Rabu, 20 Juli 2022

Mencoba membiasakan diri menulis 19 menit setiap hari

Saya mencoba untuk membuat komitmen untuk diri sendiri untuk melakukannya setiap hari.
Minimal 19 menit per hari untuk mengeluarkan semua yang dalam pikiranku.

Nasihat ini saya dapatkan entah dari siapa. Saya lupa. Tapi, yang penting saya harus memulai dan membiasakan diri untuk menulis.

Waktu sudah menunjukan pukul 08.04. Setengah jam lagi saya harus berangkat kerja. 

Sambil mengisi waktu luang, saya menulis ini. Tidak tahu mau menulis apa sebenarnya. Hanya menulis yang ada dalam pikiranku saat ini.

Kalo tulisannnya ngalor-ngidul, ya memang begitu. Orang menyebutnya menulis bebas. Menulis tanpa berpikir. Mengalirkan semua ide yang ada dalam kepala kita. Hanya itu.

Saat ini, saya tidak peduli tentang tata bahasa. Atau ketepatan bahasa yang saya gunakan. Typo, lupakan juga. Terus saja menulis.

Mungkin, kamu juga pernah merasakan ingin menulis. Tapi bingung mau nulis apa atau harus memulai dari mana.

Gak ada ruginya kamu coba cara ini. Menulis bebas. Seperti yang dilakukan saya sekarang.

Kalo kamu perhatikan, ide tulisan ini seperti gak jelas. Munhkin kamu berpikir 
"Ini orang lagi bahas apa sih?"

Ya memang tidak sedang membahas apapun. Yang saya lakukan hanya menulis bebas. Hanya untuk membiasakan menulis minimal19 menit. Dan harapannya jadi bisa dan terbiasa.

Tak terasa sudah beberapa menit berlalu. Tak terasa sudah sebanyak ini.

Ok, saya lanjutkan lagi sebentar sebelum saya berangkat kerja.

Saya bekerja sebagai programer. Setiap hari menuliskan kode. Itu yang saya lakukan setiap hari.

"Kode apa?" mungkin kamu sedikit heran.

"Kode buntut?" saya tau kamu sedang ingin bercanda bukan? 

Ya memang profesi ini belum populer di masyarakat kita saat ini. Tidak seperti profesi-profesi lainnya. Misalnya sales, dokter, buruh pabrik, tentara, polisi, pengacara dan lain sebagainya.

Harapannya tulisanku itu kan berguna minimal buat sendiri, lebih-lebih untuk orang lain.

Bagi diri sendiri, tulisan itu aku anggap sebagai alat perekat untuk pengetahuanku agar tidak mudah lupa. Sementara bagi orang lain, mungkin bisa belajar dari apa yang saya sampaikan.

Saya punya banyak pengetahuan teknis. Pengetahuan itu mengantarku sebagai profesi programer.

Apa saja pengetahuan itu?

Beberapa diantaranya yaitu pengetahuan tentang bahasa pemograman.

Ada banyak sekali bahasa pemograman. Selain itu, tiap-tiap bahasa pemograman punya karakteristiknya masing-masing.

Pengen sekali saya menuliskan semua itu. Tapi, memang bukan hal yang mudah.

Oleh karena itu, saya mencoba untuk membiasakan diri menulis, mencoba untuk menuangkan, menyampaikan, mengalirkan ide yang ada dalam pikiranku ke dalam tulisan.

Kamis, 14 Juli 2022

Tahu Bungkeng, Sumedang


Awalnya, 

"Ah cuma tahu, gak jauh beda rasanya seperti tahu pada umumnya, pasti gitu-gitu aja"

Begitu responku setelah mendengar kata tahu sumedang.

Bagaimana tidak? tahu kan ada dimana-mana. Itu sudah umum di masyarakat,  khususnya Jawa Barat. Selain dengan harganya yang murah, kamu bisa menemukannya dimana-mana seperti di pasar, warung, apalagi di supermarket kamu pasti dengan mudah menemukan yang namanya tahu. 

Dari segi harga pun, munurutku sih semua orang dari kalangan menengah atas sampai bawah mampu beli tahu karena harganya yang murah. Dengan Rp.5000 mungkin kalian sudah dapat 10 biji. 

Karena saking banyak dan mudah didapat mengakibatkan benda itu, makanan itu, bukan sesuatu hal yang aneh buatku. Tidak membuat saya mengatakan "wow". Mungkin bagi kamu juga.

Tapi, anggapan itu berubah setelah seorang teman, orang sumedang bawa sekeranjang tahu sumedang lengkap dengan sambelnya.

"Wah, enak euy, beda"

Itu responku setelah mencicipinya. Saya makan tidak cukup satu, malah rebutan sama teman-teman lainnya. Tidak sampai kenyang, tapi saya puas dengan rasanya.

Itu terjadi sekitar 13 tahun yang lalu, sekelebat kenangan saat masa-masa kuliah dulu. 

Sekarang saya berada di sumedang, tepat di depan outlet Tahu Bungkueng.  Saat ini, 2022, 13 Juli 16.30.

Tahu bungkeng sumendang

Saya masih ingat, dulu temenku merekomendasikan untuk beli tahu disini. Saya lupa yang merekomendasikan, si Dadan atau Egi. Entah dimana mereka tu sekarang. Sudah lama lost contact.

Dan tahu sumedang yang ku makan pertama itu juga ternyata tahu bungkeng. Saat itu, aku gak terlalu menghiraukannya. Mungkin saking enaknya, takut kehabisan.

Oh iya, saya lupa. 

Hey kamu, Dadan atau Egi, kalo baca blog ini, tolong comment ya. Dimana kalian sekarang?

Kembali lagi..

Memang, kalo kamu jalan-jalan ke sumedang, tengoklah di kiri-kanan jalan ada banyak banget yang jualan tahu. Ada pake grobak, ada yang seperti warung, ada yang mirip sebuah restoran.

Saya pernah mencicipi beberapa diantaranya. Ada yang enak, tapi tidak sedikit juga yang menurutku rasanya biasa aja. Saya beli karena penasaran aja sih, sekedar pengen tahu, apa bedanya dengan tahu bungkeng. Ya, ternyata beda.

Pasti gak percaya ya? Coba deh kalian datang kesana.

Tahu bungkeng sumedang

Mungkin ini kali ke tiga saya berkunjung. Tapi, sayang. Hari ini saya tidak kebahabisan. Hanya beli lontong. Untuk tahu, beli di sebrang jalan. Ya, daripada laper.

Potret yang saya ambil ini, berada di pusat kota. Sebenarnya ada outlet lain selain ini. Karena ini sudah sore, saya memutuskan untuk segera pulang ke Bandung.

Eh, ternyata Tahu Bungkeng itu idak hanya menjual tahu, tapi ada juga lontong, dan yang pasti macam-macam sambelnya,  dan oleh-oleh sumedang lainnya. 

Satu keranjangnya tidak terlalu mahal, dengan Rp.30.000 kamu sudah kenyang. Apa lagi ditambah lontong. Beuh mungkin bisa kenyang sampai 2 hari hehe.

Oh ya lontongnya juga murah lo, cuma Rp.1000.

Setelah icip-icip, hari sudah terlihat gelap. Segera saya pulang lagi ke Bandung.

Selasa, 05 Juli 2022

Googling Aja

Googling aja
Foto oleh Pixabay: https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-yang-menggunakan-macbook-air-38547/

"Coba googling aja"

Pernah gak kamu dengar orang bilang begitu? misalnya saat kamu pengan nyari tahu tentang sesuatu. Atau misalnya kamu sedang mendapat tugas dari sekolah atau kampus.

Atau pernah kamu disuru kaya gitu?

Ah, pastilah ya.

Dengan semakin berkembanganya teknologi informasi, harga smarphone yang relatif murah, dan diikuti oleh biaya internet yang semakin terjangkau, hampir semua orang ketika dihadapkan dengan suatu masalah, hal yang umum dilakukan adalah googling.

Mau tau tentang bagaimana cara menghasil uang melalui internet? googling aja.

Mau tau bagaimana cara meningkatkan penjualan? googling aja..

Mau tau apa peluang usaha yang lagi trend? googling aja..

Mau tau bagaimana membangun usaha dengan modal seminim mungkin tapi hasilnya maksimal? googling aja.

Ya, betul. 

Hampir semua informasi tersedia di internet.

Tapi, bukan itu yang akan saya bahas kali ini.

Saya akan mencoba menganalisis tentang istilah ini, googling.

Dulu kita hanya mengandalkan media-media konvensional seperti buku, koran, majalah atau tabloid untuk mengakses informasi, tapi saat ini, kita dihadapkan dengan banyak pilihan. Bisa melalui blog, search engine, social media, atau plafform-flatform seperti whatsapp, telegram, wechat dan sejesninya.

Biaya untuk mengaksesnya relatif lebih murah dibandingkan dengan media konvensional seperti yang saya sebutkan di atas.

Begitupun dengan penyebarannya. Dengan menggunakan internet penyebaran informasi menjadi lebih murah, mudah dan area jangkauannya lebih luas.

Saat ini kita publish, saat itu juga orang-orang dapat mengakses informasi yang kita buat dan sebarkan.

Biasanya, kita mencari informasi melalui search engine seperti Google, Bing, Yahoo, Yandex, atau DuckDuckGo.

Tapi, pertanyaannya adalah apa itu search engine? masih banyak yang tidak tahu istilah ini. 

Ya, tentu. karena istilah itu tidak populer di masyarakat umum. Biasaya hanya kalangan-kalangan tertentu yang tahu. Contohnya yang bekerja sebagai pengembang aplikasi, pebisnis online dan sejenisnya.

Istilah umum yang diketahui masyarakat untuk kegiatan mencari informasi di internet adalah googling. Dan saya yakin, search engine yang mereka gunakan adalah Google.

Bagaimana tidak?

Saat ini, smartphone yang paling banyak digunakan adalah Android, sedang Android itu adalah produk Google. Sudah pasti, setiap handphone atau smartphone yang menggunakan sistem operasi itu pasti ada aplikasi-aplikasi dari Google juga.

Gak percaya? 

Coba kamu perhatikan handphone punya teman, tetangga, orang tua, atau coba cek handphone punyamu deh. 

Saya yakin, disitu pasti ada aplikasi google seperti gmail, google drive atau minimal google search.

Saya mengira, istilah googling itu muncul karena kebiasaan menggunakan aplikasi google search atau search engine google untuk mencari informasi apapun.

Sepertinya tidak mungkin atau bahkan lucu ya jika kita bilang googling tapi search engine yang digunakan adalah duckduckgo atau bing.

Menurutmu gimana? tepat gak apa yang saya kira?

Awas, di depan pintu ada ular!!


Tiba-tiba seekor ular nongol tepat berada di depan pintu keluar kamar. 

"Astagfirullah" sontak saya kaget. 

Sore itu, sekitar pukul 6 sore, saya hendak buang air kecil sekalian berwudu. Mungkin sekitar 10 menit setelah adzan magrib. Saya lupa itu hari apa. 

Hanya setengah badan yang terlihat dan kepalanya menatap saya. 

Warnanya hijau agak kehitam-hitaman, bentuk kepalanya sepertinya ular pohon atau air.

Saya tidak tahu namanya, tapi saya familiar dengan bentuknya. Pernah saya melihat ular seperti itu di chanelnya beberapa youtuber reptil seperti Dede Inoen atau Pandji Petualang.

Oh iya, posisi kamar kecil, ruang tamu dan kamar saya itu saling berdampingan. Memang kecil rumah yang kami tempati pada saat itu. Cukup untuk keluarga kecil kami yang hanya tiga orang.

Di samping kanan pintu kamar saya terdapat kursi ruang tamu sedangkan sebelah kiri pintu masuk kamar kecil yang biasa digunakan untuk mandi atau buang air kecil atau besar.

Ular itu sepertinya hendak menuju kamar kecil, tapi setelah kami berhadap-hadapan, ular itu balik arah ke ruang tamu. 



Sepertinya benar apa yang dikatakan para youtuber reptiler itu. Ular pada dasarnya takut oleh manusia dan hanya menyerang jika merasa terancam.

Ular itu pun segera balik arah dan bersembunyi di balik kursi-kuris ruang tamu. Bisa jadi ia pun kaget atau merasa takut atau terancam.

Begitu pun dengan saya. Kaget? sudah tentu pasti. Dengan reflek, sayapun mundur naik ke atas kasur.

"Ada apa yah?" tanya istri saya.

Pada waktu itu, kami sedang berkumpul di kamar. Saya, istri dan anak saya.

"Gak ada apa-apa" jawabku mencoba untuk menenangkan.

Tapi, kegelisahanku tidak dapat disembunyikan. Akhirnya, saya memberitahu mereka.

"Barusan sepertinya ada ular"

"Ah, masa?" sedikit tidak percaya dan nampak kaget setelah saya bilang begitu.

"ular dimana yah?" anaku yang dari tadi asik main gem pun bertanya dengan penuh penasaran.

"Tadi, sepertinya ayah lihat ular di depan pintu" sayapun sedikit tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi.

Dengan sedikit perasaan deg-degan, saya mencoba keluar.

Saya coba geser-geser kursi ruang tamu untuk memastikan ular itu memang ada atau hanya ilusi.

Dan ternyata memang betul, apa yang saya lihat tadi itu bukan ilusi. Tapi memang benar, rumah kami dimasuki ular.

Panjangnya sekitar 1,5 meter. Ular itu bersembunyi di balik kursi.

"Oh iya betul, ularnya ada disini" saya ngasih tau anak dan istri yang berada di kamar. Menunggu dengan penuh penasaran.

Anak saya mencoba untuk melihat langsung, tapi di cegah oleh ibunya.

"Disini aja, jangan kesana!" dengan tegas dan reflek mencegah anak saya yang baru 7 tahun itu turun dari ranjang untuk keluar dari kamar.

"matiin aja yah" istri saya dengan panik mengatakan itu.

"jangan, kali aja ini ular jadi-jadian" candaku, untuk mencairkan suasana. 

Padahal, saya juga masih deg-degan pada saat itu.

Ular itu sepertinya tidak berbisa, tapi tetap saja saya tidak berani untuk memegang. Bukan ahlinya.

Saya mencoba ambil sapu untuk mencoba mengusirnya dari rumah. Tidak dengan cara kekerasan, misal dengan memukulnya. Tapi, hanya mendorong-dorong badannya agar keluar dari dari rumah.

Percobaan pertama tidak berhasil, ular itu malah lari ke arah lain. Tapi, masih di sekitar ruang tamu.

Saya buka pintu depan, kemudian saya panggil semua kucing. Mereka pun hampir semua masuk. Sebagian masih ada di luar pintu.

Melihat ada ular di ruang tamu, semua kucing pun mengelilinya. Mungkin mereka mengira itu mainan. Atau mungkin merasa bahwa itu merupakan ancaman? saya tidak tahu, tapi yang jelas mereka membantu saya mengeluarkan ular itu dari rumah.

Lucu jika diperhatikan bagaimana mereka mencoba mengeluarkan ular dari rumah. Semua mengeliling ular itu, kemudian di arahkan keluar menuju pintu.

Gak sampai disitu, tapi mereka juga mengejarnya sampai keluar dari rumah.

Terakhir saya lihat, ular itu masuk got depan rumah tetangga. Dan kucing-kucing itu masih mengejarnya.

Setelah ular itu pergi..

Saya tentu masih sedikit shok dengan apa baru saja terjadi.

Saya masih menyimpan pertanyaan yang sampai saat ini belum terjawab.

"Dari mana ular itu masuk?"

"Mungkinkah ia sedang mengejar mangsa? atau mungkinkah itu ular jadi-jadian?"

Tentu pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya gelisah sepanjang malam. Membuat saya sulit untuk tidur. Khawatir jika masih ada ular yang lain. 

Untuk meringankan kekhawatiran saya, semua kucing saya masukan. Membiarkan mereka untuk tidur di dalam rumah.

Biasanya,  saya mengeluarkan kucing-kucing itu. Tujuannya biar mereka terbiasa dengan alam. Agar insting berburunya masih ada. Sehingga ketika suatu hari mereka saya tinggal beberapa hari, mereka masih bisa bertahan hidup.

Tapi, malam itu saya membiarkan mereka tidur dalam rumah. Untuk menjaga kami sepanjang malam.

Terima kasih kucing-kucingku..

Nonton bioskop haram?

Nonton bioskop haram, hukum nonton bioskop
Foto oleh Pixabay: https://www.pexels.com/id-id/foto/kursi-teater-merah-dekat-pilar-beton-putih-269140/

Saya tidak tahu..,

Saya bukan ahli dalam urusan agama.

Nonton bioskop itu haram karena ada musik dan tempat berkumpulnya antara laki-laki dan perempuan.

Pernyataan itu dinyatakan oleh ustad yang cukup populer di kalangan netizen. Ceramah-ceramahnya banyak di youtube. Pengikutnya pun banyak. Dari kalangan orang biasa sampai artis.

Tapi, sungguh, pernyataan ini belum dapat saya pahami dan mengusik nalar saya.

Bagaimana tidak? ada banyak tempat di mana antara laki-laki dan perempuan berkumpul atau berkerumunan. Coba perhatikan di pasar, mall, jalan, angkot, bus dan masih banyak lagi.

Kalo soal musik, memang sebagian ulama ada yang mengatakan haram, lainnya tidak.

Jika yang ditonton itu film bokep, saya bisa mengerti. Jangankan di pandang dari kaca mata agama, secara moralpun itu tidak boleh, dianggap tabu. 

Yang nonton bokep itu biasanya sembunyi-sembunyi. Itu artinya, secara nurani juga manusia malu menonton tayangan seperti itu.

Apa lagi di pandang dari kaca mata agama. Saya yakin, mungkin semua agamapun akan melarangnya. Ditambah dengan melakukan kegiatan mesum. Sudah pasti itu haram. Tidak boleh.

Tapi kalo hanya sekedar ada unsur musik dan berkumpulnya laki-laki dan perempuan untuk melakukan kegiatan tertentu yang tidak dilarang agama, ini yang membuat saya bertanya-tanya. Mengusik nalar saya. Sehingga menimbulkan banyak pertanyaan.

Ada banyak hal yang mengandung unsur musik dan tempat berkumpulnya banyak orang, laki-laki dan perempuan. Entah itu di sekolah, gedung dpr, mini market, pasar dan masih banyak lagi.

Kita ambil contoh dalam melakukan perjalanan menggunakan bus. Di dalam tempat itu kita tidak bisa mengontrol siapa yang akan naik, entah itu laki-laki aja atau perempuan aja. Semua boleh naik, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan wariapun boleh naik. Asalkan mau membayar ongkos perjalananan.

Selain itu, ada tukang ngamen. Jelas, mereka memainkan lagu-lagu pake alat musik. Apakah mereka juga haram mencari nafkah dengan cara itu? Dan juga yang menumpang busnya jadi dosa karena ada tukang ngamen di dalamnya? Apakah kita perlu mengusir mereka baik secara halus atau kasar? Mereka sama-sama ibadah untuk menghidupi diri atau dan keluarganya.

Di pasar, baik tradisional atau modern. Pasti yang belanja itu bukan hanya laki-laki atau perempuan. Dari mulai yang pake jilbab sampai yang pake rok mini juga ada. Musik? Tak jarang kita juga denger musik disana, apakah itu artinya kita haram juga kesana?

Pernah ke toko gramedia? atau toko-toko buku yang lain yang cukup besar di kota kalian?

Perhatikan, hampir sama seperti pasar pasti ada laki-laki dan perempuan di sana. Musik? Oh pasti sering dengar. Biasanya musik-musik instrumental. Apakah dengan begitu tempat ini di haramkan?

Saya merasa kok beragama tu malah bikin ribet ya? 

Awalnya kukira kantor kelurahan


Gambar ini aku ambil di ruang tunggu kantor perkumpulan inisiatif. Saya ambil ketika sedang menunggu untuk meeting.

Mungkin ada yang belum tau, apa sih perkumpulan insiatif itu? Setahuku, mereka adalah organisasi non-profit di luar pemerintah atau NGO yang punya kepedulian terhadap kebijakan-kebijakan publik khususnya dengan isu-isu yang terkait lingkungan.

Bukan kali pertama saya kesini. Ini kesekian kalinya datang ke kantor inisiatif. Tapi, baru kali ini saya menulis tentang tentang tempat ini. 

Sambil menunggu, tiba-tiba teringat dulu pertama kali datang kesini. 

Proyek Pengembangan Aplikasi yang Gagal?

Saya lupa hari dan bulannya, tapi seingatku sekitar tahun 2018.

Pada tahun itu, saya menerima dan mengerjakan proyek pengembangan perangkat lunak untuk sebuah kelurahan yang berada di kota Sumedang, Jawa Barat. Proyek pembuatan perangkat lunak untuk memudahkan dalam mengajukan perijinan. Dari tingkat RT, RW, hingga kepala desa.

Sampai saat ini, saya masih ingat. Lokasinya dipinggir jalan utama Bandung-Sumedang. Jadi, tidak terlalu sulit untuk mencari lokasi itu. Jarak tempuhnya pun, mungkin kurang dari 2 jam perjalanan.

Saya tidak mendapatkan proyek itu secara langsung. Tapi, dari seorang teman. Namanya Haidar. Dia yang menawari saya untuk bergabung di timnya. Dan, saya menyetujuinya,

Tugas saya hanya mengerjakan apa yang sudah dirancang. Teknologi yang digunakan, struktur database, dan infrastruktur sudah ditentukan dan sediakan. Yang perlu saya kerjakan adalah membuat kode agar rancangan itu terwujud. Hasil akhir dari proyek tersebuth adalah sebuah aplikasi berbasis web dan app android.

Untuk mengerjakan proyek itu, saya dipinjamkan sebuah laptop. Leonvo thinkpad yang dibekali procesor i5, memory 4gb.  Untuk kapasitas hardisk, saya lupa. Yang saya ingat, masih menggunakan HDD.

Saya cukup senang walaupun hanya dipinjami laptop. Saya belum punya laptop waktu itu.

Di tim itu, ada seorang teman yang mengurusi marketing. Saya lupa namanya. Tapi, jika bertemu pasti ingat. Sesuatu hal yang biasa pada manusia pada umumnya. Jarang ingat nama. 

Proyek itu tidak berjalan mulus. Pembayaran yang macet yang menyebabkan saya dan tim pun jadi tidak punya tenaga untuk melajutkan dan mengerjakan proyek itu.

Selain itu, teman saya sakit. Penyakit lama yang dideritanya kambuh. Proyek menjadi tidak terurus dan berjalan tanpa leader. Dan, saya berpikir bahwa proyek ini pasti kacau. Kemungkinan, sedikit kemungkinan saya akan dibayar.

Pertemuan Pertama dengan Pak Dani

Setelah berjalan hampir dua bulan, saya merasakan tanda-tanda ada sesuatu yang tidak beres. Progress proyek sudah jarang ditanyakan. Pembayaran yang tidak ditepati. Tapi, saya waktu itu tidak terlalu khawatir karena saya memegang laptop.

Salah satu tandanya adalah pembayaran yang dijanjikan tidak kunjung ditepati. Selain itu, teman saya sudah jarang menanyakan progress proyek ini.

Dan, suatu hari saya mendapatkan kabar yang seolah-olah mengkonfirmasi apa yang saya rasakan. Teman yang mempekerjakan saya, sudah tidak mau tahu tentang proyek itu. Dia hanya fokus dengan penyembuhan penyakit yang dia derita. 

Saya sebenarnya sudah tahu penyakit yang dia derita. Jadi, saya tidak kaget setelah mendengar kabar itu.

Teman saya itu menderita penyakit mental. Saya tidak menebak-nebak. Tapi, saya mendengar langsung. Dia yang menceritakan sendiri. Tapi, saya berpikir positif. Mungkin, suatu hari nanti akan sembuh.

Nyatanya, penyakit itu kambuh lagi. Saya tidak tahu apa yang menjadi pemicunya.

Tentu, ini membuat saya dan rekan yang lain menjadi cemas. Berpikir, bahwa apa yang dikerjakan selama sebulan seperti sia-sia. Saya tidak mau seperti itu. Jadi, saya dan rekan yang lain memutuskan untuk menemui langsung dengan pak Dani.

Pak Dani mungkin bisa dibilang customernya Haidar. Ia yang memesan aplikasi itu kepada teman saya. Oleh karena itu, sebenarnya saya tidak punya tanggung jawab langsung kepada pak Dani. Jika seandainya proyek itu gagal, saya hanya berurusan dengan teman saya.

Saya malah berpikir lain. Pak dani, dalam pikiran saya adalah seorang kepala desa. Mungkin karena tema proyek itu adalah kelurahan, jadi saya berpikir beliau adalah lurahnya. Yang meng-inisiasi proyek pengembangan perangkat lunak. 

Pertemuan ke dua dengan pak Dani

Saya datang terlambat. Waktu saya dihabiskan dijalan untuk mencari sebuah alamat. Walaupun sudah dipandu dengan google map, tetap saja tidak mudah. Apalagi di perumahan.

Saya masuk. "Wah, kantor kelurahan ".

Alamat itu adalah tempat dimana saya dan teman, pak dani akan bertemu. Di pertemuan kedua itu saya akan membahas pembayaran. Kasarnya, saya meminta pencairan.

Kebetulan pada waktu itu, proyek yang saya kerjakan bersama pak dani adalah proyek software yang nantinya akan diterapkan di kelurahan, RT dan RW yang ada di salah satu kota di Jawa Barat. Proyek itu bermasalah. Masalah pembiayaan dan manajemen pengembangan. Yang terkhir ini, penyebab sudah diketahui.

Saya berdua dengan rekan untuk menanyakan soal keberlangsungan proyek pembuatan aplikasi. Saya ingin mengetahui apakah proyek akan dilanjutkan atau tidak.

Proyek itu tidak ada kaitannya dengan perkumpulan inisiatif, tapi kebetulan saya bekerja sama dengan salah satu dari mereka.

Pertama kali saya datang ke tempat ini, saya mengira ini kantor kelurahan. Bukan dari bentuknya, tapi itu hanya perkiraan saya.

Coba tebak, apa yang menyebabkan saya berpikir sepert itu?

Itu aja sih,

Setelah beberapa bulan kemudian, saya baru tahu kalo proyek softwere yang sedang saya kerjakan itu akan di install di kantor kelurahan sumedang. 

Saya lupa nama kelurahannya apa ya, tapi masih inget tempatnya sampai sekarang.

Saya pernah menceritakan ini kepada pak dani. Beliu hanya tersenyum meresponnya.