Sabtu, 22 September 2012

Ciumbuleuit, Daerah Wajib Kamu Coba untuk Nongkrong Sambil Menikmati Indahnya Pemandangan

Acara malam mingguan kali ini adalah pergi ke punclut. Kamu pernah denger daerah ini ?

letaknya di daerah ciumbuleuit Bandung. Saya berangkat setelah magrib melalui jalan ciumbuleit, karena memang jalan paling dekat dengan tempat tinggal saya.

Sebenarnya, menuju tempat tersebut dapat melalui dua jalan utama, yaitu lembang dan ciumbuleuit. Dari tempat saya, Jl Setia Budi Bandung, tentu melalui ciumbuleuit adalah jarak yang paling dekat untuk menuju kesana. Jika datang dari arah subang, tentunya Anda bisa masuk melalui terminal Lembang.

Menurut saya, jika melalui lembang, jalannya sangat mengerikan. Anda harus mengecek rem kendaraan Anda sebelum menggunakan jalan itu. Banyak tanjakan dan turunan yang sangat tajam sekali. Anda harus hati-hati jika melalui jalan ini.

Kondisi jalan di jalan ciumbuleuit saat itu memang sedang ada perbaikan. Jadi, kondisi lalu lintas jalan tersebut sedikit kurang lancar.

Setiap malam minggu dan hari minggu, tempat tersebut selalu ramai didatangi pengunjung. Menurut saya, tidak ada yang istimewa di tempat tersebut. Jika diperhatikan, sepanjang jalan tersebut hanya terdapat tempat-tempat makan. Mungkin yang membuatnya berbeda adalah tempatnya yang diatas bukit. Jadi, sambil menikmati hidangan makan, pengunjung dimanjakan dengan pemandangan bukit di sekitarnya.

Saya coba mengunjungi salah satu tempat makan dan hanya memesan ayam goreng dan pete. Saya pikir harga pete tersebut adalah sama seperti pada umumnya. Paling mahal mungkin Rp. 5000. Saat itu, saya pesan 2 pete untuk digoreng. Bisakah Anda menebak berapa harga pete tersebut .? Hm.., harganya adalah Rp. 7000. Jadi, 2 papan adalah Rp. 14.000. Menurut saya, memang agak sedikit mahal.

Setelah menunggu beberapa saat, pesananpun tiba. Pramusaji menyediakan dua buah gelas dan dua buah mangkok, satu boboko yang terlihat nasi berwarna merah, satu tempat yang berisi lalapan (daun singkong, salad, dan mentimun), dan satu tempat yang dipakai untuk ayam bakarnya.

Tempat yang saya maksud tersebut adalah anyaman bambu yang berbentuk seperti piring. Ketika anda makan disana, tidak akan diberikan piring kecuali diminta. Semua makanan disimpan pada anyaman berbentuk piring tersebut yang beralaskan kertas nasi. Saya tidak tahu apa itu namanya. Apakah Anda tahu ?

Sekitar pukul 08.00, saya bergegas untuk pulang. Calon istri saya  menuju ke kasir menanyakan berapa tagihannya. Bisakah anda tebak berapa total semuanya ? saya hanya memakan makanan yang saya sebutkan diatas. Total semuanya adalah Rp. 32.000. Hm.., bagi saya adalah terlalu mahal.

Tetapi, saya merasa kagum dengan masyarakat disana. Mereka dapat memanfaatkan keadaan lingkungannya yang terdiri dari bukit-bukit menjadi daya tarik pengunjung. Meskipun makanannya menurut saya biasa saja, tetapi mereka sampai hari ini tidak kehilangan pengunjung. Anda penasaran, silahkan berkunjung kesana.

0 komentar:

Posting Komentar