Mungkin ada yang belum tau, apa sih perkumpulan insiatif itu? Setahuku, mereka adalah organisasi non-profit di luar pemerintah atau NGO yang punya kepedulian terhadap kebijakan-kebijakan publik khususnya dengan isu-isu yang terkait lingkungan.
Bukan kali pertama saya kesini. Ini kesekian kalinya datang ke kantor inisiatif. Tapi, baru kali ini saya menulis tentang tentang tempat ini.
Sambil menunggu, tiba-tiba teringat dulu pertama kali datang kesini.
Proyek Pengembangan Aplikasi yang Gagal?
Saya lupa hari dan bulannya, tapi seingatku sekitar tahun 2018.
Pada tahun itu, saya menerima dan mengerjakan proyek pengembangan perangkat lunak untuk sebuah kelurahan yang berada di kota Sumedang, Jawa Barat. Proyek pembuatan perangkat lunak untuk memudahkan dalam mengajukan perijinan. Dari tingkat RT, RW, hingga kepala desa.
Sampai saat ini, saya masih ingat. Lokasinya dipinggir jalan utama Bandung-Sumedang. Jadi, tidak terlalu sulit untuk mencari lokasi itu. Jarak tempuhnya pun, mungkin kurang dari 2 jam perjalanan.
Saya tidak mendapatkan proyek itu secara langsung. Tapi, dari seorang teman. Namanya Haidar. Dia yang menawari saya untuk bergabung di timnya. Dan, saya menyetujuinya,
Tugas saya hanya mengerjakan apa yang sudah dirancang. Teknologi yang digunakan, struktur database, dan infrastruktur sudah ditentukan dan sediakan. Yang perlu saya kerjakan adalah membuat kode agar rancangan itu terwujud. Hasil akhir dari proyek tersebuth adalah sebuah aplikasi berbasis web dan app android.
Untuk mengerjakan proyek itu, saya dipinjamkan sebuah laptop. Leonvo thinkpad yang dibekali procesor i5, memory 4gb. Untuk kapasitas hardisk, saya lupa. Yang saya ingat, masih menggunakan HDD.
Saya cukup senang walaupun hanya dipinjami laptop. Saya belum punya laptop waktu itu.
Di tim itu, ada seorang teman yang mengurusi marketing. Saya lupa namanya. Tapi, jika bertemu pasti ingat. Sesuatu hal yang biasa pada manusia pada umumnya. Jarang ingat nama.
Proyek itu tidak berjalan mulus. Pembayaran yang macet yang menyebabkan saya dan tim pun jadi tidak punya tenaga untuk melajutkan dan mengerjakan proyek itu.
Selain itu, teman saya sakit. Penyakit lama yang dideritanya kambuh. Proyek menjadi tidak terurus dan berjalan tanpa leader. Dan, saya berpikir bahwa proyek ini pasti kacau. Kemungkinan, sedikit kemungkinan saya akan dibayar.
Pertemuan Pertama dengan Pak Dani
Setelah berjalan hampir dua bulan, saya merasakan tanda-tanda ada sesuatu yang tidak beres. Progress proyek sudah jarang ditanyakan. Pembayaran yang tidak ditepati. Tapi, saya waktu itu tidak terlalu khawatir karena saya memegang laptop.
Salah satu tandanya adalah pembayaran yang dijanjikan tidak kunjung ditepati. Selain itu, teman saya sudah jarang menanyakan progress proyek ini.
Dan, suatu hari saya mendapatkan kabar yang seolah-olah mengkonfirmasi apa yang saya rasakan. Teman yang mempekerjakan saya, sudah tidak mau tahu tentang proyek itu. Dia hanya fokus dengan penyembuhan penyakit yang dia derita.
Saya sebenarnya sudah tahu penyakit yang dia derita. Jadi, saya tidak kaget setelah mendengar kabar itu.
Teman saya itu menderita penyakit mental. Saya tidak menebak-nebak. Tapi, saya mendengar langsung. Dia yang menceritakan sendiri. Tapi, saya berpikir positif. Mungkin, suatu hari nanti akan sembuh.
Nyatanya, penyakit itu kambuh lagi. Saya tidak tahu apa yang menjadi pemicunya.
Tentu, ini membuat saya dan rekan yang lain menjadi cemas. Berpikir, bahwa apa yang dikerjakan selama sebulan seperti sia-sia. Saya tidak mau seperti itu. Jadi, saya dan rekan yang lain memutuskan untuk menemui langsung dengan pak Dani.
Pak Dani mungkin bisa dibilang customernya Haidar. Ia yang memesan aplikasi itu kepada teman saya. Oleh karena itu, sebenarnya saya tidak punya tanggung jawab langsung kepada pak Dani. Jika seandainya proyek itu gagal, saya hanya berurusan dengan teman saya.
Saya malah berpikir lain. Pak dani, dalam pikiran saya adalah seorang kepala desa. Mungkin karena tema proyek itu adalah kelurahan, jadi saya berpikir beliau adalah lurahnya. Yang meng-inisiasi proyek pengembangan perangkat lunak.
Pertemuan ke dua dengan pak Dani
Saya datang terlambat. Waktu saya dihabiskan dijalan untuk mencari sebuah alamat. Walaupun sudah dipandu dengan google map, tetap saja tidak mudah. Apalagi di perumahan.
Saya masuk. "Wah, kantor kelurahan ".
Alamat itu adalah tempat dimana saya dan teman, pak dani akan bertemu. Di pertemuan kedua itu saya akan membahas pembayaran. Kasarnya, saya meminta pencairan.
Kebetulan pada waktu itu, proyek yang saya kerjakan bersama pak dani adalah proyek software yang nantinya akan diterapkan di kelurahan, RT dan RW yang ada di salah satu kota di Jawa Barat. Proyek itu bermasalah. Masalah pembiayaan dan manajemen pengembangan. Yang terkhir ini, penyebab sudah diketahui.
Saya berdua dengan rekan untuk menanyakan soal keberlangsungan proyek pembuatan aplikasi. Saya ingin mengetahui apakah proyek akan dilanjutkan atau tidak.
Proyek itu tidak ada kaitannya dengan perkumpulan inisiatif, tapi kebetulan saya bekerja sama dengan salah satu dari mereka.
Pertama kali saya datang ke tempat ini, saya mengira ini kantor kelurahan. Bukan dari bentuknya, tapi itu hanya perkiraan saya.
Coba tebak, apa yang menyebabkan saya berpikir sepert itu?
Itu aja sih,
Setelah beberapa bulan kemudian, saya baru tahu kalo proyek softwere yang sedang saya kerjakan itu akan di install di kantor kelurahan sumedang.
Saya lupa nama kelurahannya apa ya, tapi masih inget tempatnya sampai sekarang.
Saya pernah menceritakan ini kepada pak dani. Beliu hanya tersenyum meresponnya.
0 komentar:
Posting Komentar