Minggu, 15 Oktober 2023

Dianggap Menghina

 Sudah saja tulis di sini. Mungkin saja di sini aman di banding tempat lain. Misal di note hp atau google drive. Rawan dibaca orang. Dan mungkin nanti akan tersinggung.

Harusnya sih itu bukan urusan saya. Siapa suru baca tulisan saya? Siapa suru kepo-kepo tulisan saya? Bila ada yang tersinggung, harusnya sih saya tidak perlu memberikan klarifikasi. Toh itu tulisan hanya untuk diri saya sendiri. Bukan tujuan untuk disebar.

Bila tulisan saya dirasa menghina, seharusnya perlu dilihat dulu makna kata "menghina" itu seperti apa. Jangan asal tuduh.

Setahu saya menghina itu minimal harus ada dua orang atau lebih. Tidak mungkin ada penghinaan hanya untuk diri sendiri. Selalu ada orang lain yang menjadi objek hinaan.

Bentuk hinaan itu bisa bermacam-macam. Bentuk simbol, ucapan, gerakan atau raut wajah. Mungkin saja ada bentuk-bentuk yang lain. Mungkin itu menurut saya yang paling umum.

Saya menulis untuk diri sendiri. Untuk mengeluarkan segala yang ada dalam pikiran saya. Sama sekali bukan untuk disebar atau dipublikasikan. Saya ingin jiwa saya sehat. Tulisan saya anggap sebagai tempat curhat paling aman. Tulisan itu tidak akan bilang ke siapapun kecuali ada yang mencuri dan menyebarkannya. Jadi, saya percaya curhat dalam bentuk tulisan itu membantu menenangkan atau mengurangi gejola batin saya.

Saya punya pertanyaan bila ada orang yang tersinggung setelah mencuri dan membaca tulisan saya.

Bila saya punya unek-unek, umpatan, sekotor apapun itu, tapi saya sama sekali tidak saya ucapkan. Hanya disimpan di kepala saya.

"Anjing lu"

"Goblok banget ini orang"

"duh, kaya gini aja nggak becus. Tolol banget ini orang"

Misal ada umpatan-umpatan seperti itu di di kepala saya. 

Apakah saya menghina?

Saya sangat yakin bahwa saya tidak menghina sama sekali. Menghina itu harus diucapkan, diungkap, dituliskan dan disebarkan. Bila hanya ada dalam pikiran, itu tidak menghina. Bila hanya dalam tulisan dan tidak disebarkan, hanya untuk konsumi pribadi, sama sekali tidak menghina.