Kamis, 30 Mei 2024

Membaca saja tidak cukup, ikuti dengan latihan menulis

Tentu, membaca saja tidak cukup. Mesti diikuti dengan kegiatan menulis. Bila tidak, maka sulit untuk bisa mewujudkan untuk menjadi seorang penulis.

Akhir-akhir ini saya sedang giat membaca. Bukan hanya untuk menambah pengatahuan. Tapi, saya belajar bagaimana para penulis buku itu menyusun gagasan-gagasannya. Bagaimana mereka menyampaikan idenya itu dengan menarik. Intinya, saya bisa belajar apapun dari mereka.

Namun, itu semua akan sia-sia bila hanya sebatas membaca. Setelah membaca, ikuti dengan menulis. 

Antara membaca dan menulis itu punya hubungan erat. Sulit untuk menulis bila kepala kita kosong. Agar kepala kita tidak kosong, maka salah satu jalan untuk mengisinya adalah dengan banyak membaca. Sehingga, ketika hendak menulis tidak ada lagi kata "tidak ada ide". Bila sudah banyak membaca, pastilah ada sesuatu yang menempel di otak kita. Entah itu pengalaman membaca, pengetahuan, kesan dan lain-lain. Itulah yang akan menjadi bahan penulisan.

Membaca juga memperkaya kosakata. Orang bijak bilang,"membaca itu memasukan kata-kata ke dalam diri", sedangkan menulis adalah "mengeluarkan isi pikiran, ide, gagasan atau kadang perasaan dalam bentuk tulisan. Bila kosakata kita terbatas, maka sulit untuk mengungkapkan semua itu.

Latihan menulis itu melatih sinergi antara pikiran dan tangan. Melatih mengalirkan pikiran, gagasan atau perasaan itu ke dalam bentuk tulisan. Selain itu, menulis juga melatih kita menggunakan kosakata secara tepat.

Berlatih menulis itu penting jika ingin menjadi penulis. Bagaimana tidak? seorang penyanyipun harus selalu berlatih bila ingin menjadi penyanyi profesional. Begitu juga penulis. Membaca itu adalah sarana untuk mengisi pikiran dan juga memperkaya kosa-kata.

Bahasa tulisan itu berbeda dengan bahasa lisan. Di dalam tulisan, kita tidak punya alat bantu ekpresi. Misal ketika mau menulis ungkapan marah, maka kita perlu menggunakan kata-kata dan tanda baca yang tepat agar bisa dimaknai merah oleh pembaca. 

Bahasa lisan, kadang kata-kata yang sepertinya tidak menunjukan marah, sedangkan ekpresi wajah menunjukan sebaliknya, maka itu bisa dimaknai marah.

Di dalam bahasa lisan, ada alat bantu. Entah itu ekpresi wajah atau gerakan badan. Sehingga, relatif mudah ditangkap maknanya.

Nah, membaca itu sangat membantu dalam belajar mengungkapkan ekpresi-ekpresi itu dalam bahasa tulis. Namun, membaca saja tidak cukup. Harus diikuti dengan latihan terus-menerus. 

0 komentar:

Posting Komentar