutkan kebiasaan membaca. Tulisan apapun saya baca. Tujuannya bukan untuk serba tahu atau menjadi pintar. Hanya untuk memperkaya kata-kata, dan belajar kepada penulis-penulis itu bagaimana mereka menuangkan pikiran-pikiran mereka.

Yang berbeda adalah, saya akan segera menulis ketika selesai membaca. Mencari poin-poin penting, lalu mencatatnya.

Saya tidak memikirkan benar atau salah ketika menulis. Saya mencoba mengeluarkan kembali apa yang sudah saya masukan tadi. Saya jadikan sebagai latihan. Semakin saya banyak membaca, semakin banyak pula kosakota yang saya dapatkan. Karena kosakata saya banyak, saya lebih punya banyak peluang untuk mengungkapkan pikiran-pikiran saya ke dalam bentuk tulisan.

Kadang, kita punya sesuatu yang kita ingin ungkapkan. Tapi, karena kosakata kita terbatas, kita kesulitan dalam mengeluarkan sesuatu itu dalam bentuk kata-kata. 

Sesuatu itu bisa apapun. Lintasan pikiran, ide, gagasan, perasaan, pandangan kita terhada sesuatu dan lain sebagainya.

Ketika menulis, saya abaikan dulu semua aturan-aturan, tata bahasa, struktur tulisan, dan lain sebagainya. Pokonya, apapun yang menghalangi saya menulis, saya abaikan.

Tulisannya nggak jelas? nggak apa-apa. 

Topiknya nggak jelas? nggak apa-apa juga.

Saya abaikan semua kritikan-kritikan itu untuk sementara waktu. Fokus saya yaitu memproduksi kata-kata sebanyak mungkin. Saya tutup dulu keran-keran kritik itu untuk sementara agar aliran ide tidak tersumbat.

Pada awalnya mungkin kita hanya bisa memproduksi beberapa satu halaman. Namun, bila menulis kita jadikan kebiasaan, menulis 500 kata bukanlah sesuatu yang sulit. Itu yang saya rasakan pada saat ini.

Itulah yang saya lakukan hingga dapat menulis sepanjang ini. Sering-seringlah menulis. Apapun yang terlintas dalam pikiran, tulis. Jadikan itu kebiasaan setiap hari. Buatlah jurnal harian. Saya menulis minimal satu halaman sehari. Maksimal tiga halaman.

Ketika menulis, jangan dulu dengar kritikan-kritikan yang muncul dalam pikiran kita. Abaikan dulu semuanya. Entah itu soal tulisannya nyambung atau tidak, penting atau tidak, jelek atau tidak dan lain sebagainya. Semua itu abaikan untuk sementara. Fokuskan pada memproduksi tulisan sebanyak-banyaknya. Urusan merapihkan tulisan, bisa diabaikan untuk sementara.

Mungkin itu yang bisa saya sampaikan untuk kali ini. Terima kasih buat kamu untuk bisa menyempatkan waktu membaca tulisan ini. Semoga, tulisan ini bisa bermanfaat.